PEMIMPIN ADALAH PERISAI

Oleh: HAF Al Batawy
“Innamâ al-imâmu junnatun yuqâtalu min warâ`ihi wa yuttaqâ bihi fa in amara bitaqwallâhi wa ‘adala kâna lahu bidzâlika ajrun wa in ya`muru bi ghayrihi kâna ‘alayhi minhu (Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya)“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Yang dimaksud dengan al-imâm adalah khalifah. Sebab sebagaimana penjelasan imam an-Nawawi, sebutan al-imâm dan al-khalifah itu adalah metaradif (sinonim). Makna hadits ini bisa dipahami sebagai pujian atas keberadaan imam atau khalifah.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa imam adalah junnah (perisai) yakni seperti tirai/penutup karena menghalangi musuh menyerang kaum Muslim, menghalangi sabagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam dan orang-orang berlindung kepadanya. Adapun menurut al-Qurthubiy maknanya adalah masyarakat berpegang kepada pendapat dan pandangannya dalam perkara-perkara agung dan kejadian-kejadian berbahaya dan tidak melangkahi pendapatnya serta tidak bertindak sendiri tanpa perintahnya.

Hadits ini juga memberikan makna bahwa keberadaan seorang al-imâm atau khalifah itu akan menjadikan umat Islam memiliki junnah atau perisai yang melindungi umat Islam dari berbagai marabahaya, keburukan, kemudaratan, kezaliman, dan sejenisnya.
Itulah salah satu fungsi seorang pemimpin dalam Islam,  dia harus mampu melindungi warganya dengan sistim yang benar.  Seorang warga akan terjamin keamanannya bahkan juga kesejahteraannya.  Negara selalu hadir untuk warganya dalam kondisi apapun baik itu kondisi aman atau juga kondisi tidak aman.

Pada umumnya pemimpin itu idealnya harus mampu menjadi tameng untuk keselamatan warganya. Negara harus hadir bagi warganya ketika warganya membutuhkan,  baik itu keamanan atau juga kesejahteraan.  Termasuk di negeri ini  UUD 45 mengatur dengan jelas bahwa warga negara harus mendapatkan perlindungan dari negara

Dalam pasal 28G ayat 1  yang berbunyi, “Setiap warga negara berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan martabat dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi”.


Mari kita fokus sejenak tentang apa yang terjadi di wamena,  kabupaten Jayawijaya Papua. Sebuah peristiwa yang sangat memilukan dan menciderai kemanusiaan. Gelombang demonstrasi melanda Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (23/9/2019). Demonstrasi ini berujung rusuh dan menjurus ke isu SARA. Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat. Terjadi eksodus besar-besaran, tercatat sebanyak  2.589 jiwa melakukan eksodus keluar dari Wamena . Tercatat banyak bangunan terbakar, 33 orang tewas, 10.000 orang mengungsi, pengungsi tersebar di beberapa titik dan sebagian ada yang diterbangkan keluar wilayah Wamena dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.

Kekuasaan yang berdaulat di NKRI ini dan UUD 45 telah mengamanatkan untuk selalu melindungi diri pribadi,  keluarga , kehormatan martabat dan harta benda.  Tapi apa fakta yang kita lihat di Wamena?  Kehormatan warganya serta jiwa direnggut dengan cara yang amat keji dan negara seakan tidak berdaya menghadapi itu semua.  APA YANG SALAH?

Coba kita bandingkan dengan peristiwa di zaman khalifah Mu’tashim billah ketika beliau menyambut seruan seorang wanita ketika meminta perlindungan.  Dahulu, di masa keemasan Islam, ada seorang teladan abadi sepanjang masa. Dia adalah khalifah al-Mu’tasim, Kisah heroik Al-Mu’tashim dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah, yang disebut dengan Penaklukan kota Ammuriah. Pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang konon berasal dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar. yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkanke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.

Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah dengan lafadz yang legendaris yang terus terngiang dalam telinga seorang muslim: “waa Mu’tashimaah!” (di mana engkau wahai Mutashim… Tolonglah aku!) Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah.

Catatan sejarah menyatakan di bulan April, 833 Masehi, kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi. Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan kepada Muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi. Setelah menduduki kota tersebut, khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan dimana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengannya ia mengucapkan “Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?”. Dan sang budak wanita inipun dimerdekakan oleh khalifah serta orang romawi yang melecehkannya dijadikan budak bagi wanita tersebut.


Satu orang warganya yang dilecehkan, sang Khalifah mengerahkan puluhan ribu tentaranya untuk menyelamatkan jiwa warganya. Namun hari ini ratusan warga pendatang baik muslim atau yang kafir mendapatkan penghinaan dan pelecehan bahkan pembantaian di Wamena tidak mendapatkan perlindungan dari pemimpin negeri ini.  Atau bahkan terkesan penguasa di negeri ini tidak punya kemampuan untuk melindungi warganya.

Wahai para pemimpin negeri ini belajarlah dari Khalifah Mu’tashim billah,  bukalah hati,  telinga dan mata kalian untuk menerima sistim Islam yang Indah ini. Hilangkan buruk sangka dan rasa takut terhadap sistim Islam. Karena sejarah telah membuktikan hanya sistim Islam yang telah membuktikan selalu menjaga warganya,  baik harkat martabat,  harta bahkan jiwanya.

Wallahu a’lam bishowab


oleh : Ust. HAF Al Batawy

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.