KENAPA HARUS ADA FATWA HARAM GOLPUT?

by 19.06





أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُو

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Qs Al baqarah: 85)


[THORIQUNA.ID],- Sekedar mengingatkan kepada seluruh tokoh agama,  khususnya tokoh - tokoh umat Islam,  bahwa pilpres yang sebentar lagi berlangsung di negeri ini bukan persoalan agama.  Hampir semua para politikus yang juga beragama Islam mengatakan jangan bawa - bawa agama dalam politik.

Inilah ideologi sekularisme yang memang beraqidah memisahkan dunia dengan akhirat. Dan pendapat ini diaminkan oleh mayoritas penduduk di negeri ini.  Sehingga banyak bertebaran pendapat yang mengatakan jangan bawa - bawa agama dalam politik. Jangan ada politik identitas yang ada adalah warna politik yang sama yaitu warna nasionalisme.  Orang bertarung dalam alam demokrasi dengan kekuatan yang berbeda tapi dengan misi yang sama yaitu mensukseskan jalan suci demokrasi,  itu yang diyakini kaum sekularisme.

Pendapat saya,  sangat tidak tepat kalau kemudian ada fatwa atau apapun namanya yang membawa - bawa agama,  soal hukum memilih atau tidak memilih (golput).  Tidak boleh ada hukum halal dan haram soal pilpres. Kembalikan semua kepada hukum demokrasi itu,  yaitu orang bebas untuk memilih atau tidak memilih.  Belajarlah jujur dengan pendirian.

Janganlah kita mencampakkan agama dalam suatu kepentingan dan kita ambil dalam kepentingan yang lain. Wahai umat Rasulullah saw jangan meniru ahlul kitab,  yang selalu mengambil  sebagian isi kitab yang menguntungkan dirinya dan mencampakkan sebagian isi kitab yang menurut hawa nafsunya merugikan dirinya.


Pembina LPPDI THORIQUNA
UHAF

Serangan Di New Zeland Bukti Orang Kafir Senantiasa Memerangi Kaum Muslimin

by 16.40

THORIQUNA.ID (18/03/2019)- Serangan di New Zeland, adalah bukti bahwa orang kafir selalu berusaha pada setiap kesempatan untuk memerangi kaum muslimin dimanapun mereka berada. Pernyataan tersebut disampaikan pembina LPPDI Thoriquna setelah menggelar shalat ghaib untuk korban tewas akibat serangan teror yang menargetkan dua Masjid
New Zeland.

Ustadz Haris Amir Falah menegaskan sudah saatnya dunia melihat bahwa sebetulnya terorisme itu bukan ajaran Islam. Semua orang menurutnya, tanpa memandang agama bisa terpapar dengan radikalisme.

"Bukan seperti apa yang sekarang didengung-dengungkan hanya kepada kaum muslimin," tegasnya.

Lebih lanjut ust Haris Amir Falah  mengatakan, sudah saat kecurigaan terhadap masjid, Islam, dan kaum muslimin dihilangkan.

"Sudah saatnya tempat peribadatan agama lain diawasi, karena sangat mungkin mereka melakukan kegiatan terorisme, tindakan terorisme di Selandia Baru adalah contoh riilnya, terangnya.

Beliau juga berpesan kepada kaum muslimin untuk berhati-hati, siap siaga dan menjaga persatuan, agar tidak menjadi mangsa kaum Kafirin yang mereka sangat haus darah akan kaum muslimin.





Baratlah Paling Bertanggung Jawab (New Zealand Black Friday)

by 01.59

Thoriquna.id (15/03/2019)- Kaum muslimin dikejutkan oleh sebuah peristiwa tragis di hari jumat yang mulia. Penembakan di dua masjid di Selandia Baru terjadi saat menjelang sholat Jumat waktu setempat.

Pelaku dengan sengaja melakukan siaran live di akun media sosial menunjukkan bahwa dia melakukannya dengan penuh kesadaran. Bahkan terlihat bagaimana sejumlah senjata dia persiapkan untuk melakukan aksinya.

Sudah jelas ini adalah tindakan terorisme, selain membunuh ditempat ibadah yang memang sedang melakukan ritual ibadah, mereka juga memancarkan siaran langsung aksi brutalnya untuk memberikan pesan. Jelas ini adalah sikap dan tindakan terorisme. Tindakan yang sangat kental dengan aroma kebencian yang didasari oleh sikap Islamophobia.

Barat adalah pihak yang paling bertanggungjawab dalam hal ini dengan segala narasi fitnahnya kepada Islam dan ummat Islam.  Hal ini kembali menjadi sebuah pertanda bahwa terorisme bukanlah berasal dari Islam.

Harus dibedakan mana sebuah sikap dan tindakan pembelaan diri dari penjajahan modern ala barat dengan terminologi teroris dan radikalnya terhadap negeri-negeri kaum muslimin.

Baratlah yang membangkitkan narasi kebencian dengan dalih humanisme dan hak asasi, namun hakikatnya penindasan terhadap kaum muslimin. Terminologi ini harus dilawan agar dunia Islam tidak terus menerus disematkan pada Islam.

Kita turut berduka kepada para korban penembakan di Selandia Baru, semoga Allah mengampuni dosa mereka bahkan memberikan pahala syahid. Aamiin.

Kita juga harus mengecam dan berharap pihak pemerintah Selandia Baru dapat memproses hukum kepada pelakunya dengan tidak menyakiti hati ummat Islam yang marah terhadap kejadian ini.

Kepada kaum muslimin hendaknya ini jadi penegur kita bahwa orang-orang kafir itu hakikatnya menyimpan kebencian terhadap kita karena keimanan kita. Dan sebagaimana dalam QS Al-Baqarah (2): 104 kita juga harus bersiap dalam perang terminologi yang menhinakan syariat Islam yang mulia ini.

Bolehkah Menyimpan Kebenaran Demi Menolak Mudhorot?

by 20.36

Dari Mu’aadz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ، يُقَالُ لَهُ: عُفَيْرٌ، فَقَالَ: ” يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟، قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ، قَالَ: لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا “
Aku pernah dibonceng Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam di atas keledainya yang bernama ‘Ufair. Beliau bersabda : “Wahai Mu’adz, apakah engkau mengetahui hak Allah terhadap hamba-Nya dan hak hamba terhadap Allah ?”. Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah terhadap hamba-hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun. Dan hak hamba-hamba terhadap Allah adalah bahwa Allah tidak mengadzab orang yang tidak menyekutukanNya sedikitpun”. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, tidakkah aku sampaikan kabar gembira ini kepada manusia?”. Beliau menjawab : “Jangan engkau sampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri ” [Diriwayatkan oleh Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30].
Dalam memahami hadits diatas maka ulama mengambil kaidah
جواز كتمان العلم للمصلحة
Diperbolehkannya menyembunyikan ilmu dalam rangka maslahat
وقال عَلِيٌّ:حَدِّثوا الناسَ، بما يَعْرِفونَ أتُحِبُّونَ أنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسولُهُ .
Berkata Ali ra : berkatalah kepada manusia apa yang mereka ketahui, apakah kamu suka mereka mendustakan Allah dan rasulNya (karena berkata apa yang tidak diketahui oleh akal mereka) (Shahih Bukhari no 127)
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ ، قَالَ : ” مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ ؛ إِلا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ ” . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِي خُطْبَةِ الْكِتَابِ
Dari Abdullah bin Mas’ud berkata : Tidak anda berbicara dengan suatu kaum sebuah pembicaraan yang tidak bisa dipahami oleh akal mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian dari mereka (muqodimah shahih muslim)
Para ulama membedakan mana perkara yang harus disampaikan terlebih dahulu dan mana perkara yang apabila disampaikan akan menimbulkan mudharat. Hal ini dilakukan dengan menimbang kemampuan daya serap ummat terhadap perkara yang disampaikan.
حفظتُ من رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وعاءَيْنِ : فأما أحدُهما فَبَثَثْتُهُ، وأما الآخَرُ فلو بَثَثْتُهُ قُطِعَ هذا البُلْعومُ .
Aku menghapal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dua bejana (ilmu). Salah satunya aku sebarkan. Adapun bejana yang lain, seandainya aku sebarkan, niscaya tenggorokan ini terputus” [Riwayat Bukhari no 120)
Dalam menerangkan hadits ini Ibnu Hajar mengatakan :
Para ulama membawa pemahaman tentang bejana (ilmu) yang tidak disebarkan adalah hadits-hadits yang berisi nama-nama pemimpin yang jelek, keadaan mereka, serta jaman pemerintahan mereka. Dan sesungguhnya Abu Hurairah telah menyebutkun-yah-yah-yah-yah-yah-kunyah sebagiannya tanpa menjelaskan namanya karena khawatir terhadap dirinya dari tindakan mereka. Hal ini seperti perkataannya: ‘Aku berlindung pada Allah dari permulaan tahun 60 H dan kepemimpinan anak-anak’ – dimana ia mengisyaratkan hal itu pada pemerintahan Yaziid bin Mu’aawiyyah yang berjalan pada tahun 60 H. Dan Allah telah mengabulkan doa Abu Hurairah. Ia meninggal setahun sebelumnya (59 H)” [Fathul-Bari 1/216].
Hal diatas berlaku pada perkara-perkara yang bila disampaikan maka akan menimbulkan kemudharatan diantara ummat maka diperbolehkan untuk tidak menyampaikannya.
Bagaimana pada perkara yang sudah jelas keharamannya?
Ada kaidah sebagai berikut :
مَا حُرِّمَ مُطْلَقًا لَمْ تُبِحْهُ الضَّرُوْرَةُ، وَمَا حُرِّمَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ لَمْ يُبَحْ إِلاَّ لِضَرُوْرَةٍ، وَمَا حُرِّمَ مُبَاشَرَتُهُ ظَاهِرًا أَبِيْحَ لِلْحَاجَةِ
Sesuatu yang diharamkan secara mutlak maka tidak ada yang dapat membolehkannya sekalipun darurat. Sesuatu yang haram untuk dimakan atau diminum maka darurat dapat merubah hukumnya menjadi boleh. Sesuatu yang dilarang untuk dipakai langsung maka hajat dapat membolehkannya
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji (zina), baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allâh dengan sesuatu yang Allâh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui.” [al-A’raf/7:33]
Empat yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam ayat ini tidak akan berubah hukumnya menjadi “boleh” dalam kondisi apapun karena mafsadatnya murni, yaitu; zina, zhalim, syirik dan mengada-ada atas nama Allâh Azza wa Jalla
Lalu bagaimana pada perkara yang masih menjadi syubhat bagi sebagian orang?
Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu Fatawa 3/286 menjelaskan bahwa seseorang yang berada di sebuah komunitas Muslim wajib melakukan shalat Jumat, ikut shalat berjamaah bersama mereka, loyal kepada mereka dan tidak memusuhi mereka sekalipun dia tidak menyetujui bidah atau perbuatan maksiat yang mereka lakukan. Dan sebaiknya dia diam jika tidak mampu menjelaskannya kepada mereka.
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari
[Surat An-Nahl 125]
jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
Ibnu Taimiyah berkata
لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ الْخَيْرَ مِنْ الشَّرِّ وَإِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْنِ
Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yg cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.

Wallahua’lam
Diberdayakan oleh Blogger.