PENYAKIT MENULAR IBLIS

by 21.09

Thoriquna.id - Kita sudah tahu bagaimana bahaya dari sebuah kesombongan, Al Kibru, yaitu dimana sebuah penyakit yang awalnya dari iblis Laknatullah alaihi kemudian bisa menular pada manusia, di mana iblis ketika di perintah oleh Allah SWT untuk tunduk menghormati Adam alaihi salam tetapi iblis menunjukan kesombonganya.


Bahkan iblis mengatakan :

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ...

"...Saya lebih terhormat dari Adam, Saya di ciptakan dari api sementara Adam dari tanah."
(Al-A’raf-12)

Ini adalah awal dari sebuah kesombongan, Jika menular pada manusia maka manusia akan menjadi orang yang sombong.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu."
(HR. Muslim)

Allah SWT berfirman:


سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ وَاِ نْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَا ۚ وَاِ نْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۚ وَّاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَا نُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ

"Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya."

(QS. Al-A'raf 7: Ayat 146)


Jadi jelas bahwa orang yang sombong itu tidak akan mendapat hidayah dari Alllah SWT
- Mereka akan di palingkan dari ayat Allah
- Mereka tidak Akan mengerti tentang ayat Allah
- Mereka tidak akan mau mengimani ayat Allah


Inilah orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi, kemudian di ayat itu di katakan

وَاِ نْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْ

Diperlihatkan, Dibacakan, Di jelaskan, tentang ayat Allah SWT tapi orang yang ada sombong dihatinya mengatakan "La yuminu biha",  Mereka tidak akan pernah mengimani ayat-ayat Allah itu.

Jadi orang yang sombong itu akan di jauhkan dari kebenaran, karena orang yang sombong itu "Batarul haq", Menolak sebuah kebenaran.


Kemudian dalam ayat ini juga dikatakan

وَاِ نْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا

Jika di tunjukan Jalan yang haq mereka tidak mau mengikuti Jalan itu.


Saudara-saudaraku, betapa banyak orang yang ketika di tunjuki jalan islam mereka tolak, Tapi ketika di tunjuki jalan kekufuran mereka mengambilnya. Dan ini adalah akibat dari sebuah kesombongan. Sehingga mereka tidak mau mengambil jalan yang benar. Tapi justru mengambil jalan yang salah.

Kemudian di lanjutkan dalam ayat ini

 وَّاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ

Jika ditunjuki jalan kesesatan

يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا

Dan mereka cepat-cepat mengambil jalan itu


Inilah orang-orang yang memiliki sifat sombong, Orang-orang yang tertular penyakit dari iblis, Sehingga di jauhi dari ayat-ayat Allah, mereka tidak akan beriman dengan ayat-ayat Allah, mereka tidak akan mengambil islam sebagai pegangan hidupnya, Tapi mereka sangat ridlo dan rela mengambil selain dari pada jalan islam.

Semoga kita di jauhi dari sifat sombong dan kita menjadi orang yang sangat peka terhadap jalan kebenaran.Kita ikuti jalan kebenaran dan kita jauhi jalan-jalan kesesatan.


Barakallahi wa lakum..



oleh : Ust. HAF Al Batawy

DUA KONDISI ORANG YANG BERIMAN

by 04.49

THORIQUNA.ID - Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallaahu 'alaihi wa salam, kepada keluarganya, Sahabatnya dan kepada kita semua yang selalu senantiasa mengikuti ajarannya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu :

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”(HR Muslim)

Dalam hadits tersebut dikatakan bahwasanya seorang mukmin itu, di liputi oleh dua keadaan

1. Jika dia mendapat kenikmatan atau kesenangan dia bersyukur

2. Jika di timpa keburukan atau kesusahan dia bersabar

Allah SWT berfirman dalam surat luqman ayat 31

اَلَمْ تَرَ اَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللّٰهِ لِيُرِيَكُمْ مِّنْ اٰيٰتِهٖ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّـكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur."
(QS. Luqman 31: Ayat 31)

Pada hakikatnya bersyukur itu untuk diri kita sendiri.Dan begitu juga apabila tidak bersyukur atau kufur itu juga untuk diri kita sendiri Sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam surat luqman ayat 12

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗ وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِ نَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِ نَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

"Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji."
(QS. Luqman 31: Ayat 12)

Adapun bersabar bukan sekedar bersabar saja, tapi juga harus diperkuat kesabarannya.

Allah SWT berfirman

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَا بِرُوْا وَرَا بِطُوْا ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 200)

Demikianlah,semoga kita semua di jadikan oleh Allah SWT.Menjadi hamba yang pandai bersyukur dan bersabar....

Allahu alam.


oleh : Ust. HAF Al Batawy

Penyebab hilangnya kenyamanan suatu Negri

by 01.04

THORIQUNA.ID - Masih ingat dengan lagunya Koes Plus yang dimana menyanjung tentang negri ini.??
Dalam syair lagunya Koes Plus mengatakan  " Bukan lautan tapi kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman",  Begitu sangat besar dan indahnya melihat negri ini, Bahkan kita tau ada semboyan yang menyebut negri ini dengan kalimat " GEMAH RIPAH LOH JINAWI TENTREM KERTO RAHARJO".

Negri ini adalah negri yang begitu indah, damai, tentrem.. LUAR BIASA..  Itulah lukisan tentang Negri Republik Indonesia. Akan tetapi kalau kita lihat kenyataanya hari ini, di mana seakan-akan keamanan itu telah tiada lagi. Banyak orang yang ketakutan tinggal di negri ini.

Kemudian juga pohon-pohon banyak yang menjadi mati. bahkan tongkat dan kayu bukan lagi menjadi tanaman, tapi tanaman yang menjadi kayu, kebakaran hutan dan sebagainya. Kenapa kemudian terjadi perubahan yang sangat besar sekali, kalau mau kita katakan dan kita bandingkan Indonesia di masa lalu dengan sekarang, apa penyebabnya..??

Apakah sekarang Indonesia dihuni oleh orang-orang yang bodoh?? orang-orang yang tidak mengerti mengelola negri ini.?? Tentunya tidak.. kita lihat orang-orang pintar semakin bertambah, negri ini di kelola oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup, kalau begitu apa penyebabnya.??

Kita bisa membaca dalam satu firman Allah SWT dalam surat an nahl ayat 112
Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَا نَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَا نٍ فَكَفَرَتْ بِاَ نْعُمِ اللّٰهِ فَاَ ذَا قَهَا اللّٰهُ لِبَا سَ الْجُـوْعِ وَا لْخَـوْفِ بِمَا كَا نُوْا يَصْنَعُوْنَ

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 112)

Allah membuat satu perumpamaan, Perumpamaan apa..??

Perumpamaan sebuah قَرْيَةً,  Perumpamaan sebuah negri, di mana negri ini dahulunya merupakan Negri yang sangat indah, yang rizkinya datang dari berbagai tempat, yang warganya hidup tentram dan aman.

Akan tetapi Allah SWT mengatakan

" Mereka kufur dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat".


Saudaraku yang insyaa Allah di muliakan oleh Allah SWT, kita temukan jawaban dalam Al Qur'an, dimana saja, termasuk di negri kita, dimana terdapat perubahan yang drastis, yang dahulu aman kemudian jadi tidak aman, yang dahulunya sejahtera kemudian tidak menjadi sejahtera, yang dahulunya warganya terjaga keamananya jadi tidak terjaga keamanannya.

Ada satu penyebabnya, sebabnya karena penduduk negri ini banyak yang kufur kepada nikmat Allah, mereka tidak lagi mensyukuri nikmat Allah, baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk nilai yaitu nikmat IMAN DAN ISLAM.

Banyak orang yang sudah melupakan nikmat ini. Semoga kita di jadikan ABDAN SYAKURO, Hamba yang pandai bersyukur.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin.


oleh : Ust. HAF Al Batawy

AMANAH IBADAH

by 04.38

THORIQUNA.ID - Saudaraku yang Insyaa Allah di muliakan  Allah SWT. Berdasarkan surat Al Ahzab ayat 72 ada tiga amanah yang Allah tawarkan kepada manusia, yang sebelumnya di tawarkan kepada langit, bumi dan juga kepada gunung, mereka semua menolak amanah itu.

Yang pertama adalah amanah beribadah pada Allah SWT, sebagaimana yang Allah jelaskan pada surat Az-Zariyat ayat 56 :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)


Inilah amanah yang pertama dan yang utama. Menjadi hamba Allah, beribadah kepada Allah SWT, disetiap saat di setiap detik kehidupan. Apapun yang di lakukan harus bernilai ibadah disisi Allah SWT, agar dia tergolong orang-orang yang menjalankan amanah itu.

Apa yang harus di lakukan atau syarat apa yang harus di penuhi agar hidup dan kehidupan manusia bernilai ibadah, dan kemudian dia termasuk orang yang menjalankan amanah Allah SWT.??
Ada tiga syarat yang harus di penuhi.

Pertama Menata motivasi kehidupannya. MOTIVASI  yang benar adalah Motivasi karena Allah SWT terhadap apapun yang di lakukanya. Sebagaimana yang di jelaskan dalam Al Quran

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ 

"Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,"
(QS. Al-An'am 6: Ayat 162)


Jadi, syarat pertama yang harus di penuhi seorang mukmin agar dia termasuk orang yang menjalankan amanah Allah SWT adalah MOTIVASI.

Dengan melakukan motivasi yang benar karna Allah SWT, baik ibadah maghdah, termasuk shalat, Puasa atau yang lainya, aktivitas dalam bekerja, dan dalam melaksakan aktivitas yang lain harus karna Allah, tidak karena yang lain. Itu adalah syarat yang pertama.


Kemudian syarat yang kedua adalah APLIKASI

Aplikasi pelaksanaanya harus benar, yaitu pelaksanaanya yang sesuai dengan apa yang di contohkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam. Sebagaima yang Allah sebutkan dalam surat Al Ahzab ayat 21

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ 

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)


Jadi disamping motivasi yang benar karna Allah SWT dalam menata hidup dan kehidupanya, yang kedua adalah pelaksanaan dalam hidup kehidupanya, apapun yang di lakukanya bersungguh-sungguh untuk mencontoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam.


Dan yang ketiga adalah ORIENTASI

Orientasi yang tidak lain dan tidak bukan adalah mencari kebahagian negri akhirat. Sebagaimana Allah tegaskan dalam surat Al Qashas : 77


وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)


Barakallahi wa lakum..



oleh : Ust. HAF Al Batawy

INDAHNYA KALIMAT TAUHID

by 18.39


Allah SWT berfirman:


اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَا بِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَآءِ ۙ 

"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,"

(QS. Ibrahim 14: Ayat 24)


Begitu sangat indah Allah SWT memperumpamakan kalimat tayyibah.Kalimat yang baik, yang dimaksud kalimat tayyibah disini tidak lain dan tidak bukan adalah kalimat tauhid, Kalimat la ilaha ilallah... Kalimat la ilaha ilallah ini dimana kita yang in syaa Allah sebagai orang yang beriman

ALAIHA NAHYA,hidup kotmitmen diatas kalimat ini

WA ALAIHA NAHMUT, dan kita juga berusaha menpertahankan kalimat ini sampai bertemu Allah SWT.

Dan kita berdoa pada Allah SWT, Kita bersama kalimat tauhid, kalimat la ilaha ilallah hingga kita di bangkitkan di yaumil akhir.


Saudara-saudaku,

Yang in syaa Allah di muliakan oleh Allah SWT. Kalimat ini begitu amat indah, Kalimat yang memberi kesejahteraan di muka bumi ini, Dan menyelamatkan kita di akhirat. Dan orang yang bersamanya nanti dia akan masuk ke syurgaNya Allah SWT bersama kalimatu tauhid. Bahkan di dalam qur'an di katakan kalimat tauhid ini adalah kalimat taqwa,yaitu kalimat ketaqwaan.Dan ketika orang terikat dengan kalimat tauhid


=> Dia belajar benar dengan kalimat tauhid

=> Dia mengilmui kalimat tauhid

=> Kemudian melahirkan suatu sikap tauhid yang benar

Maka pasti dengan kalimat tauhid itu dia akan menjadi  orang yang taqwa.


Dan ketika menjadi orang yang taqwa atau masyarakat yang terikat dengan nilai-nilai taqwa.Pasti akan sejahtera hidup dan kehidupanya di muka bumi ini. Allah SWT berfirman di dalam surat al araf ayat 96


وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)


 لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ

Dibukakanya barakah,.. ada ziyaddah khair... Kebaikan-kebaikan di limpahkan pada sebuah negri, Bukan karena pintarnya orang mengelola negri ini, tapi karena ketaqwaan mereka. Dengan ketaqwaannya Allah bukakan pintu barakah. Pintu barakah dari langit. Pintu barakah juga di tumbuhkan atau di bukakan di muka bumi. Maka kemudian manusia-manusia yang terikat dengan kalimat tauhid menjadi orang yang taqwa jaminan Allah SWT. Dan dia akan sejahtera, di akhirat dia akan mendapat jannahNya Allah SWT.


Wal hamdulillahi rabbil alamin.


oleh : Ust. HAF Al Batawy


PEMIMPIN ADALAH PERISAI

by 22.49
Oleh: HAF Al Batawy
“Innamâ al-imâmu junnatun yuqâtalu min warâ`ihi wa yuttaqâ bihi fa in amara bitaqwallâhi wa ‘adala kâna lahu bidzâlika ajrun wa in ya`muru bi ghayrihi kâna ‘alayhi minhu (Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya)“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Yang dimaksud dengan al-imâm adalah khalifah. Sebab sebagaimana penjelasan imam an-Nawawi, sebutan al-imâm dan al-khalifah itu adalah metaradif (sinonim). Makna hadits ini bisa dipahami sebagai pujian atas keberadaan imam atau khalifah.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa imam adalah junnah (perisai) yakni seperti tirai/penutup karena menghalangi musuh menyerang kaum Muslim, menghalangi sabagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam dan orang-orang berlindung kepadanya. Adapun menurut al-Qurthubiy maknanya adalah masyarakat berpegang kepada pendapat dan pandangannya dalam perkara-perkara agung dan kejadian-kejadian berbahaya dan tidak melangkahi pendapatnya serta tidak bertindak sendiri tanpa perintahnya.

Hadits ini juga memberikan makna bahwa keberadaan seorang al-imâm atau khalifah itu akan menjadikan umat Islam memiliki junnah atau perisai yang melindungi umat Islam dari berbagai marabahaya, keburukan, kemudaratan, kezaliman, dan sejenisnya.
Itulah salah satu fungsi seorang pemimpin dalam Islam,  dia harus mampu melindungi warganya dengan sistim yang benar.  Seorang warga akan terjamin keamanannya bahkan juga kesejahteraannya.  Negara selalu hadir untuk warganya dalam kondisi apapun baik itu kondisi aman atau juga kondisi tidak aman.

Pada umumnya pemimpin itu idealnya harus mampu menjadi tameng untuk keselamatan warganya. Negara harus hadir bagi warganya ketika warganya membutuhkan,  baik itu keamanan atau juga kesejahteraan.  Termasuk di negeri ini  UUD 45 mengatur dengan jelas bahwa warga negara harus mendapatkan perlindungan dari negara

Dalam pasal 28G ayat 1  yang berbunyi, “Setiap warga negara berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan martabat dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi”.


Mari kita fokus sejenak tentang apa yang terjadi di wamena,  kabupaten Jayawijaya Papua. Sebuah peristiwa yang sangat memilukan dan menciderai kemanusiaan. Gelombang demonstrasi melanda Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (23/9/2019). Demonstrasi ini berujung rusuh dan menjurus ke isu SARA. Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat. Terjadi eksodus besar-besaran, tercatat sebanyak  2.589 jiwa melakukan eksodus keluar dari Wamena . Tercatat banyak bangunan terbakar, 33 orang tewas, 10.000 orang mengungsi, pengungsi tersebar di beberapa titik dan sebagian ada yang diterbangkan keluar wilayah Wamena dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.

Kekuasaan yang berdaulat di NKRI ini dan UUD 45 telah mengamanatkan untuk selalu melindungi diri pribadi,  keluarga , kehormatan martabat dan harta benda.  Tapi apa fakta yang kita lihat di Wamena?  Kehormatan warganya serta jiwa direnggut dengan cara yang amat keji dan negara seakan tidak berdaya menghadapi itu semua.  APA YANG SALAH?

Coba kita bandingkan dengan peristiwa di zaman khalifah Mu’tashim billah ketika beliau menyambut seruan seorang wanita ketika meminta perlindungan.  Dahulu, di masa keemasan Islam, ada seorang teladan abadi sepanjang masa. Dia adalah khalifah al-Mu’tasim, Kisah heroik Al-Mu’tashim dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah, yang disebut dengan Penaklukan kota Ammuriah. Pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang konon berasal dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar. yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkanke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.

Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah dengan lafadz yang legendaris yang terus terngiang dalam telinga seorang muslim: “waa Mu’tashimaah!” (di mana engkau wahai Mutashim… Tolonglah aku!) Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah.

Catatan sejarah menyatakan di bulan April, 833 Masehi, kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi. Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan kepada Muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi. Setelah menduduki kota tersebut, khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan dimana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengannya ia mengucapkan “Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?”. Dan sang budak wanita inipun dimerdekakan oleh khalifah serta orang romawi yang melecehkannya dijadikan budak bagi wanita tersebut.


Satu orang warganya yang dilecehkan, sang Khalifah mengerahkan puluhan ribu tentaranya untuk menyelamatkan jiwa warganya. Namun hari ini ratusan warga pendatang baik muslim atau yang kafir mendapatkan penghinaan dan pelecehan bahkan pembantaian di Wamena tidak mendapatkan perlindungan dari pemimpin negeri ini.  Atau bahkan terkesan penguasa di negeri ini tidak punya kemampuan untuk melindungi warganya.

Wahai para pemimpin negeri ini belajarlah dari Khalifah Mu’tashim billah,  bukalah hati,  telinga dan mata kalian untuk menerima sistim Islam yang Indah ini. Hilangkan buruk sangka dan rasa takut terhadap sistim Islam. Karena sejarah telah membuktikan hanya sistim Islam yang telah membuktikan selalu menjaga warganya,  baik harkat martabat,  harta bahkan jiwanya.

Wallahu a’lam bishowab


oleh : Ust. HAF Al Batawy

Keseimbangan Didalam Islam

by 02.24


Allah SWT berfirman:

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)

Didalam Qs Al Qasas ayat ke 77 ini, ada 3 point penting yang harus kita perhatikan, yang Pertama adalah dimana Alloh SWT memerintahkan kepada kita untuk mencari perbekalan akhirat.

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Kita diperintahkan  mencari perbekalan untuk akhirat dengan tidak melupakan nasib kita didunia ini. Inilah salah satu bentuk wasathiyahnya ajaran Islam, bentuk keadilan ajaran Islam, dimana ketika kita diperintahkan untuk mencari sebanyak-banyaknya perbekalan negeri akhirat tapi bukan berarti kita harus melupakan kehidupan didunia, kita harus memperhatikan kehidupan kita didunia ini. Artinya sungguh sangat adil ajaran Islam ini.

Hal-hal yang memang harus banyak kita ambil dan kita persiapkan perbekalannya maka kita diperintahkan untuk memberikan prioritas terhadap hal tersebut dengan tidak melupakan hal yang lainnya.

Dan kemudian yang Kedua, Alloh SWT menjelaskan didalam ayat ini

وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ

"Berbuat baiklah kalian kepada seluruh makhluk yang berada dimuka bumi ini sebagaimana Alloh SWT berbuat baik kepada kalian."

Saudara-saudara ku sekalian, ayat ini kalau kita lihat dari perintah Alloh SWT dimana kita disuruh berbuat baik sebagaimana Alloh SWT berbuat baik kepada kita adalah bentuk implementasi praktikal perintah Alloh SWT kepada Muhammad Rosululloh SAW terhadap tugas yang Beliau SAW emban yang termaktub didalam Qs Al Anbiya, surah yang ke 21 ayat 107

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Dimana kita diperintahkan oleh Alloh SWT menebarkan rahmat dimuka bumi ini, menebarkan kasih sayang dimuka bumi ini.
Bahkan didalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :" Ar rohimuna yarhamuhumulloh ".
Orang-orang yang menyayangi apa-apa yang ada dibumi ini, maka Alloh SWT akan menyayanginya.
Kemudian Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :" Irhamu ahlal ardhi yarhamkum man fissama ".  Sayangilah apa yang ada dimuka bumi ini, maka yang dilangit akan menyayangi kalian.

Saudara-saudara ku sekalian..
Dari keterangan 2 ayat dan satu hadist yang dijelaskan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas, ini merupakan dorongan kepada kita semuanya kaum muslimin untuk selalu menebarkan kasih sayang, menebarkan rahmat kepada semua makhluk, terhadap manusia baik Muslim maupun bukan Muslim, terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Ayat ini memotivasi kita, mendorong kita untuk selalu berbuat baik. Karena dengan kita berbuat baik kepada seluruh makhluk dimuka bumi ini menjadi sebuah thoriqoh, menjadi sebuah jalan dimana Alloh SWT akan mengampuni dosa-dosa kita, sebagaimana seorang pendosa yang melihat anjing yang sedang kehausan, lalu dia memberikan minum anjing tersebut dan dengan perbuatan dia tersebut diampunkan dosanya oleh Alloh SWT.

Dan kemudian yang Terakhir didalam surah Al Qasas, Alloh SWT berpesan
Janganlah kalian berbuat kerusakan dimuka bumi, karena Alloh SWT tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Barakallahu li walakum.

oleh : UHAF

Islam adalah Agama yang penuh dengan kedamaian

by 18.04




Thoriquna.id - Islam itu adalah agama yang penuh dengan kedamaian, Dinnul silmi.
Agama yang menyeru kepada persatuan dan kesatuan.
Didalam firman Nya yang terdapat pada Qs Al Hujrat 49 : 13
Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."

Berlainan jenis, berlainan suku dan bangsa tetapi bukan untuk saling menindas, bukan saling  bermusuh-musuhan, tetapi Alloh SWT menyebutkan dengan kalimat lita'arofu.
Untuk saling kenal mengenal, untuk saling melindungi dan untuk menciptakan persatuan dan kesatuan.

Inilah ajaran Islam, ajaran yang sangat menganjurkan manusia untuk bersatu, khususnya kaum Muslimin untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan di internal orang-orang Islam.

Saudara sekalian...
Diayat yang lain Qs Ali 'Imron 3:103
Allah SWT berfirman:


وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّا رِ فَاَ نْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk."

Seruan yang sangat tegas didalam ayat ini, bahwa didalam mengamalkan ajaran Alloh SWT, kita diperintahkan untuk tetap bersatu. Menghindari segala bentuk perpecahan. Persatuan ini adalah bentuk dari nikmat Alloh SWT.

Didalam ayat ini, Alloh SWT mengingatkan kepada kaum Anshor yang berada di Madinah dengan kalimat :

وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ

Ingatlah kalian terhadap nikmat Alloh yang diberikan kepada kalian yang dahulunya kalian bermusuh-musuhan kemudian kalian menjadi bersaudara karena hati kalian ditaklukan dengan ajaran Islam.

Datangnya Islam ke kota Yatsrib, sebelum menjadi bernama Madinah, itu justru menghapus segala bentuk perpecahan. Sebelum kedatangan Islam, suku Aus dan suku Khadzroj yang  ada di Yatsrib selalu bertikai, tetapi dengan kedatangan Islam, mereka bersatu, mereka bersaudara.

Saudara ku sekalian,
Yang in syaa Alloh dimuliakan oleh Alloh SWT. Inilah sebetulnya sejatinya ajaran Islam bahwa Islam datang membawa kepada persatuan, bukan membawa kepada perpecahan.
Islam datang membawa kepada kedamaian, bukan menyeru kepada peperangan.

Setiap menusia yang tunduk kepada ajaran Islam dan hatinya takluk kepada ajaran Islam pasti akan tercipta kedamaian. Maka Islam itu memang agama yang membawa kepada kedamaian. Sepanjang orang menjalankan ajaran Islam, maka pasti akan tercipta kadamaian. Kedamaian di negaranya, bahkan kedamaian diseluruh dunia.


oleh :  Ust.HAF
Diberdayakan oleh Blogger.