PESAN PERLAWANAN




Munculnya perlawanan dari individu dan kelompok yang memperjuangkan tegaknya syariat Islam merupakan teguran bagi umat Islam, ulama dan penguasa negeri ini. Mereka mengusung eksistensi manusia sebagai sasaran Al-Qur’an. Saat ini umat Islam seharusnya berupaya keras menjadi objek sasaran Al-Qur ‘an seperti generasi pertama umat ini.

            Bukankah manusia sekarang sama dengan manusia sejak nabi Adam sampai umat Rasulullah saw., dalam hakikat dan fitrahnya ? Meskipun alam raya terjadi perubahan situasi dan kondisi tetapi manusia tidak akan pernah berubah menjadi makhluk lain atau makhluk modern utuk menyemarakkan bumi. Pemikiran ini yang menjadi inspirasi perlawanan.

            Dalam  garis yang berseberangan, kebanyakan umat Islam, ulama bahkan penguasa negeri ini, dalam sejarah perlawanan masa Rasulullah saw., persis orang -orang Arab Jahiliyah, yang beranggapan bahwa Al-Qur’an hanya kumpulan teks ciptaan manusia yang tidak bisa mendatangkan mukjizat.


Mereka menuntut kehadiran mukjizat materi seperti yang didemonstrasikan oleh para rasul sebelumnya. Inilah masa kekanak-kanakan kemanusiaan yang pernah dialami oleh orang-orang Jahiliyah. Bahkan lebih dari Jahiliyah, ulama dan penguasa negeri ini, karena atas pesanan dari musuh-musuh Allah (Yahudi-Nasrani), mereka mengganti dan mengacak-acak Al-Qur’an secara lantang.

            Orang-orang Arab Jahiliyah sangat menyanjung kepiawaian berekspresi (bersyair) dan saling membanggakan di “pasar-pasar” mereka. Bukankah kebanyakan tiga elemen ini (umat Islam, ulama, dan penguasa) lebih banyak menyanjung dan membanggakan produk musuh-musuh Allah dalam setiap aspek kehidupan. Ketiganya mengaku muslim, dengan tidak malu-malu bahkan merasa yakin membeli dagangan (=ajaran) musuh-musuh Allah dengan alasan tradisi turun temurun dari nenek moyang.

            Lihatlah produk yang sudah mereka pakai, seperti liberalisme, kapitalisme, pluralisme, humanisme, materialisme, demokrasi dan nasionalisme. Sikap tersebut yang menyulut api perlawanan dari sebagian kecil umat Islam di negeri ini, yang dijuluki oleh penguasa  Indonesia dengan teroris, radikal, atau fundamental.

            Tetapi beruntung Allah memberi peringatan kepada umat yang menolong agama-Nya, “ Dan orang-orang yang kafir berkata, “ janganlah kamu mendengarkan (bacaan)  Al-Quran ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Fushshilat: 26). Sampai kiamatpun tidak terbantahkan bahwa ada pesan perlawanan dari musuh-musuh Allah agar syariat Islam tidak tegak di bumi ini, Indonesia sekalipun.

Pesan Kedua

            Seharusnya penguasa negeri ini sadar, maraknya perlawanan dari kelompok pejuang Tauhid maupun kelompok pejuang liberalisme, egoisme, rasisme, tribalisme, primordialisme, dan aliran sesat yang di dalamnya termasuk Jama’ah Iblis Liberal (JIL). Indikasi bahwa ikatan nasionalisme atau Bhinneka Tunggal Ika ( berbeda tetapi satu) sedang dipertaruhkan.

            Mestinya umat Islam dan ulama “jangan pura-pura” tidak tahu karena mencari aman atau takut, bahwa ikatan nasionalisme merupakan senjata

pemusnah Aqidah dari musuh-musuh Allah dan musuh-musuh besar bangsa ini (Yahudi dan antek-anteknya).

            Mereka paham betul titik kekuatan Islam. mereka adalah kelompok yang dikatakan Allah sebagai, “orang-orang (Yahudi-Nasrani) yang telah Kami beri al-kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.” (Al-Baqarah: 146). Mereka tidak pernah lupa bahwa perkumpulan dengan asas aqidah menjadi rahasia kekuatan Islam. Ini pesan perlawanan musuh-musuh Allah.

            Senjata pemusnah tersebut memiliki peluru bernama “berhala”. Kadang mereka namakan tanah air, bangsa, ras, nasionalisme, tribalisme, materialisme, hedonisme, komunisme, serta kebebasan beragama. Isu terorisme, radikalisme, anti Pancasila, ekstrim kanan, pemberontak, pengacau keamanan, bagian dari gas beracun udara dan ranjau darat yang tengah disemai dalam jantung kehidupan umat Islam.

            Dari sekian ranjau, maka Ahmadiyah, aliran sesat, dan teroris adalah amunisi paling berbahaya karena dibungkus oleh selongsong peluru bernama kebebasan beragama, minoritas dan pengacau keamanan. Bukankah ini rambu-rambu Jahiliyah yang mejadi ikatan perlawanan bagi umat Islam wahai para pengikut “ilyasiq modern” dan ulama suu’ ?
           
            Berlawanan dengan itu, sesungguhnya ikatan umat Islam adalah Tauhid, yang bersumber dari Laa Ilaaha Illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah). Bandingkan dengan Bhineka Tunggal Ika !!! Mengapa kita tidak sadar, ketika Allah membuat berbagai perpumpamaan tentang hubungan  dan ikatan jahiliyah ? Bukankah dengan gamblang Al-Qur’an menjelaskan  perumpamaan yang terjadi antara anak dan bapak, seperti kisah Ibrahim dengan bapak, kaum, dan anak keturunannya ? Begitupun perumpamaan antara suami dan istri seperti kisah Nuh, Luth dan istri-istri mereka, atau antara istri Fir’aun dan Fir’aun ? Atau kisah para pemuda Ashabul Kahfi dengan keluarga, kaum, negeri dan tanah airnya.    
 
            Inilah contoh-contoh yang Allah berikan untuk umat manusia sebagai rambu-rambu jalan yang menunjukkan hakikat ikatan dan landasan berdirinya masyarakat muslim. Di sana berdiri dua ikatan yang berlawanan: ikatan keluarga, nasab, dan darah atau nasionalisme  yang dianut oleh kebanyakan   umat Islam, dengan ikatan akidah Islam yang dianut oleh sebagian kecil umat Islam (= pejuang tauhid). Mari kita saksikan, saat ini para pejuang tegaknya tauhid tengah menghadapi ujian dengan keluarganya, kaum, tanah air, tumpah darah, kampung halaman, harta benda, kepentingan, masa lalu, dan masa depannya.

            Mengapa terjadi ujian seperti itu ? Karena Islam tidak ingin membebaskan manusia dari berhala-berhala rasisme, nasionalisme, dan antek-anteknya. Atau membiarkan mereka berperang di bawah panji dan syiar berhala ini. Islam   hanya menyeru mereka supaya tunduk kepada Allah, tidak kepada sesuatupun dari makhluk-Nya ! Maka sepanjang sejarah   umat manusia, Akidah Islam / Tauhid mengelompokkan manusia dalam dua kubu: Mukmin ddan Kafir, pengikut rasul dan para penyembah thaghut.

            Inilah yang dimaksud ikatan menurut definisi dan yang diperkenalkan Allah kepada umat Islam yaitu Akidah Islam. Seperti yang difirmankan Allah, “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 92) Bukan ikatan nasionalisme Indonesia atau Bhinneka Tunggal Ika menurut definisi dan yang diperkenalkan manusianya.


Pesan Ketiga

            Apa yang kita saksikan di belahan benua berpenduduk muslim, merupakan sejarah panjang perlawanan musuh-musuh Allah (Yahudi-Nasrani) pasca Perang Salib. Pesan perlawanan kali ini melebihi peristiwa bom atom  Hirosima dan Nagasaki.

            Mari kita buka kembali pesan perlawanan mereka.  Fase Pertama, mereka memainkan startegi rezim boneka setelah runtuhnya khilafah Turki Usmani sampai sekarang. Tujuannya untuk memecah belah umat Islam dalam beberapa siklus: 1) mengerat dunia Islam menjadi Negara-negara kecil. 2) dengan penguasa yang tidak didukung rakyatnya sendiri. 3) rakyat yang lemah ekonomi. 4) potensi ekonomi ada tetapi tak punya kekuatan melindunginya. 5) kekuatan ada tetapi tidak punya sentimen agama. 6) punya agama tetapi tidak ada pengikutnya. 7) punya pengikut tetapi tidak punya tanah air. 8) punya tanah air tetapi tidak ada rakyatnya.

            Menurut Abu Mush’ab As-Suri, mereka mengerat umat Islam yang utuh menjadi kekuasaan-kekuasaan kecil yang dikendalikan para budak.2  Strategi ini ibarat membidik dua burung dengan sebutir batu. Potensi perlawanan rakyat terhadap penjajah akan padam karena secara lahir penjajah akan hengkang, tetapi gantinya akan tersulut perlawanan terhadap penguasa boneka tersebut.

            Hasilnya negara terpecah dalam dua kubu: pihak boneka melawan pihak rakyat yang memberontak. Perpecahan internal terpelihara, kelemahan tetap langgeng, dan penjajah menonton adegan ini dengan senyum puas.    Kepentingan mereka tidak terganggu, darah mereka aman, bahkan mereka bisa masuk seolah sebagai penengah internal.

            Dalam memerlakukan rezim boneka, menurut Hazim al-Madany, 3  negara super power dan sekutunya memiliki pendekatan berbeda. Dalam menjajah Maroko, Perancis menyiapkan penguasa boneka dan menanam orang di belakang layar yang akan mengendalikannya, sehingga rezim boneka sebagai pajangan. Sementara Inggris, dalam menjajah India, Brunei, Malaysia, Hongkong, bahkan dengan gaya “menitipkan” Jama’ah Ahmadiyah  di Indonesia, mengendalikan rezim boneka melalui pendekatan hukum ddan konstitusi yang sudah disiapkan sebelumnya agar sesuai visi dan misi penjajah. Mereka mengakomodasi hukum adat sepanjang tidak melakukan perlawanan terhadap penjajah.

            Siapapun yang melawan penjajah pasti membentur tembok konstitusi dan tumbang dengan sendirinya. Di sisi lain, Amerika dalam menginvasi Irak, Afganistan, atau dengan “menitipkan” Jama’ah Iblis Liberal (JIL) di Indonesia, selalu mengirimkan pasukan yang akan mengkudetanya dengan kasar  sesuai dengan arogansinya sebagai penguasa tunggal. Berbeda pula dengan Yahudi Israel, belakangan lebih suka membonceng Amerika karena nafsu mereka cepat tersalurkan dengan gaya cowboy Amerika.

Pesan Keempat

            Puncak skenario dari rezim boneka ialah ketika keempat penjajah bersatu dalam agenda Perang Dingin, sebuah agenda besar melawan Uni Sovyet dan Afganistan sekaligus dijadikan sebagai medan perang ideologi antara dua adi daya dan sekutunya tersebut.

            Kemudian koalisi Yahudi-Kristen mengeluarkan kebijakan kepada  semua sekutu muslimnya untuk mengobarkan  sentimen agama (Islam) pada umat Islam di seluruh dunia dalam rangka menghadang Uni Sovyet. Misi busuk ini bertujuan agar Uni Sovyet dan Afganistan saling bertempur, kelelahan, dan mengalami kerugian, selanjutnya Amerikalah yang mengeruk ghanimahnya.

            Ternyata skenario ini tidak sepenuhnya sesuai dengan  harapan koalisi, blessing indiguise (hikmah di balik musibah), setelah boneka tumbang mujahidpun pulang ke daerahnya dengan membawa oleh-oleh jihad. Tak bisa dibendung tren jihad menjadi selera global di seluruh pelosok dunia.

            Mujahidin bukan pegawai negeri yang ditugaskan untuk jihad, tetapi orang-orang swasta yang merdeka. Tidak ada konstitusi yang mampu menghadang penyebaran gagasan jihad, karena memang mujahidin dikenal dan tidak mau tunduk pada konstitusi pemerintah yang ada. Mereka bahkan tak terbatasi oleh garis teritorial negara, karena bagi mereka umat Islam tidak memiliki batas wilayah yang pasti.

            Lalu, Al-Qaedah dan Taliban muncul sebagai ikon jihad global. Jihad menjadi ruh perlawanan di Somalia, Bosnia, Cechnya, Indonesia, Filipina, dan belahan bumi lain. Bahkan gagasan  jihad sudah pernah diterjemahkan secara nyata di tanah Amerika dengan serangan Black September yang fenomenal, atau di Indonesia dengan tragedi bom Bali I-II, bom Kuningan, bom di Kedubes Australia, atau bom di hotel Ritz Coulten yang membawa harum trio mujahid (Mukhlas, Imam Samudra dan Amrozi). Inilah pesan perlawanan terbesar umat Islam dalam menyambut kebangkitan Islam.

            Dengan kata lain semenjak runtuhnya khilafah, umat Islam belum pernah bisa bersatu, tetapi setelah kembali kepada agamanya (syariat jihad) mereka bersatu kembali. Jihad berperan sebagai pemersatu. Ini ikatan yang didefinisikan oleh Allah dalam surat Al-Anbiya: 92 di atas.

            Fase kedua, koalisi Yahudi-Kristen memainkan strategi perbudakan. Anehnya usaha mereka didukung oleh sebagian besar umat Islam di dunia, karena dianggap mewakili obsesi Barat dalam mengusung isu HAM, kebebasan beragama, politik, ekonomi, menghargai minoritas, dan sebagainya. Tokoh sentralnya adalah George Bush laknatulloh’alaihim, yang mengobarkan semangat  crusade, Perang Salib.

            Pesan perang Salib ini menurut Mush’ab meliputi beberapa skenario:4 pertama, menawarkan strategi memahami, kompromi, dan menerima realitas kepada umat Islam   melalui para penguasa dan cendikiawan Arab, tidak ketinggalan pula ulama dan cendikiawan muslim di Indonesia. Intinya menurut para munafikin, Amerika dan sekutunya bukanlah thaghut yang harus dimusuhi, karena mereka juga manusia dan pemimpin pembawa kedamaian  dan kebebasan (pluralism, humanism, dan lioberalisme).

            Kedua, merekayasa kesiapan psikologis umat Islam dengan doktrin dan pemaksaan bahwa negara kuat dan unggul, si kecil “David” yang berhadapan dengan raksasa “Goliath” (negara-negara Arab) dan mampu mengalahkan mereka. Apapun kemauan Israel harus dituruti.

            Ketiga, merancang agar wilayah-wilayah yang kaya SDA bisa dikuasai PBB (= baca Amerika) melalui tangan komprador lokal. Gerakan mereka yang sudah dianggap berhasil misalnya mengagendakan berdirinya Negara Israel dari Nil (Mesir) hingga Eufrat (Irak), meyiapkan pemerintahan Nasrani di Mesir Selatan (agenda ini yang saat ini sedang berjalan), membagi kekuasaan Sudan (Islam vs Kristen), merancang kekuasaan Sunni di Hijaz, merancang pusat pangkalan militer di Filipina, menjadikan sentral negara Kristen di Asia (Timor Timur), dan lain-lain.
          
  Keempat, menetralisir dunia Islam dari unsur-unsur perlawanan bersenjata dengan cara memukul gerakan jihad melalui serangkaian operasi pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpin dan menangkap anak buahnya dengan alasan ”membasmi pengacau keamanan”. Dari mulai Zia Ulhaq, Syeikh Yasin, Aiman Azhzhowahiri, Abdullah Azzam, Abu Mush’ab As-Suri, Usamah bin Ladin, Abdullah As-Sulaim (jendral Khtaththab), Nur Misuari, sampai rencana pembunuhan terhadap Ust. Abu Bakar Ba’asyir di Indonesia.
           
            Kelima, yang lebih berbahaya adalah menceraikan mujahidin dari umat Islam, dengan menjulukinya kaum khawarij, kelompok sesat, dan minoritas yang tidak mewakili suara umat Islam bahkan harus berlepas diri dari mereka. Gerakan musuh ini sedang trendi di Indonesia.


            Jangan pernah mengira bahwa skenario ini akan terjadi. Tidak untuk selamanya, “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka  dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. “ (At-Taubah:32) “Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah, mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan, dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan. Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu ke semuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Anfal: 36-37)


[Butir-butir Perlawanan, Bag.1]


  • Ust.Muntoha Bulqini


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.