KEMELUT PERLAWANAN





“ Siapapun yang menganggap i’dad sebagai terorisme adalah bentuk pelecehan terhadap Allah, Rasul dan ayat-ayat-Nya, dan menuduh Allah sebagai biang terorisme, karena i’dad perintah Allah dan Al-Qur’an. Hal ini termasuk perbuatan kufur.”
(Eksepsi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, 5 Maret 2011, di PN. Jakarta Selatan)


Akhirnya terbuki, Fir’aun Amerika telah menjadi tuhan selain Allah yang tertawa di hadapan 200 juta penduduk Indonesia. Dengan gayanya yang tidak lazim: “carrots and stick”, anginnya ditakuti oleh penguasa negeri ini, tujuannya agar akibat dari kekalahan Fir’aun Amerika dan antek-anteknya tidak ditanggung oleh mereka sendiri, melainkan oleh umat manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di sisi lain penguasa Indonesia telah menipu umat Islam dan ber-wali kepada para Salibis dengan cara mengaku masih berada di atas Islam. Yang memperparah penipuan ini adalah perekrutan ulama dan intelektual muslim – menganggap dirinya paham dan berilmu – dalam rangka meredam reaksi umat Islam. Ulama Suu’ ini memerintahkan untuk membolehkan menyebut para penjajah itu sebagai “ulil amri” kaum muslimin.


Memerangi Jihad

Seharusnya mereka yang mengaku umat Islam Indonesia, bertanya kepada para penguasa negeri ini.  Manakah yang lebih berbahaya terhadap jihad : Pertama, ketika pemerintah menggunakan media massa yang dibayar untuk memerangi jihad ?   Kedua, ketika penguasa menggunakan ulama, kiayi, ustadz, ormas dan orpol Islam, untuk melakukan hal yang sama ?

Tidak diragukan bahwa menggunakan tangan para ulama, kiyai, ustadz, jama’ah, ormas, dan orpol Islam dalam menyerang jihad lebih berbahaya, karena mereka memalingkan dari jalan Allah dengan mengatasnamakan dakwah ilallah. Sehingga mereka mengelabui umat Islam yang lemah iman dan sedikit ilmunya.

Lebih licik lagi, ketika para penguasa negeri ini mulai takut dan mengkhawatirkan kekuasaannya dari jama’ah yang istiqomah menegakkan syariat Islam, tak jarang mereka memberikan jabatan kepada  segolongan  umat Islam yang notabene memiliki perahu politik.


Tujuannya untuk mengaburkan pandangan umat Islam dan menyerang jihad  dengan mengatasnamakan Islam.

Belakangan mereka mulai menyadari – setelah mengerti betapa bahayanya menghadapi Islam dengan permusuhan frontal – untuk memecah belah barisan kaum muslimin, dan memalingkan mereka dari kewajban syar’i dan fardhu ‘ain, yaitu berjihad melawan para salibis yang berkuasa di Indonesia. Salah satu sarana penting adalah menyemarakkan dakwah yang dipermak sedemikian menarik.

Gerakan memerangi jihad ini membuahkan hasil. Pertama, umat Islam meninggalkan pilar utama akidahnya. Khususnya pilar kepasrahan untuk menggunakan hukum Allah dan menggantinya dengan hukum jahiliyah demokrasi dalam masalah tasyri’ (membuat undang-undang).

Kedua, umat Islam sudah “membuang” ajaran jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, yaitu melawan pemerintahan murtad yang menguasai negeri kaum muslimin, khususnya Indonesia. Lebih dari itu, umat Islam berusaha memusuhi jihad, menganggap bodoh siapa saja yang mengajak untuk berjihad, mencaci maki dan menyeru pemerintah Tirani Indonesia untuk memberantasnya serta menyatakan diri tidak terlibat dengan jihad di hadapan para tiran itu.

Dengan BNPT-nya, penguasa negeri ini mengajak elemen umat Islam agar terbiasa mengecam “aksi-aksi kekerasan”,  dan mematuhi aturan buatan manusia dan
peraturan yang mengingkari hak Allah swt, Sang Penguasa dalam masalah tasyri’ untuk hamba-Nya. Akhirnya ulama suu’ itupun berhasil memanfaatkan semangat para pemuda muslim untuk direkrut ke dalam barisannya dan masuk ke “mesin pendingin”nya, sehingga gelora semangat Islam untuk berjihad melawan rezim ini berubah menjadi acara-acara dari ajang pemilu ke pemilu berikutnya.


NeoGhassan

Tidak sadarkah wahai kaum muslimin dan ulama Suu’: Masuk akalkah kalau mayoritas penghuni tahanan di negeri yang mayoritas muslim ini adalah orang-orang Islam yang berjihad dan komitmen beragama ? Masuk akalkah jika jihad dianggap sebagai sebuah tindakan kejahatan yang pelakunya akan menerima perlakuan kejam dari penguasa yang mengaku muslim ? Sampai terbayangkah dalam benak kita kalau pemerintah yang mengaku muslim itu menyerahkan rakyatnya sendiri kepada kaum Salibis: Gorys Mere dan konco-konconya ?
Perhitungan sederhana bagi mereka yang merasakan pedihnya penjara penguasa  Indonesia, akan menyimpulkan bahwa musuh pertama dari pemerintahan negeri ini adalah jihad dan mujahidin serta siapa saja yang menyatakan kebenaran apa adanya, hanya takut karena Allah, tidak takut celaan orang-orang yang mencela. Mereka akan diboikot, ditangkap, diasingkan atau diserahkan kepada kaum Salibis.

Apa yang dilakukan rezim Soeharto terhadap umat Islam dahulu, saat ini  berulang kembali bahkan semakin menjadi-jadi dengan berbagai bentuk dan namanya. Ketika Fir’aun Amerika dan Australia meneriaki pemerintahan SBY, mereka langsung bermanis muka agar mendapat simpati.

Kondisi ini persis apa yang dikatakan Allah,  “…kami khawatir tertimpa musibah…” (Al-Maidah: 52) Sebagian lagi seperti firman Allah, “Tidakkah engkau perhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab. “Sungguh jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan bahwa mereka benar-benar pendusta.” (Al-Hasyr: 11)


Umat Islam Indonesia rupanya tengah dipimpin oleh suku NeoGhassan. 5  Pada era di mana bangsa Arab meninggalkan kabilah-kabilahnya, suku Ghassan berhasil mengalahkan saudaranya, suku Dhaja’imah. Lalu bangsa Rum mengangkat suku Ghassan sebagai boneka raja-raja Romawi sampai meletus perang Yarmuk tahun 1311 M, zaman kekhalifahan Amirul mukminin Umar bin Khaththab yang kemudian berhasil mengalahkan suku Ghassan.

Fakta di atas menunjukkan betapa gawatnya kondisi umat Islam Indonesia saat ini. Para ulama, intelektual, ormas, dan orpol Islam sebenarnya tidak mampu melaksanakan kewajiban menegakkan syariat Islam dan melindungi kaum muslimin. Mereka justru sedang melaksanakan program Fir’aun Amerika dan Australia melalui tangan Salibis laknatullah ‘alaihim:  Gorys Mere dengan senjata barunya, BNPT.

Mereka berjalan menuruti hawa nafsu pribadi dan hubungan kesetiaannya kepada bangsa Salib. Mereka beriman kepada sebagian Al-Qur’an dan kufur kepada sebagian yang lain, tergantung yang cocok dengan hawa nafsu dan bisa melindungi keberlangsungan kekuasaannya, ini jelas kufur akbar.



“Apakah kalian beriman kepada sebagian isi Al-Kitab dan mengkufuri sebagian yang lain ? Maka tidak ada balasan bagi orang yang melakukannya selain kehidupan di dunia, dan pada hari kiamat mereka akan dikembalikan kepada azab yang paling pedih dan Allah tidak lalai terhadap apa yang kalian kerjakan.” (Al-Baqarah: 85)

Dengan kata lain, ubudiyah menjadi milik penguasa bukan lagi milik Allah. Penguasa menjelma menjadi berhala yang disembah dan menutupinya dengan kedok parlemen dan demokrasi. Berhala-berhala inilah yang menjadikan kita jatuh pada titik terendah, karena tidak lagi memiliki pemahaman yang utuh tentang Denul Islam.


[Butir-butir Perlawanan, Bag.2]


Penulis : 


  • Ust.Muntoha Bulqin





Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.