BENIH-BENIH PERLAWANAN





Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh. Maka mereka mendustakan hamba kami (Nuh) dan mengatakan, “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.” Maka Nuh mengadu kepada Rabbnya, “Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah aku.”
 (Al-Qamar: 9-10)

            Menurut beberapa riwayat kelompok muslim yang menjadi pengikut Nuh as., berjumlah 12 atau 40 orang. Mereka hasil dakwah nabi Nuh selama 950 tahun. Buah umur panjang dan jerih payah yang lama itu berhak menjadi alasan Allah untuk mengubah  fenomena alam, satu-satunya pewaris bumi, benih kemakmuran dan pimipinan baru pada masanya.

            Sayyid Quthb6  mengingatkan kepada kita tentang perjuangan dakwah dan jihad Nuh as., “Sungguh tidak sepatutnya bagi orang yang menghadapi Jahiliyah dengan Islam berprasangka bahwa Allah akan membiarkannya menjadi mangsa Jahiliyah padahal drinya menyerukan penauhidan Allah swt., dengan ketuhanan-Nya. Sebagaimana ia juga tidak patut untuk membandingkan kekuatan pribadinya dengan kekuatan-kekuatan jahiliyah.” Karenanya sekelompok kecil pengikut Nuh tersebut di neraca Allah sebanding dengan penaklukan-penaklukan kekuatan alam yang maha dahsyat, pembinasaan seluruh manusia yang sesat, dan pewarisan bumi kepada sekelompok manusia yang baik, khalifah fil ardh. Al-Qur’an menyatakan, “ Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka berkumpullah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”
 (Al-Qamar: 11-12)


Benih- Benih Kebenaran

            Adanya benih muslim di bumi merupakan sesuatu yang begitu berarti di neraca Allah, sesuatu yang menjadikan Allah layak untuk menghancurkan jahiliyah, negerinya, kemakmuran, akar-akar, kekuatan-kekuatan, dan simpanan-simpanannya. Sebagaimana Allah juga menjadikan muslim layak untuk dipelihara sebagai benih dan merawatnya agar tetap sehat, berkembang, mewarisi bumi, dan memakmurkannya kembali.
           

            Benih muslim itu hakikatnya pionir kebangkitan Islam yang tengah menghadapi Jahiliyah univerasal  di seluruh muka bumi, yang sedang merasakan keterasingan dan kesendirian, yang tengah merasakan sakit, pengusiran, penyiksaan, dan permusuhan. Namun mereka tetap tegar, tidak peduli dengan segala keterbatasan  peralatan dakwah, jihad, dan jumlah pasukan yang mendukungnya. Bahkan mereka tidak peduli dengan besarnya kekuatan musuh.

            Rahasia kemenangan para mujahid dakwah ilallah itu antara lain: pertama, memegang amanah dan kehormatan Dienul Islam. 7  Seperti yang terjadi pada Abu Ayyub Al-Anshari ra., yang wafat ketika tentara Yazid bin Mu’awiyyah sedang menyerang Konstantinopel. Ia mengharap kepada Allah ta’ala agar dijadikan sebagai lelaki yang shalih, seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Di sisi pagar kota Konstantinopel akan dimakamkan jasad seorang laki-laki yang shalih.”

            Melihat jenazah Abu Ayyub akan dimakamkan kaisar Romawi marah besar: “Kami akan mengeluarkan dan menjadikannya sebagai santapan anjing-anjing kami.” Dengan lantang Yazid berteriak, “ Sesungguhnya engkau adalah kafir terhadap orang yang saya muliakan ini. Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Dia, sesungguhnya saya adalah orang yang sangat memuliakan para sahabat Rasulullah saw., jika kuburannya digali atau jasadnya dicincang, maka saya akan bunuh setiap orang Nasrani dan menghancurkan setiap gereja yang ada di negara-negara Islam.”  Karena rasa takut si kaisar Romawipun berubah pikiran  dan menjaga jenazah sang mujahid, “Demi Allah, sesungguhnya saya sendiri yang akan menjaganya, jika saya tidak menemukan orang yang menjaganya.”

            Kedua, komitmen terhadap sunnah. 8 Dalam sebuah peperangan yang digencarkan kaum muslimin di Turki, terjadi pengepungan panjang terhadap salah satu benteng pertahanan Turki, sehingga kaum muslimin jenuh dan bosan. Setelah dikoreksi oleh sang panglima, dari perkara yang ikhlas kepada Allah, hal yang wajib sampai yang sunnah.

            Ternyata panglima sadar, bahwa tidak seorangpun dari kaum muslimin yang membawa dan melakukan siwak sebelum sholat. Dengan terpaksa mereka menggunakan dahan dan ranting-ranting pohon sebagai ganti bersiwak. Sementara itu tidak seorangpun di antara mereka mengetahui bahwa ada mata-mata musuh yang menyusup di tengah-tengah kaum muslimin.

            Untuk pertama kalinya mata-mata musuh itu melihat kaum muslimin bersiwak, hal ini membuat ketakutan sehngga melaporkan pada kaumnya, “ sesungguhnya kaum muslimin telah mengasah gigi mereka untuk menyantap kita !” Berita itu membuat kaum kafir sangat dirasuki ketakutan. Allah telah menancapkan rasa takut dan gentar dalam hati mereka sehingga benteng pertahanannya berhasil ditaklukkan.

            Ketiga, karakter umat yang menang. 9  Setelah kekalahan yang diderita pada peperangan Yarmuk, kaisar Romawi sangat marah terhadap para panglimanya, karena jumlah pasukan mereka lebih banyak. Kaisar bertanya, “Lantas mengapa kalian kalah ?” Salah seorang petinggi senior mereka angkat bicara, “Karena mereka senantiasa bangun untuk sholat di malam hari, memenuhi janji, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan berbuat adil sesama mereka. Adapun kita ? Kita adalah peminum khamer, pezina, suka melakukan perkara yang haram, melanggar janji, berbuat zhalim, menyeru kepada kekejian, mencegah sesuatu yang diridhai Allah dan melakukan kerusakan di muka bumi !”

Heraklius berkata, “Sesungguhnya kamu telah mengatakan yang sebenarnya.”


Benih-Benih Kebathilan

            Sepanjang sejarah, empat serangkai kebathilan: kekufuran, kemunafikan, yahudi, dan Nasrani 10  selalu muncul dan meneruskan perlawanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka: Persia dan Romawi sebagai dua kutub utama kekufuran, kesesatan, kerusakan, kesombongan dan permusuhan.

            Pertama, kekufuran. Yang membuat orang-orang kafir Qurays baik jahiliyah dahulu ataupun sekarang, yang selalu mengadakan perlawanan pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul adalah karena mental fanatik buta  dan kesombongan setan, yang disebabkan ingin selalu berada di lapisan teratas masyarakat. Mereka menyesal mengapa Al-Qur’an diturunkan kepada seorang lelaki miskin bernama Muhammad bin Abdullah. Mengapa tidak diturunkan kepada bangsawan mereka Walid bin Mughiroh. Atau bangsawan Thaif, Urwah bin Mas’ud  Ats-tsaqafi ? Rupanya rencana mereka terekam dalam Al-Qur’an, “ Dan mereka berkata, “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini ?” (Az-Zukhruf: 31)


            Kedua, kemunafikan yang nampak pada Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi yang berpendapat bahwa Rasulullah saw telah merampas  kekuasaan darinya. Benih ini lebih berbahaya dari  yang pertama, karena “api dalam sekam”. Ia tidak mungkin memerangi Rasulullah saw atau memusuhinya secara terang-terangan, karena mayoritas penduduk Madinah bergabung di bawah panjinya. Ia juga tidak mungkin tetap dalam kekufuran, karena justru akan mengucilkan dirinya sendiri dalam masyarakat, bahkan anaknya sendiri. Namun, ia bisa melakukan tipu daya, merencanakan pengkhianatan dan melakukan serangan mematikan, hingga api dalam dendam dan dengki dapat terpadamkan.

            Rasulullah saw menggambarkan, “Perumpamaan orang-orang Munafik seperti domba, terkadang ke sana dan terkadang ke satunya lagi.”   Hadis ini selaras dengan firman Allah, “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman/kafir); tidak masuk kepada golongan itu (orang-orang beriman) dan tidak pula kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (An-Nisa:143)

Ketiga, benih perlawanan dari kaum yang telah dibutakan Allah: Yahudi. 11  Kaum yang oleh sejarawan R.F. Boudly dikatakan sebagai kaum yang selalu terusir dari zaman ke zaman, kaum yang “mencaplok” Palestina dengan kekerasan dan akhirnya terusir oleh kaisar Romawi: Titus.

Lalu mereka menempati Yatsrib (nama sebelum Madinah yang diberikan oleh tiga kabilah Yahudi: Bani Qaynuqa, Quraizhah, dan Nadhir). Kaum yang membodohi suku-suku Arab dengan konglomerasi riba yang keji.

Sampai datang Rasulullah saw yang membangkitkan agama baru, mereka tetap iri dan dengki karena kendali perdagangan dan pertanian yang sebelumnya mereka kuasai, diambil alih oleh umat Islam. Kaum yang oleh Rasulullah saw dikatakan, “Orang-orang yahudi tidak dengki kepadamu karena sesuatu, mereka dengki karena ucapan salam dan ucapan amin (setelah membaca al-Fatihah dalam sholat).” (HR. Ibnu Hibban no: 856)

Keempat, benih perlawanan dari kaum yang bersaksi bahwa agama Islam adalah athil dan keyakinan yang dianut oleh kafir Qurays adalah kebenaran.  Mereka adalah kaum Nasrani 12  seperti firman Allah,

 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi kitab ? Merke percaya kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (An-Nisa: 51)

            Mereka sesungguhnya kaum yang paling memiliki dendam kesumat kepada kaum Yahudi seperti kasus “hukuman bakar” yang dilakukan oleh Dzu Nuwas al-Humairi, penguasa Yahudi yang membakar kaum Nasrani Najran agar memeluk agama Yahudi. Mereka adalah kaum yang berkeinginan di jazirah Arab tidak ada madzhab atau agama lain selain Nasrani. Merekalah kaum yang sengaja melestarikan paganisme dengan cara memperjual belikan patung-patung kepada kaum musyrik untuk disembah.12

            Merekalah kaum (Abu Abdu Amru ibnu Shaifi alias Abu Amir) yang berkonspirasi dengan Heraklius serta orang-orang Munafik untuk membuat masjid Dhirar dalam menghancurkan dakwah dan jihad  Rasulullah saw. 14    Merekalah kaum (Sajah binti Harits dari bani Yarbu, anggota bani Tamim yang paling dekat dengan Persia) yang mengumandangkan nabi palsu, seperti celoteh Uyainah Ibnu Hishna, pimpinan kaum Murtad, “nabi perempuan dari Bani Yarbu lebih baik dari Bani Qurays, Muhammad telah mati dan Sajah masih hidup. 15


Benih Kebathilan Indonesia

             Sistem jahiliyah Pancasila dan sistem musyrik demokrasi hakikatnya diusung oleh empat serangkai kebathilan. Pertama, musyrik paganis Hindu-Budha. Kedua Murji’ah versi kolonial. Ketiga, konglomerasi Yahudi. Keempat, konspirasi laskar Kristus. Perang mereka terhadap Islam dan umatnya merupakan produk dari fase sejarah yang panjang, konstan, dan akan selalu digaungkan, sehingga baru berhenti bila umat Islam di Indonesia telah murtadsecara total dari Dienul Islam.

            Musyrik paganis Hindu-Budha kini tetap eksis, meskipun telah diperangi sejak generasi mujahid dakwah pertama kalinya menginjakkan kakinya di Nusantara. Walaupun mujahid dakwah itu  telah berhasil mendirikan sistem “Mulukuth Thowaif”  versi Indonesia, tetapi berkat konspirasi laskar Kristus dan  konglomerasi Yahudi, akhirnya sistem kerajaan-kerajaan Islam hancur. Ironisnya, yang tersisa adalah Islam yang diusung oleh Murji’ah versi kolonial dengan tidk memiliki rasa malu mereka mengatasnamakan “warisan” para wali.
           
            Mengapa demikian ? Bukankah yang membuat patung-patung dan berhala-berhala yang disembah oleh musyrik paganisa Hindu-Budha adalah kaum Yahudi dan laskar Kristus ? bukankah pula, yang melangengkan tradisi nenek moyang yang nota bene musyrik paganis Hindu-Budha: Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat (TBC) adalah kaum Murji’ah versi kolonial ?

            Karenanya, untuk melindungi ibadah kaum musyrik paganis Hindu-Budha, Murji’ah versi kolonial, konglomerasi Yahudi, dan konspirasi laskar Kristus, maka secara bulat dipilih filosofi wangsit dari Prapanca dan Tantular yaitu Bhineka Tunggal Ika  yang kemudian dilindungi oleh berhala Namrudz modern: Pancasila.

            Bersukur allah mentakdirkan untuk tidak mengijinkan disakannya tujuh kata dalam sila pertama Piagam Jakarta. Karena kitapun tahu, tidak mungkin syariat Islam bisa ditegakkan di atas prinsip Free masonry-nya (khams Qanun) Soekarno.

Perlawanan terhadap sistem warisan musyrik paganis Hindu-Budha (Pancasila) sampai kini masih terus berlangsung, sejak  HOS okroaminoto (SI), Kartosuwiryo (DI/TII), Muhammad Natsir (DDII), Abu Bakar Ba’asyir (JAT), Abu Jibril (MMI), Rizik Shihab (FPI), perlawanan parlemen (PKS), sampai gerakan penyadaran umat (HTI).

Jutaan jiwa syuhada telah menghiasi negeri ini dalam rangka menegakkan syariat Islam, ratusan konspirasi keji telah digelar oleh konglomerasi Yahudi, Laskar Kristus, dan Murji’ah versi kolonial untuk memberantas gerakan dakwah wal jihad.

            Namun di penghujung munculnya   Ashabu Royati Suud, pasukan Panji Hitam Imam Mahdi, kita dikejutkan dengan munculnya kelompok, Murji’ah Modern yang bernaung di ketiak penguasa tiran Indonesia, bahkan tidak malu-malu mengatasnamakan “Salafi”, mereka giat membela penguasa tiran Indonesia dengan cara memerangi saudaranya sendiri lantaran mengusung tegaknya syariat Islam.

[Butir-butir Perlawanan Bag.3]

   Penulis : 

  • Ust.Muntoha Bulqini





Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.