BENIH-BENIH PERLAWANAN

by 23.46




Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh. Maka mereka mendustakan hamba kami (Nuh) dan mengatakan, “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.” Maka Nuh mengadu kepada Rabbnya, “Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah aku.”
 (Al-Qamar: 9-10)

            Menurut beberapa riwayat kelompok muslim yang menjadi pengikut Nuh as., berjumlah 12 atau 40 orang. Mereka hasil dakwah nabi Nuh selama 950 tahun. Buah umur panjang dan jerih payah yang lama itu berhak menjadi alasan Allah untuk mengubah  fenomena alam, satu-satunya pewaris bumi, benih kemakmuran dan pimipinan baru pada masanya.

            Sayyid Quthb6  mengingatkan kepada kita tentang perjuangan dakwah dan jihad Nuh as., “Sungguh tidak sepatutnya bagi orang yang menghadapi Jahiliyah dengan Islam berprasangka bahwa Allah akan membiarkannya menjadi mangsa Jahiliyah padahal drinya menyerukan penauhidan Allah swt., dengan ketuhanan-Nya. Sebagaimana ia juga tidak patut untuk membandingkan kekuatan pribadinya dengan kekuatan-kekuatan jahiliyah.” Karenanya sekelompok kecil pengikut Nuh tersebut di neraca Allah sebanding dengan penaklukan-penaklukan kekuatan alam yang maha dahsyat, pembinasaan seluruh manusia yang sesat, dan pewarisan bumi kepada sekelompok manusia yang baik, khalifah fil ardh. Al-Qur’an menyatakan, “ Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka berkumpullah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”
 (Al-Qamar: 11-12)


Benih- Benih Kebenaran

            Adanya benih muslim di bumi merupakan sesuatu yang begitu berarti di neraca Allah, sesuatu yang menjadikan Allah layak untuk menghancurkan jahiliyah, negerinya, kemakmuran, akar-akar, kekuatan-kekuatan, dan simpanan-simpanannya. Sebagaimana Allah juga menjadikan muslim layak untuk dipelihara sebagai benih dan merawatnya agar tetap sehat, berkembang, mewarisi bumi, dan memakmurkannya kembali.
           

            Benih muslim itu hakikatnya pionir kebangkitan Islam yang tengah menghadapi Jahiliyah univerasal  di seluruh muka bumi, yang sedang merasakan keterasingan dan kesendirian, yang tengah merasakan sakit, pengusiran, penyiksaan, dan permusuhan. Namun mereka tetap tegar, tidak peduli dengan segala keterbatasan  peralatan dakwah, jihad, dan jumlah pasukan yang mendukungnya. Bahkan mereka tidak peduli dengan besarnya kekuatan musuh.

            Rahasia kemenangan para mujahid dakwah ilallah itu antara lain: pertama, memegang amanah dan kehormatan Dienul Islam. 7  Seperti yang terjadi pada Abu Ayyub Al-Anshari ra., yang wafat ketika tentara Yazid bin Mu’awiyyah sedang menyerang Konstantinopel. Ia mengharap kepada Allah ta’ala agar dijadikan sebagai lelaki yang shalih, seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Di sisi pagar kota Konstantinopel akan dimakamkan jasad seorang laki-laki yang shalih.”

            Melihat jenazah Abu Ayyub akan dimakamkan kaisar Romawi marah besar: “Kami akan mengeluarkan dan menjadikannya sebagai santapan anjing-anjing kami.” Dengan lantang Yazid berteriak, “ Sesungguhnya engkau adalah kafir terhadap orang yang saya muliakan ini. Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Dia, sesungguhnya saya adalah orang yang sangat memuliakan para sahabat Rasulullah saw., jika kuburannya digali atau jasadnya dicincang, maka saya akan bunuh setiap orang Nasrani dan menghancurkan setiap gereja yang ada di negara-negara Islam.”  Karena rasa takut si kaisar Romawipun berubah pikiran  dan menjaga jenazah sang mujahid, “Demi Allah, sesungguhnya saya sendiri yang akan menjaganya, jika saya tidak menemukan orang yang menjaganya.”

            Kedua, komitmen terhadap sunnah. 8 Dalam sebuah peperangan yang digencarkan kaum muslimin di Turki, terjadi pengepungan panjang terhadap salah satu benteng pertahanan Turki, sehingga kaum muslimin jenuh dan bosan. Setelah dikoreksi oleh sang panglima, dari perkara yang ikhlas kepada Allah, hal yang wajib sampai yang sunnah.

            Ternyata panglima sadar, bahwa tidak seorangpun dari kaum muslimin yang membawa dan melakukan siwak sebelum sholat. Dengan terpaksa mereka menggunakan dahan dan ranting-ranting pohon sebagai ganti bersiwak. Sementara itu tidak seorangpun di antara mereka mengetahui bahwa ada mata-mata musuh yang menyusup di tengah-tengah kaum muslimin.

            Untuk pertama kalinya mata-mata musuh itu melihat kaum muslimin bersiwak, hal ini membuat ketakutan sehngga melaporkan pada kaumnya, “ sesungguhnya kaum muslimin telah mengasah gigi mereka untuk menyantap kita !” Berita itu membuat kaum kafir sangat dirasuki ketakutan. Allah telah menancapkan rasa takut dan gentar dalam hati mereka sehingga benteng pertahanannya berhasil ditaklukkan.

            Ketiga, karakter umat yang menang. 9  Setelah kekalahan yang diderita pada peperangan Yarmuk, kaisar Romawi sangat marah terhadap para panglimanya, karena jumlah pasukan mereka lebih banyak. Kaisar bertanya, “Lantas mengapa kalian kalah ?” Salah seorang petinggi senior mereka angkat bicara, “Karena mereka senantiasa bangun untuk sholat di malam hari, memenuhi janji, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan berbuat adil sesama mereka. Adapun kita ? Kita adalah peminum khamer, pezina, suka melakukan perkara yang haram, melanggar janji, berbuat zhalim, menyeru kepada kekejian, mencegah sesuatu yang diridhai Allah dan melakukan kerusakan di muka bumi !”

Heraklius berkata, “Sesungguhnya kamu telah mengatakan yang sebenarnya.”


Benih-Benih Kebathilan

            Sepanjang sejarah, empat serangkai kebathilan: kekufuran, kemunafikan, yahudi, dan Nasrani 10  selalu muncul dan meneruskan perlawanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka: Persia dan Romawi sebagai dua kutub utama kekufuran, kesesatan, kerusakan, kesombongan dan permusuhan.

            Pertama, kekufuran. Yang membuat orang-orang kafir Qurays baik jahiliyah dahulu ataupun sekarang, yang selalu mengadakan perlawanan pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul adalah karena mental fanatik buta  dan kesombongan setan, yang disebabkan ingin selalu berada di lapisan teratas masyarakat. Mereka menyesal mengapa Al-Qur’an diturunkan kepada seorang lelaki miskin bernama Muhammad bin Abdullah. Mengapa tidak diturunkan kepada bangsawan mereka Walid bin Mughiroh. Atau bangsawan Thaif, Urwah bin Mas’ud  Ats-tsaqafi ? Rupanya rencana mereka terekam dalam Al-Qur’an, “ Dan mereka berkata, “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini ?” (Az-Zukhruf: 31)


            Kedua, kemunafikan yang nampak pada Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi yang berpendapat bahwa Rasulullah saw telah merampas  kekuasaan darinya. Benih ini lebih berbahaya dari  yang pertama, karena “api dalam sekam”. Ia tidak mungkin memerangi Rasulullah saw atau memusuhinya secara terang-terangan, karena mayoritas penduduk Madinah bergabung di bawah panjinya. Ia juga tidak mungkin tetap dalam kekufuran, karena justru akan mengucilkan dirinya sendiri dalam masyarakat, bahkan anaknya sendiri. Namun, ia bisa melakukan tipu daya, merencanakan pengkhianatan dan melakukan serangan mematikan, hingga api dalam dendam dan dengki dapat terpadamkan.

            Rasulullah saw menggambarkan, “Perumpamaan orang-orang Munafik seperti domba, terkadang ke sana dan terkadang ke satunya lagi.”   Hadis ini selaras dengan firman Allah, “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman/kafir); tidak masuk kepada golongan itu (orang-orang beriman) dan tidak pula kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (An-Nisa:143)

Ketiga, benih perlawanan dari kaum yang telah dibutakan Allah: Yahudi. 11  Kaum yang oleh sejarawan R.F. Boudly dikatakan sebagai kaum yang selalu terusir dari zaman ke zaman, kaum yang “mencaplok” Palestina dengan kekerasan dan akhirnya terusir oleh kaisar Romawi: Titus.

Lalu mereka menempati Yatsrib (nama sebelum Madinah yang diberikan oleh tiga kabilah Yahudi: Bani Qaynuqa, Quraizhah, dan Nadhir). Kaum yang membodohi suku-suku Arab dengan konglomerasi riba yang keji.

Sampai datang Rasulullah saw yang membangkitkan agama baru, mereka tetap iri dan dengki karena kendali perdagangan dan pertanian yang sebelumnya mereka kuasai, diambil alih oleh umat Islam. Kaum yang oleh Rasulullah saw dikatakan, “Orang-orang yahudi tidak dengki kepadamu karena sesuatu, mereka dengki karena ucapan salam dan ucapan amin (setelah membaca al-Fatihah dalam sholat).” (HR. Ibnu Hibban no: 856)

Keempat, benih perlawanan dari kaum yang bersaksi bahwa agama Islam adalah athil dan keyakinan yang dianut oleh kafir Qurays adalah kebenaran.  Mereka adalah kaum Nasrani 12  seperti firman Allah,

 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi kitab ? Merke percaya kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (An-Nisa: 51)

            Mereka sesungguhnya kaum yang paling memiliki dendam kesumat kepada kaum Yahudi seperti kasus “hukuman bakar” yang dilakukan oleh Dzu Nuwas al-Humairi, penguasa Yahudi yang membakar kaum Nasrani Najran agar memeluk agama Yahudi. Mereka adalah kaum yang berkeinginan di jazirah Arab tidak ada madzhab atau agama lain selain Nasrani. Merekalah kaum yang sengaja melestarikan paganisme dengan cara memperjual belikan patung-patung kepada kaum musyrik untuk disembah.12

            Merekalah kaum (Abu Abdu Amru ibnu Shaifi alias Abu Amir) yang berkonspirasi dengan Heraklius serta orang-orang Munafik untuk membuat masjid Dhirar dalam menghancurkan dakwah dan jihad  Rasulullah saw. 14    Merekalah kaum (Sajah binti Harits dari bani Yarbu, anggota bani Tamim yang paling dekat dengan Persia) yang mengumandangkan nabi palsu, seperti celoteh Uyainah Ibnu Hishna, pimpinan kaum Murtad, “nabi perempuan dari Bani Yarbu lebih baik dari Bani Qurays, Muhammad telah mati dan Sajah masih hidup. 15


Benih Kebathilan Indonesia

             Sistem jahiliyah Pancasila dan sistem musyrik demokrasi hakikatnya diusung oleh empat serangkai kebathilan. Pertama, musyrik paganis Hindu-Budha. Kedua Murji’ah versi kolonial. Ketiga, konglomerasi Yahudi. Keempat, konspirasi laskar Kristus. Perang mereka terhadap Islam dan umatnya merupakan produk dari fase sejarah yang panjang, konstan, dan akan selalu digaungkan, sehingga baru berhenti bila umat Islam di Indonesia telah murtadsecara total dari Dienul Islam.

            Musyrik paganis Hindu-Budha kini tetap eksis, meskipun telah diperangi sejak generasi mujahid dakwah pertama kalinya menginjakkan kakinya di Nusantara. Walaupun mujahid dakwah itu  telah berhasil mendirikan sistem “Mulukuth Thowaif”  versi Indonesia, tetapi berkat konspirasi laskar Kristus dan  konglomerasi Yahudi, akhirnya sistem kerajaan-kerajaan Islam hancur. Ironisnya, yang tersisa adalah Islam yang diusung oleh Murji’ah versi kolonial dengan tidk memiliki rasa malu mereka mengatasnamakan “warisan” para wali.
           
            Mengapa demikian ? Bukankah yang membuat patung-patung dan berhala-berhala yang disembah oleh musyrik paganisa Hindu-Budha adalah kaum Yahudi dan laskar Kristus ? bukankah pula, yang melangengkan tradisi nenek moyang yang nota bene musyrik paganis Hindu-Budha: Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat (TBC) adalah kaum Murji’ah versi kolonial ?

            Karenanya, untuk melindungi ibadah kaum musyrik paganis Hindu-Budha, Murji’ah versi kolonial, konglomerasi Yahudi, dan konspirasi laskar Kristus, maka secara bulat dipilih filosofi wangsit dari Prapanca dan Tantular yaitu Bhineka Tunggal Ika  yang kemudian dilindungi oleh berhala Namrudz modern: Pancasila.

            Bersukur allah mentakdirkan untuk tidak mengijinkan disakannya tujuh kata dalam sila pertama Piagam Jakarta. Karena kitapun tahu, tidak mungkin syariat Islam bisa ditegakkan di atas prinsip Free masonry-nya (khams Qanun) Soekarno.

Perlawanan terhadap sistem warisan musyrik paganis Hindu-Budha (Pancasila) sampai kini masih terus berlangsung, sejak  HOS okroaminoto (SI), Kartosuwiryo (DI/TII), Muhammad Natsir (DDII), Abu Bakar Ba’asyir (JAT), Abu Jibril (MMI), Rizik Shihab (FPI), perlawanan parlemen (PKS), sampai gerakan penyadaran umat (HTI).

Jutaan jiwa syuhada telah menghiasi negeri ini dalam rangka menegakkan syariat Islam, ratusan konspirasi keji telah digelar oleh konglomerasi Yahudi, Laskar Kristus, dan Murji’ah versi kolonial untuk memberantas gerakan dakwah wal jihad.

            Namun di penghujung munculnya   Ashabu Royati Suud, pasukan Panji Hitam Imam Mahdi, kita dikejutkan dengan munculnya kelompok, Murji’ah Modern yang bernaung di ketiak penguasa tiran Indonesia, bahkan tidak malu-malu mengatasnamakan “Salafi”, mereka giat membela penguasa tiran Indonesia dengan cara memerangi saudaranya sendiri lantaran mengusung tegaknya syariat Islam.

[Butir-butir Perlawanan Bag.3]

   Penulis : 

  • Ust.Muntoha Bulqini





KEMELUT PERLAWANAN

by 00.06




“ Siapapun yang menganggap i’dad sebagai terorisme adalah bentuk pelecehan terhadap Allah, Rasul dan ayat-ayat-Nya, dan menuduh Allah sebagai biang terorisme, karena i’dad perintah Allah dan Al-Qur’an. Hal ini termasuk perbuatan kufur.”
(Eksepsi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, 5 Maret 2011, di PN. Jakarta Selatan)


Akhirnya terbuki, Fir’aun Amerika telah menjadi tuhan selain Allah yang tertawa di hadapan 200 juta penduduk Indonesia. Dengan gayanya yang tidak lazim: “carrots and stick”, anginnya ditakuti oleh penguasa negeri ini, tujuannya agar akibat dari kekalahan Fir’aun Amerika dan antek-anteknya tidak ditanggung oleh mereka sendiri, melainkan oleh umat manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di sisi lain penguasa Indonesia telah menipu umat Islam dan ber-wali kepada para Salibis dengan cara mengaku masih berada di atas Islam. Yang memperparah penipuan ini adalah perekrutan ulama dan intelektual muslim – menganggap dirinya paham dan berilmu – dalam rangka meredam reaksi umat Islam. Ulama Suu’ ini memerintahkan untuk membolehkan menyebut para penjajah itu sebagai “ulil amri” kaum muslimin.


Memerangi Jihad

Seharusnya mereka yang mengaku umat Islam Indonesia, bertanya kepada para penguasa negeri ini.  Manakah yang lebih berbahaya terhadap jihad : Pertama, ketika pemerintah menggunakan media massa yang dibayar untuk memerangi jihad ?   Kedua, ketika penguasa menggunakan ulama, kiayi, ustadz, ormas dan orpol Islam, untuk melakukan hal yang sama ?

Tidak diragukan bahwa menggunakan tangan para ulama, kiyai, ustadz, jama’ah, ormas, dan orpol Islam dalam menyerang jihad lebih berbahaya, karena mereka memalingkan dari jalan Allah dengan mengatasnamakan dakwah ilallah. Sehingga mereka mengelabui umat Islam yang lemah iman dan sedikit ilmunya.

Lebih licik lagi, ketika para penguasa negeri ini mulai takut dan mengkhawatirkan kekuasaannya dari jama’ah yang istiqomah menegakkan syariat Islam, tak jarang mereka memberikan jabatan kepada  segolongan  umat Islam yang notabene memiliki perahu politik.


Tujuannya untuk mengaburkan pandangan umat Islam dan menyerang jihad  dengan mengatasnamakan Islam.

Belakangan mereka mulai menyadari – setelah mengerti betapa bahayanya menghadapi Islam dengan permusuhan frontal – untuk memecah belah barisan kaum muslimin, dan memalingkan mereka dari kewajban syar’i dan fardhu ‘ain, yaitu berjihad melawan para salibis yang berkuasa di Indonesia. Salah satu sarana penting adalah menyemarakkan dakwah yang dipermak sedemikian menarik.

Gerakan memerangi jihad ini membuahkan hasil. Pertama, umat Islam meninggalkan pilar utama akidahnya. Khususnya pilar kepasrahan untuk menggunakan hukum Allah dan menggantinya dengan hukum jahiliyah demokrasi dalam masalah tasyri’ (membuat undang-undang).

Kedua, umat Islam sudah “membuang” ajaran jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, yaitu melawan pemerintahan murtad yang menguasai negeri kaum muslimin, khususnya Indonesia. Lebih dari itu, umat Islam berusaha memusuhi jihad, menganggap bodoh siapa saja yang mengajak untuk berjihad, mencaci maki dan menyeru pemerintah Tirani Indonesia untuk memberantasnya serta menyatakan diri tidak terlibat dengan jihad di hadapan para tiran itu.

Dengan BNPT-nya, penguasa negeri ini mengajak elemen umat Islam agar terbiasa mengecam “aksi-aksi kekerasan”,  dan mematuhi aturan buatan manusia dan
peraturan yang mengingkari hak Allah swt, Sang Penguasa dalam masalah tasyri’ untuk hamba-Nya. Akhirnya ulama suu’ itupun berhasil memanfaatkan semangat para pemuda muslim untuk direkrut ke dalam barisannya dan masuk ke “mesin pendingin”nya, sehingga gelora semangat Islam untuk berjihad melawan rezim ini berubah menjadi acara-acara dari ajang pemilu ke pemilu berikutnya.


NeoGhassan

Tidak sadarkah wahai kaum muslimin dan ulama Suu’: Masuk akalkah kalau mayoritas penghuni tahanan di negeri yang mayoritas muslim ini adalah orang-orang Islam yang berjihad dan komitmen beragama ? Masuk akalkah jika jihad dianggap sebagai sebuah tindakan kejahatan yang pelakunya akan menerima perlakuan kejam dari penguasa yang mengaku muslim ? Sampai terbayangkah dalam benak kita kalau pemerintah yang mengaku muslim itu menyerahkan rakyatnya sendiri kepada kaum Salibis: Gorys Mere dan konco-konconya ?
Perhitungan sederhana bagi mereka yang merasakan pedihnya penjara penguasa  Indonesia, akan menyimpulkan bahwa musuh pertama dari pemerintahan negeri ini adalah jihad dan mujahidin serta siapa saja yang menyatakan kebenaran apa adanya, hanya takut karena Allah, tidak takut celaan orang-orang yang mencela. Mereka akan diboikot, ditangkap, diasingkan atau diserahkan kepada kaum Salibis.

Apa yang dilakukan rezim Soeharto terhadap umat Islam dahulu, saat ini  berulang kembali bahkan semakin menjadi-jadi dengan berbagai bentuk dan namanya. Ketika Fir’aun Amerika dan Australia meneriaki pemerintahan SBY, mereka langsung bermanis muka agar mendapat simpati.

Kondisi ini persis apa yang dikatakan Allah,  “…kami khawatir tertimpa musibah…” (Al-Maidah: 52) Sebagian lagi seperti firman Allah, “Tidakkah engkau perhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab. “Sungguh jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan bahwa mereka benar-benar pendusta.” (Al-Hasyr: 11)


Umat Islam Indonesia rupanya tengah dipimpin oleh suku NeoGhassan. 5  Pada era di mana bangsa Arab meninggalkan kabilah-kabilahnya, suku Ghassan berhasil mengalahkan saudaranya, suku Dhaja’imah. Lalu bangsa Rum mengangkat suku Ghassan sebagai boneka raja-raja Romawi sampai meletus perang Yarmuk tahun 1311 M, zaman kekhalifahan Amirul mukminin Umar bin Khaththab yang kemudian berhasil mengalahkan suku Ghassan.

Fakta di atas menunjukkan betapa gawatnya kondisi umat Islam Indonesia saat ini. Para ulama, intelektual, ormas, dan orpol Islam sebenarnya tidak mampu melaksanakan kewajiban menegakkan syariat Islam dan melindungi kaum muslimin. Mereka justru sedang melaksanakan program Fir’aun Amerika dan Australia melalui tangan Salibis laknatullah ‘alaihim:  Gorys Mere dengan senjata barunya, BNPT.

Mereka berjalan menuruti hawa nafsu pribadi dan hubungan kesetiaannya kepada bangsa Salib. Mereka beriman kepada sebagian Al-Qur’an dan kufur kepada sebagian yang lain, tergantung yang cocok dengan hawa nafsu dan bisa melindungi keberlangsungan kekuasaannya, ini jelas kufur akbar.



“Apakah kalian beriman kepada sebagian isi Al-Kitab dan mengkufuri sebagian yang lain ? Maka tidak ada balasan bagi orang yang melakukannya selain kehidupan di dunia, dan pada hari kiamat mereka akan dikembalikan kepada azab yang paling pedih dan Allah tidak lalai terhadap apa yang kalian kerjakan.” (Al-Baqarah: 85)

Dengan kata lain, ubudiyah menjadi milik penguasa bukan lagi milik Allah. Penguasa menjelma menjadi berhala yang disembah dan menutupinya dengan kedok parlemen dan demokrasi. Berhala-berhala inilah yang menjadikan kita jatuh pada titik terendah, karena tidak lagi memiliki pemahaman yang utuh tentang Denul Islam.


[Butir-butir Perlawanan, Bag.2]


Penulis : 


  • Ust.Muntoha Bulqin





PESAN PERLAWANAN

by 23.11



Munculnya perlawanan dari individu dan kelompok yang memperjuangkan tegaknya syariat Islam merupakan teguran bagi umat Islam, ulama dan penguasa negeri ini. Mereka mengusung eksistensi manusia sebagai sasaran Al-Qur’an. Saat ini umat Islam seharusnya berupaya keras menjadi objek sasaran Al-Qur ‘an seperti generasi pertama umat ini.

            Bukankah manusia sekarang sama dengan manusia sejak nabi Adam sampai umat Rasulullah saw., dalam hakikat dan fitrahnya ? Meskipun alam raya terjadi perubahan situasi dan kondisi tetapi manusia tidak akan pernah berubah menjadi makhluk lain atau makhluk modern utuk menyemarakkan bumi. Pemikiran ini yang menjadi inspirasi perlawanan.

            Dalam  garis yang berseberangan, kebanyakan umat Islam, ulama bahkan penguasa negeri ini, dalam sejarah perlawanan masa Rasulullah saw., persis orang -orang Arab Jahiliyah, yang beranggapan bahwa Al-Qur’an hanya kumpulan teks ciptaan manusia yang tidak bisa mendatangkan mukjizat.


Mereka menuntut kehadiran mukjizat materi seperti yang didemonstrasikan oleh para rasul sebelumnya. Inilah masa kekanak-kanakan kemanusiaan yang pernah dialami oleh orang-orang Jahiliyah. Bahkan lebih dari Jahiliyah, ulama dan penguasa negeri ini, karena atas pesanan dari musuh-musuh Allah (Yahudi-Nasrani), mereka mengganti dan mengacak-acak Al-Qur’an secara lantang.

            Orang-orang Arab Jahiliyah sangat menyanjung kepiawaian berekspresi (bersyair) dan saling membanggakan di “pasar-pasar” mereka. Bukankah kebanyakan tiga elemen ini (umat Islam, ulama, dan penguasa) lebih banyak menyanjung dan membanggakan produk musuh-musuh Allah dalam setiap aspek kehidupan. Ketiganya mengaku muslim, dengan tidak malu-malu bahkan merasa yakin membeli dagangan (=ajaran) musuh-musuh Allah dengan alasan tradisi turun temurun dari nenek moyang.

            Lihatlah produk yang sudah mereka pakai, seperti liberalisme, kapitalisme, pluralisme, humanisme, materialisme, demokrasi dan nasionalisme. Sikap tersebut yang menyulut api perlawanan dari sebagian kecil umat Islam di negeri ini, yang dijuluki oleh penguasa  Indonesia dengan teroris, radikal, atau fundamental.

            Tetapi beruntung Allah memberi peringatan kepada umat yang menolong agama-Nya, “ Dan orang-orang yang kafir berkata, “ janganlah kamu mendengarkan (bacaan)  Al-Quran ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Fushshilat: 26). Sampai kiamatpun tidak terbantahkan bahwa ada pesan perlawanan dari musuh-musuh Allah agar syariat Islam tidak tegak di bumi ini, Indonesia sekalipun.

Pesan Kedua

            Seharusnya penguasa negeri ini sadar, maraknya perlawanan dari kelompok pejuang Tauhid maupun kelompok pejuang liberalisme, egoisme, rasisme, tribalisme, primordialisme, dan aliran sesat yang di dalamnya termasuk Jama’ah Iblis Liberal (JIL). Indikasi bahwa ikatan nasionalisme atau Bhinneka Tunggal Ika ( berbeda tetapi satu) sedang dipertaruhkan.

            Mestinya umat Islam dan ulama “jangan pura-pura” tidak tahu karena mencari aman atau takut, bahwa ikatan nasionalisme merupakan senjata

pemusnah Aqidah dari musuh-musuh Allah dan musuh-musuh besar bangsa ini (Yahudi dan antek-anteknya).

            Mereka paham betul titik kekuatan Islam. mereka adalah kelompok yang dikatakan Allah sebagai, “orang-orang (Yahudi-Nasrani) yang telah Kami beri al-kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.” (Al-Baqarah: 146). Mereka tidak pernah lupa bahwa perkumpulan dengan asas aqidah menjadi rahasia kekuatan Islam. Ini pesan perlawanan musuh-musuh Allah.

            Senjata pemusnah tersebut memiliki peluru bernama “berhala”. Kadang mereka namakan tanah air, bangsa, ras, nasionalisme, tribalisme, materialisme, hedonisme, komunisme, serta kebebasan beragama. Isu terorisme, radikalisme, anti Pancasila, ekstrim kanan, pemberontak, pengacau keamanan, bagian dari gas beracun udara dan ranjau darat yang tengah disemai dalam jantung kehidupan umat Islam.

            Dari sekian ranjau, maka Ahmadiyah, aliran sesat, dan teroris adalah amunisi paling berbahaya karena dibungkus oleh selongsong peluru bernama kebebasan beragama, minoritas dan pengacau keamanan. Bukankah ini rambu-rambu Jahiliyah yang mejadi ikatan perlawanan bagi umat Islam wahai para pengikut “ilyasiq modern” dan ulama suu’ ?
           
            Berlawanan dengan itu, sesungguhnya ikatan umat Islam adalah Tauhid, yang bersumber dari Laa Ilaaha Illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah). Bandingkan dengan Bhineka Tunggal Ika !!! Mengapa kita tidak sadar, ketika Allah membuat berbagai perpumpamaan tentang hubungan  dan ikatan jahiliyah ? Bukankah dengan gamblang Al-Qur’an menjelaskan  perumpamaan yang terjadi antara anak dan bapak, seperti kisah Ibrahim dengan bapak, kaum, dan anak keturunannya ? Begitupun perumpamaan antara suami dan istri seperti kisah Nuh, Luth dan istri-istri mereka, atau antara istri Fir’aun dan Fir’aun ? Atau kisah para pemuda Ashabul Kahfi dengan keluarga, kaum, negeri dan tanah airnya.    
 
            Inilah contoh-contoh yang Allah berikan untuk umat manusia sebagai rambu-rambu jalan yang menunjukkan hakikat ikatan dan landasan berdirinya masyarakat muslim. Di sana berdiri dua ikatan yang berlawanan: ikatan keluarga, nasab, dan darah atau nasionalisme  yang dianut oleh kebanyakan   umat Islam, dengan ikatan akidah Islam yang dianut oleh sebagian kecil umat Islam (= pejuang tauhid). Mari kita saksikan, saat ini para pejuang tegaknya tauhid tengah menghadapi ujian dengan keluarganya, kaum, tanah air, tumpah darah, kampung halaman, harta benda, kepentingan, masa lalu, dan masa depannya.

            Mengapa terjadi ujian seperti itu ? Karena Islam tidak ingin membebaskan manusia dari berhala-berhala rasisme, nasionalisme, dan antek-anteknya. Atau membiarkan mereka berperang di bawah panji dan syiar berhala ini. Islam   hanya menyeru mereka supaya tunduk kepada Allah, tidak kepada sesuatupun dari makhluk-Nya ! Maka sepanjang sejarah   umat manusia, Akidah Islam / Tauhid mengelompokkan manusia dalam dua kubu: Mukmin ddan Kafir, pengikut rasul dan para penyembah thaghut.

            Inilah yang dimaksud ikatan menurut definisi dan yang diperkenalkan Allah kepada umat Islam yaitu Akidah Islam. Seperti yang difirmankan Allah, “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 92) Bukan ikatan nasionalisme Indonesia atau Bhinneka Tunggal Ika menurut definisi dan yang diperkenalkan manusianya.


Pesan Ketiga

            Apa yang kita saksikan di belahan benua berpenduduk muslim, merupakan sejarah panjang perlawanan musuh-musuh Allah (Yahudi-Nasrani) pasca Perang Salib. Pesan perlawanan kali ini melebihi peristiwa bom atom  Hirosima dan Nagasaki.

            Mari kita buka kembali pesan perlawanan mereka.  Fase Pertama, mereka memainkan startegi rezim boneka setelah runtuhnya khilafah Turki Usmani sampai sekarang. Tujuannya untuk memecah belah umat Islam dalam beberapa siklus: 1) mengerat dunia Islam menjadi Negara-negara kecil. 2) dengan penguasa yang tidak didukung rakyatnya sendiri. 3) rakyat yang lemah ekonomi. 4) potensi ekonomi ada tetapi tak punya kekuatan melindunginya. 5) kekuatan ada tetapi tidak punya sentimen agama. 6) punya agama tetapi tidak ada pengikutnya. 7) punya pengikut tetapi tidak punya tanah air. 8) punya tanah air tetapi tidak ada rakyatnya.

            Menurut Abu Mush’ab As-Suri, mereka mengerat umat Islam yang utuh menjadi kekuasaan-kekuasaan kecil yang dikendalikan para budak.2  Strategi ini ibarat membidik dua burung dengan sebutir batu. Potensi perlawanan rakyat terhadap penjajah akan padam karena secara lahir penjajah akan hengkang, tetapi gantinya akan tersulut perlawanan terhadap penguasa boneka tersebut.

            Hasilnya negara terpecah dalam dua kubu: pihak boneka melawan pihak rakyat yang memberontak. Perpecahan internal terpelihara, kelemahan tetap langgeng, dan penjajah menonton adegan ini dengan senyum puas.    Kepentingan mereka tidak terganggu, darah mereka aman, bahkan mereka bisa masuk seolah sebagai penengah internal.

            Dalam memerlakukan rezim boneka, menurut Hazim al-Madany, 3  negara super power dan sekutunya memiliki pendekatan berbeda. Dalam menjajah Maroko, Perancis menyiapkan penguasa boneka dan menanam orang di belakang layar yang akan mengendalikannya, sehingga rezim boneka sebagai pajangan. Sementara Inggris, dalam menjajah India, Brunei, Malaysia, Hongkong, bahkan dengan gaya “menitipkan” Jama’ah Ahmadiyah  di Indonesia, mengendalikan rezim boneka melalui pendekatan hukum ddan konstitusi yang sudah disiapkan sebelumnya agar sesuai visi dan misi penjajah. Mereka mengakomodasi hukum adat sepanjang tidak melakukan perlawanan terhadap penjajah.

            Siapapun yang melawan penjajah pasti membentur tembok konstitusi dan tumbang dengan sendirinya. Di sisi lain, Amerika dalam menginvasi Irak, Afganistan, atau dengan “menitipkan” Jama’ah Iblis Liberal (JIL) di Indonesia, selalu mengirimkan pasukan yang akan mengkudetanya dengan kasar  sesuai dengan arogansinya sebagai penguasa tunggal. Berbeda pula dengan Yahudi Israel, belakangan lebih suka membonceng Amerika karena nafsu mereka cepat tersalurkan dengan gaya cowboy Amerika.

Pesan Keempat

            Puncak skenario dari rezim boneka ialah ketika keempat penjajah bersatu dalam agenda Perang Dingin, sebuah agenda besar melawan Uni Sovyet dan Afganistan sekaligus dijadikan sebagai medan perang ideologi antara dua adi daya dan sekutunya tersebut.

            Kemudian koalisi Yahudi-Kristen mengeluarkan kebijakan kepada  semua sekutu muslimnya untuk mengobarkan  sentimen agama (Islam) pada umat Islam di seluruh dunia dalam rangka menghadang Uni Sovyet. Misi busuk ini bertujuan agar Uni Sovyet dan Afganistan saling bertempur, kelelahan, dan mengalami kerugian, selanjutnya Amerikalah yang mengeruk ghanimahnya.

            Ternyata skenario ini tidak sepenuhnya sesuai dengan  harapan koalisi, blessing indiguise (hikmah di balik musibah), setelah boneka tumbang mujahidpun pulang ke daerahnya dengan membawa oleh-oleh jihad. Tak bisa dibendung tren jihad menjadi selera global di seluruh pelosok dunia.

            Mujahidin bukan pegawai negeri yang ditugaskan untuk jihad, tetapi orang-orang swasta yang merdeka. Tidak ada konstitusi yang mampu menghadang penyebaran gagasan jihad, karena memang mujahidin dikenal dan tidak mau tunduk pada konstitusi pemerintah yang ada. Mereka bahkan tak terbatasi oleh garis teritorial negara, karena bagi mereka umat Islam tidak memiliki batas wilayah yang pasti.

            Lalu, Al-Qaedah dan Taliban muncul sebagai ikon jihad global. Jihad menjadi ruh perlawanan di Somalia, Bosnia, Cechnya, Indonesia, Filipina, dan belahan bumi lain. Bahkan gagasan  jihad sudah pernah diterjemahkan secara nyata di tanah Amerika dengan serangan Black September yang fenomenal, atau di Indonesia dengan tragedi bom Bali I-II, bom Kuningan, bom di Kedubes Australia, atau bom di hotel Ritz Coulten yang membawa harum trio mujahid (Mukhlas, Imam Samudra dan Amrozi). Inilah pesan perlawanan terbesar umat Islam dalam menyambut kebangkitan Islam.

            Dengan kata lain semenjak runtuhnya khilafah, umat Islam belum pernah bisa bersatu, tetapi setelah kembali kepada agamanya (syariat jihad) mereka bersatu kembali. Jihad berperan sebagai pemersatu. Ini ikatan yang didefinisikan oleh Allah dalam surat Al-Anbiya: 92 di atas.

            Fase kedua, koalisi Yahudi-Kristen memainkan strategi perbudakan. Anehnya usaha mereka didukung oleh sebagian besar umat Islam di dunia, karena dianggap mewakili obsesi Barat dalam mengusung isu HAM, kebebasan beragama, politik, ekonomi, menghargai minoritas, dan sebagainya. Tokoh sentralnya adalah George Bush laknatulloh’alaihim, yang mengobarkan semangat  crusade, Perang Salib.

            Pesan perang Salib ini menurut Mush’ab meliputi beberapa skenario:4 pertama, menawarkan strategi memahami, kompromi, dan menerima realitas kepada umat Islam   melalui para penguasa dan cendikiawan Arab, tidak ketinggalan pula ulama dan cendikiawan muslim di Indonesia. Intinya menurut para munafikin, Amerika dan sekutunya bukanlah thaghut yang harus dimusuhi, karena mereka juga manusia dan pemimpin pembawa kedamaian  dan kebebasan (pluralism, humanism, dan lioberalisme).

            Kedua, merekayasa kesiapan psikologis umat Islam dengan doktrin dan pemaksaan bahwa negara kuat dan unggul, si kecil “David” yang berhadapan dengan raksasa “Goliath” (negara-negara Arab) dan mampu mengalahkan mereka. Apapun kemauan Israel harus dituruti.

            Ketiga, merancang agar wilayah-wilayah yang kaya SDA bisa dikuasai PBB (= baca Amerika) melalui tangan komprador lokal. Gerakan mereka yang sudah dianggap berhasil misalnya mengagendakan berdirinya Negara Israel dari Nil (Mesir) hingga Eufrat (Irak), meyiapkan pemerintahan Nasrani di Mesir Selatan (agenda ini yang saat ini sedang berjalan), membagi kekuasaan Sudan (Islam vs Kristen), merancang kekuasaan Sunni di Hijaz, merancang pusat pangkalan militer di Filipina, menjadikan sentral negara Kristen di Asia (Timor Timur), dan lain-lain.
          
  Keempat, menetralisir dunia Islam dari unsur-unsur perlawanan bersenjata dengan cara memukul gerakan jihad melalui serangkaian operasi pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpin dan menangkap anak buahnya dengan alasan ”membasmi pengacau keamanan”. Dari mulai Zia Ulhaq, Syeikh Yasin, Aiman Azhzhowahiri, Abdullah Azzam, Abu Mush’ab As-Suri, Usamah bin Ladin, Abdullah As-Sulaim (jendral Khtaththab), Nur Misuari, sampai rencana pembunuhan terhadap Ust. Abu Bakar Ba’asyir di Indonesia.
           
            Kelima, yang lebih berbahaya adalah menceraikan mujahidin dari umat Islam, dengan menjulukinya kaum khawarij, kelompok sesat, dan minoritas yang tidak mewakili suara umat Islam bahkan harus berlepas diri dari mereka. Gerakan musuh ini sedang trendi di Indonesia.


            Jangan pernah mengira bahwa skenario ini akan terjadi. Tidak untuk selamanya, “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka  dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. “ (At-Taubah:32) “Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah, mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan, dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan. Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu ke semuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Anfal: 36-37)


[Butir-butir Perlawanan, Bag.1]


  • Ust.Muntoha Bulqini


Diberdayakan oleh Blogger.