PROPAGANDA PERANG AHZAB






         THORIQUNA.ID -  Seorang panglima yang brilian adalah dia yang bisa menggunakan taktik atau senjata baru dalam peperangan. Khandaq / parit merupakan taktik atau senjata baru kedua yang digunakan Rasulullah saw  untuk berperang setelah taktik “barisan berlapis” dalam perang Badar. Ide penggalian parit / khandaq itu berasal dari Salman Al-Farisi, dialah penakluk Ahzab pertama sehingga Rasulullah  memberikan pujian pada Salman, “Salman adalah dari kami, golongan ahli bait,” untuk memotivasi lahirnya ide-ide yang bermanfaat, memuji mereka yang beramal bagi kemajuan umat dan mengikis fanatisme golongan.

          Penakluk Ahzab kedua yaitu Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw, yang berhasil membunuh intelijen Yahudi dengan sepotong tiang kayu. Ketika si Yahudi mengitari  rumah-rumah penampungan kaum wanita dan anak-anak. Kejadian itu membuat komunitas Yahudi berpikir bahwa Madinah memiliki penjaga-penjaga yang gagah berani dan sulit untuk ditembus. Setelah itu, umat Islam lepas dari ancaman bahaya yang hendak menimpa mereka.

          Perang Ahzab termasuk perang urat syaraf yang lebih banyak mengandalkan propaganda. Untuk masalah ini Allah telah mempersiapkan seorang penakluk Ahzab dari kabilah Ghathafan, Nu’aim bin Mas’ud. Dia menemui nabi untuk memberitahu perihal keislamannya yang tidak diketahui oleh kaumnya. Setelah mendengar pengakuan Nu’aim, Rasulullah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau hanya seorang diri, untuk itu cerai beraikan kesatuan mereka semampu kalian untuk membantu kami, karena perang adalah tipu daya.”

          Penakluk Ahzab keempat yaitu sosok intelijen muslim yang selalu dipercaya Rasulullah, Hudzaifah bin Al-Yaman. Rasulullah bersabda, “Siapa di antara kalian yang berani menjadi mata-mata untuk melaporkan musuh, niscaya ia selalu bersamaku di hari kiamat nanti?” Tidak ada seorangpun dari kami yang bersedia menyanggupi tawaran Rasulullah. Beliau kembali mengulangi sabdanya sampai tiga kali. Namun tidak ada yang sanggup melakukannya kemudian Rasulullah bersabda, “ Wahai Hudzaifah berdirilah kamu! Berangkatlah untuk memata-matai musuh.” (HR. Muslim)


Perang Dramatis

          Itulah para penakluk Ahzab yang telah dipilih Allah untuk membela Allah dan Rasul-Nya, menegakkan Dienul Islam. Mereka adalah umat pilihan yang sedang diuji keimanannya melalui serangkaian peperangan. Mahmud Syeit Khaththab dalam Rasulullah Sang Panglima, mengisahkan bahwa Rasulullah memimpin 3000  umat Islam untuk melawan 10.000 tentara Ahzab di bawah komando Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah yang terdiri dari 4000 tentara musyrikin Quraisy dan 6000 tentara aliansi dari Bani Sulaim, Asad, Fizarah, Asyja’, dan Ghathafan.

          Sebuah peperangan yang sangat dramatis, awal dan akhirnya berisi hal-hal yang sangat sulit dan dahsyat, sehingga Allah perlu memberikan catatan khusus dalam firmannya yaitu surat Al-Ahzab. “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Al-Ahzab: 10-11)

          Bagaimana tidak dramatis ? Umat Islam hanya tiga ribu dikepung oleh sepuluh ribu pasukan sekutu selama satu bulan. Ditambah dengan cuaca dingin dan badai topan yang sebenarnya Allah kirimkan untuk membantu umat Muhammad saw. Situasi  sulit itu akhirnya membelah umat dalam 2 golongan: Mukmin dan Munafiq. Mu’attib bin Qusyair  melontarkan kemunafikannya, “Muhammad telah menjanjikan bahwa kita akan menikmati gudang-gudang kekayaan Kisra dan kaisar Heraklius. Sementara (di saat sekarang ini) untuk buang air besar saja tidak ada satupun dari kita yang berani pergi melakukannya.” (Shoheh Tafsir Ibnu Katsir, Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Juz 21, 241).

          Sedangkan cobaan, kesukaran dan kesulitan, bagi orang-orang mukmin, semakin menambahkan keimanan mereka. Buktinya Allah memuji para penakluk Ahzab dengan dua hal: Mati syahid  atau menunggu datangnya syahid. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati janji apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah ( janjinya).” (Al-Ahzab: 23)


Ahzab Modern

          Pasukan Ahzab modern yang dipimpin Amerika sudah hampir satu abad mengepung umat Islam di seluruh dunia jika dihitung sejak runtuhnya kekhalifahan Turki pada 1924 sampai saat ini (1924-2015 = 91 tahun ). Dramatis ! 1 bulan berbanding 91 tahun. Sementara strategi koalisi Ahzab, dahulu dan sekarang tidak pernah berubah. Abu Mush’ab As-Suri menyebutnya dengan “koalisi dalang” Salibis-Yahudi yang terdiri dari Amerika – Israel atau dahulu Quraisy-Yahudi. Ditambah dengan “koalisi wayang” yang beranggotakan para penguasa bonek seperti Negara-negara Islam Timur Tengah, Asia, Afrika yang dahulu masa Rasulullah diduduki posisi kabilah-kabilah atau suku-suku di sekitar Madinah.

          Dalam rangka menghancurkan pasukan Ahzab, Rasulullah membuat skala prioritas musuh. Pertama, pasukan Quraisy-Yahudi seperti Bani Sulaim, Asad, Fizarah, dan Asyja’. Untuk menggempur mereka  Rasulullah membuat parit / khandaq sebagai taktik peperangan. Kedua, pasukan Yahudi bani Quraizhah yang cukup diserang dengan menggunakan peperangan opini / urat syaraf melalui sang propagandis, Nu’aim bin Mas’ud.

Sedangkan untuk menyerang pasukan Ahzab modern, mujahidin menyerukan perlawanan jihad global dengan membuat empat rangking prioritas musuh (Mush’ab As-Suri, Visi Politik Gerakan Jihad, 2010). Pertama, Yahudi, Nasrani Barat, Nasrani Timur. Kedua, Penguasa Kafir/ sekular, pembantu penguasa, ulama jahat, pasukan penjaga konstitusi Kafir. Ketiga, lembaga yang berafiliasi dengan penguasa, kelompok  cendikiawan (kaum Liberal), kelompok  fasik yang menyebarkan kekejian di masyarakat dengan berlindung di balik seni. Keempat, Ormas yang manhajnya menyimpang, Parpol nasionalis. Sebagai tambahan, prioritas Ahzab modern untuk wilayah Indonesia bisa dilihat dari dukungan setiap musuh Islam terhadap rezim kafir di negeri ini. Misalnya koalisi yang berada dalam deretan gerbang pendukung Jokowi antara lain pengusaha tertentu, kekuatan asing dan kelompok garis keras AS (hawkish), jendral-jendral, kelompok Syiah dan konglomerat hitam. (Bambang Soesatyo, Republik Komedi ½ Presiden, 2015)


Giliran Kita

          Perang Ahzab / Khandaq merupakan peperangan sengit kedua yang sangat menentukan nasib umat Islam setelah perang Badar Kubra. Andaikata koalisi Musyrikin Quraisy-Yahudi menang, niscaya lembaran sejarah Islam akan berubah. Bergabungnya pasukan Ahzab tersebut menjadi peluang emas yang tidak mungkin terulang kembali, terutama jika orang-orang Yahudi gagal memobilisasi pasukan Ahzab, apalagi gagal pula dalam memenangkan pertarungan dengan umat Islam. Artinya, di masa mendatang mereka tidak akan dapat bergabung kembali dan tidak akan mampu mengalahkan tentara Islam. Berkoalisi saja gagal mengalahkan umat Islam apalagi sendirin.

          Pelajaran penting lainnya adalah taktik Mubada’ah (memulai aksi lebih dahulu) di mana umat Islam  telah berpindah dari fase  defensive ke fase offensive.  Oleh karena itu Rasulullah mengatakan pada para sahabatnya setelah pasukan Ahzab mundur dari medan peperangan, “Sekarang , kita lah yang menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita.”  Setelah perang Khandaq inisiatif penyerangan berpindah dari kaum musyrikin kepada umat Islam. Bahkan umat Islam tidak pernah berhenti penyerang musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya hingga Islam menyebar ke seluruh Jazirah Arab. Itulah kebenaran Sang Sutradara tunggal, Allah subhanahu wata’ala. (QS. Al-Ahzab: 25 )

          Dalam masa pengepungan tentara Ahzab Modern, umat Islam telah melahirkan ash-Shahwah al-Islamiyyah  (gerakan kebangkitan Islam) dengan berbagai bentuk dan tujuan yakni mengembalikan Khilafah, pemerintahan Islam dan kebangkitan Islam. Rekam jejak gerakan itu menjadi catatan sejarah yang panjang, sejak eksperimen jihad Gerakan Pemuda Maroko 1963 sampai eksperimen jihad Al-Qaidah pada 11 September 2001 yang berhasil menghancurkan simbol ekonomi dajjal Amerika, WTC.

          Setelah tragedi WTC, para mujahidin ash-Shahwah al-Islamiyyah  seolah ingin mengatakan kepada dunia khususnya musuh-musuh Allah, “ Kini giliran kita yang mengepung pasukan Ahzab.”  Melalui strategi The Arab Springs, fir’aun Amerika sebagai komandan Ahzab Modern itu ‘bangkrut”, negaranya dibuat miskin oleh Allah. Bahkan negara-negara boneka fir’aun modern yang nota bene negara Islam pun satu demi satu hancur: Irak, Libya, Mesir, Sudan, Pakistan, Syuriah, Yaman dan tinggal menunggu Saudi Arabia.

          Kini, para Ahzab Modern tengah menghadapi mimpi buruk sebagai bentuk ketakutan mereka akan datangnya hari-hari gelap bagi mereka. Salah satu alasannya,  hampir semua negara di dunia di mana umat Islam berada sedang bergejolak untuk melawan dan menghancurkan hegemoni pasukan Ahzab.


          Wallahu ‘Alam.


  • Ust.Muntoha Bulqin

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.