KABILAH “BONEKA” VS UMAT ISLAM




TRORIQUNA.ID,
 Siapa yang akan mencopot kekuasaanku, saya akan menghadapinya.” (Harits bin Abi Syamr al-Ghassani)

Itulah respon penguasa Damaskus, Harits bin Abi Syamr al-Ghassani ketika Rasulullah saw. melayangkan surat dakwahnya, “… Sesungguhnya aku menyerumu untuk beriman kepada Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Maka kekuasaanmu akan tetap bagimu.” (Ar-Rahiq Al-Makhtum, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung, Muhammad, Syeikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, 2012,533) Siapa rezim boneka Ghassan ini ?

          Pada era di mana bangsa Arab meninggalkan kabilah-kabilahnya, ada satu marga dari suku Qadha’ah pergi ke daerah ujung Syam dan tinggal di sana (selanjutnya dikenal sebagai marga Dhaja’imah). Bangsa Rum (Romawi) sengaja memperlakukan mereka dengan baik agar orang daratan Arab tidak bersikap main-main, dan mau menjadi cadangan kekuatan untuk melawan Persi (Persia). Akhirnya bangsa Rum mengangkat salah seorang dari mereka sebagai raja dan tahta ini diwarisi secara turun temurun hingga beberapa tahun, sejak awal abad kedua masehi hingga penghujungnya. Kekuasaan mereka berakhir setelah kedatangan suku Ghassan yang mengalahkan dan menguasai marga Dhaja’imah. Lagi-lagi bangsa Rum mengangkat pendatang baru ini sebagai raja di kota Bashra. Suku Ghassan terus memegang tampuk kekuasaan di Syam dengan statusnya sebagai boneka raja-raja Romawi, sebelum akhirnya pecah perang Yarmuk tahun 13 H. Raja terakhir mereka, Jabalah bin al-Ahyam memeluk Islam pada masa khalifah Umar bin Khaththab.

          Begitu penting mengungkap gerakan “Boneka” jahiliyah, sehingga Jabir Qamihah menyebutnya dalam barisan musuh klasik Islam  yang direkrut oleh para laskar Kristus. Apalagi wilayah Syam yang dikenal sangat berdekatan dengan Imperium Romawi sehingga mudah bagi para missionaris Nasrani mendakwahi suku Ghassan, Kalb, Qadha’ah, Jadzam dan Amilah untuk memeluk agama Nasrani bahkan menjadi kekuatan perang yang diandalkan bangsa Romawi. ( Jabir Qamihah, Musuh-Musuh Islam, 2004, 69)


Model “Boneka”

          Para Salibis-Zionis sadar, mereka tidak akan selamanya bisa bertahan di negeri jajahan. Oleh karena itu mereka menyiapkan penguasa boneka yang akan menjamin kepentingannya. Itulah yang diterapkan Romawi pada suku Ghassan, begitupula rezim Ghassan gaya baru: penguasa Arab hari ini, sebelum atau sesudah tragedi Arab Springs.

          Berbagai cara dilakukan untuk memelihara penguasa boneka, pertama, model Perancis,  penguasa boneka hanya pajangan. Mereka menyiapkan penguasa boneka dan menanam orang di belakang layar untuk mengendalikannya. Contoh penguasa boneka di Maroko. Kedua, model Inggris, mereka mengendalikan boneka dengan hukum dan konstitusi yang sudah disiapkan sebelumnya sehingga sesuai dengan visi penjajah. Jika penguasa melawan penjajah, ia akan membentur tembok konstitusi sehingga tumbang sendiri. Ketiga, model Inggris dan Amerika. Model Inggris, kendali dilakukan dari dalam istana dan konstitusional. Sedangkan model Amerika, jika ada penguasa yang tidak loyal kepadanya, dikirim pasukan untuk mengkudeta secara kasar. Contoh gaya cowboy Amerika di Amerika Latin dan Negara Islam Timur Tengah. (Mush’ab As-Suri, Visi Politik Gerakan Jihad, 2010)

          Masa kepemimpinan Rasulullah, rekutrmen, mata-mata, agen dan informan dari individu atau suku-suku tetap menjadi rangkaian proyek prioritas dari kerajaan Persia dan Romawi. Pada perang Tabuk, Ka’ab bin Malik merupakan salah satu dari tiga orang terkenal yang mengundurkan diri dari peperangan tersebut. Saat menjalani hukuman pengucilannya, rezim Ghassan, Jabalah bin al-Ahyam “merayu” agar Ka’ab murtad dari Islam dan menjadi penyair untuk melawan umat Islam.

          Abu Amir lebih keji lagi permusuhannya dengan Islam. Nama aslinya Abdu Amir bin Shaifi, pemimpin suku Aus yang dijuluki rahib setelah masuk Nasrani. Setelah semua rencananya gagal untuk membunuh Rasulullah dan menghancurkan umat Islam, ia meminta suaka pada Heraklius, rezim thoghut Romawi untuk menyusun siasat keji dengan orang-orang Munafik dengan cara mendirikan mesjid Dhirar, meskipun akhirnya dibakar atas perintah Rasulullah.

          Berikutnya, Sajah binti Harits dari Bani Yarbu, anggota Bani Tamim tetangga imperium Persia. Dialah perempuan pertama yang mengaku nabi setelah wafatnya Rasulullah. Siapa yang tidak kenal dengan Abu Lu’lu’ah ? Seorang Nasrani dan hamba saya Persia yang ditawan pada peperangan Nahawan. Khalifah Umar bin Khaththab menemui ajalnya di tangan orang ini. Melalui tangan-tangan mereka musuh-musuh Islam telah berhasil memunculkan gerakan murtad dan meningkatkan sentimen  kekabilahan. Orang-orang semacam Sajah dan Abu Lu’lu’ah di sepanjang sejarah selalu menjadi alat spionase dan propaganda seperti yang dilakukan imperium Persia.

          Prinsip yang diterapkan oleh musuh Allah untuk model penguasa boneka hanya satu: terjaganya kekuasaan,  bukan yang lain. Ubudiyah berubah menjadi milik penguasa bukan milik Allah. Sehingga penguasa menjelma menjadi berhala yang disembah selain Allah seperti yang terjadi di negeri Haramain, Saudi Arabia. (Syeikh Usamah bin Laden, At-Taujihat al-Manhajiyyah, 3 Idha’at ala Thariqil Jihad, Dari Usamah kepada para Aktivis, 2008)




Hancurnya Puzzle Boneka     

          Penguasa boneka yang berwala’ pada thaghut Romawi dan Persia dapat dihancurkan oleh Rasulullah dan sahabatnya pada perang Tabuk dan perang Yarmuk. Setelah itu menjelang kehancuran kekhalifahan Usmaniyah pada tahun 1924, para thaghut Salibis-Zionis mulai membagi-bagi wilayah Islam seperti kepingan puzzle, di antaranya dengan cara perjanjian Sykes-Picot dan Deklarasi Balfour serta perjanjian lainnya pasca Perang Dunia I-II sebagai strategi keji untuk menghancurkan Islam.

          Perjanjian Sykes-Picot yang ditanda tangani pada 16 Mei 1916 merupakan perjanjian rahasia antara thaghut Britania Raya (Inggris) , Perancis dan Rusia. Ketiga Negara itu berhasil membelah negara-negara Arab di bawah ketiak mereka. Deklarasi Balfour yang dikeluarkan pada 2 November 1917 oleh thaghut Inggris berhasil mendirikan Negara Israel di bumi Palestina yang diproklamasikan pada 1948.

          Sejak Desember 2010 sampai Agustus 2011 pengausa-penguasa boneka mulai dilanda gelombang revolusi oleh umat Islam untuk memprotes kebijakan mereka. Sehingga pada Januari 2011 thaghut  Zine al-Abidine Ben Ali  penguasa boneka Tunisia dilengserkan oleh umat Islam di negeranya. Thaghut Husni Mubarak penguasa boneka Mesir dilengserkan pada Februari 2011. Thaghut Muammar Gaddafi penguasa Libya tewas digantung umat Islam pada tahun 2013 menyusul thaghut Saddam Husein yang juga bernasib sama pada tahun 2013. Sedangkan thaghut Syiah Bashar Asad kekuasaannya sampai saat ini masih  diserang oleh umat Islam Sunni untuk membalas dendam atas kematian umat Islam Suriah. Thaghut Ali Abdullah Saleh dilengserkan pada tahun 2014. Masih banyak thaghut-thaghut boneka yang sedang dalam proses dibumi hanguskan oleh umat Islam.

          Peperangan melawan rezim boneka yang hingga saat ini masih berlangsung di berbagai kabilah-kabilah boneka yang berlindung di bawah ketiak Fir’aun Amerika mengisyaratkan pada kita bahwa perjanjian yang dulu dirancang untuk membelah negara-negara Islam di seluruh dunia semacam Sykes-Picot dan Balfour atau lainnya, kini sudah mulai hancur.

          Wallahu’alam.


 Penulis : 


  • Ust.Muntoha Bulqin




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.