Tragedi Rusaknya Fitrah & Tauhid




Thoriquna.id - Sebagai rasa syukur dalam menyambut kenikmatan hidup yang Allah berikan pada kita saat  ini, maka sudah selayaknya kita kembalikan fitrah kemanusiaan kita sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah swt., yaitu fitrah bertauhid. Seperti Allah perintahkan dalam surah Ar-Rum: 30: “ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama Allah, yaitu fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

Rasulullah pun menegaskan dalam sabdanya, “ setiap bayi dilahirkan secara fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani atau Majusi. “ (HR. Bukhari)

            Namun, lingkungan yang menyimpang  telah merusak kelurusan fitrah kita. Padahal Allah telah memuliakan manusia melebihi malaikat dan makhluk lainnya. Tidak aneh apabila lingkungan yang menyimpang itu mencampakkan kita pada derajat yang paling hina dan rendah.

            “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (Ath-Thin: 4-5)

            Siapa yang bisa survive terhadap “kepungan” lingkungan itu ? Siapa yang mampu bertahan dari program syetan yang siap  mencampakkannya pada derajat kehinaan ? Jawabannya, hanyalah orang-orang yang beriman.

            “ Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” ( Ath-Thin: 6 )

            Fitrah yang lurus bisa rusak karena beberapa faktor: ( Abu Ammar, Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman, ….) Pertama, faktor lingkungan yang rusak dan menyimpang. Lingkungan yang rusak dan menyimpang akan mengeruhkan kesucian fitrah, sehingga ia tidak mampu mengimani hal-hal yang ghaib dan perkara-perkara yang tidak bisa digapai dengan panca indra. Akibatnya ia menginginkan ilah yang bisa digapai oleh panca indra, lalu ia beribadah kepadanya.

            Kita bukan tidak tahu bahwa lingkungan yang rusak dn menyimpang sudah pasti berlandaskan pada sistem syirik yang rapuh. Anehnya, sistem ini digunakan untuk mengatur kehidupan bahkan kita rela mati untuknya, pantas saja Rasulullah saw. memperingatkan : “ Sungguh kamu akan mengikuti  jejak orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah apakah orang Yahudi dan Nasrani ?” Jawab nabi, “Siapa lagi ?” ( HR. Bukhari)

            Apalah artinya perjuangan melawan hawa nafsu, jika kita telah kehilangan kepribadian Islami ? kiranya kemenangan kita dalam mengalahkan hawa nafsu dalam bentuk ibadah apapun patut ditangisi karena kita telah mengadopsi kepribadian dan gaya hidup kaum yang telah dikutuk oleh Allah sebagai kaum yang menyerupai kera, anjing dan babi, yakni kaum Yahudi dan Nasrani, Salibis-Zionis.

            Lingkungan kita yang rusak dan menyimpang ini telah melahirkan satu generasi yang oleh Al-Qur’an dinamakan generasi Adhous Sholat dan Ittiba’usy Syahawat.

            “ Maka datanglah sesudah mereka pengganti ( yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. “ ( Maryam: 59 )

            Di mata manusia, bisa disadari betapa jahatnya orang yang mengumbar hawa nafsunya. Lantas lebih tinggi kejahatannya, berarti kerusakan yang amat parah. Rasulullah saw, pernah menegur kita:

            “ Tali-tali Islam akan putus satu persatu, maka setiap kali putus satu tali (lalu) manusia (dengan sendirinya) bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertama kali putus adalah hukumnya, sedangkan yang terakhir (putus) adalah sholat.” (HR. Ahmad)  

            Kedua, karena merasa asing dan kesepian dari Ilah yang jauh dan tidak bisa digapai dengan panca indra, maka manusia merasa butuh kepada ‘ilah kecil’ sebagai wakil atau pemberi syafa’at atau perantara dengan ilah yang sesungguhnya, yang tidak bisa digapai dengan panca indra.

            Sikap merasa butuh pada ilah kecil ini menjadi racun yang merusak fitrah kita, bahkan menjerumuskannya pada lubang kesyirikan. Jika orang-orang musyrik pada zaman Jahiliyah menamakan perbuatan mereka sebagai meminta syafa’at dan mencari perantara untuk mendekatkan diri pada Allah, maka orang-orang musyrik modern menyebut perbuatan tersebut sebagai tawassul, meminta syafa’at atau istighosah.

            Meskipun meracuni fitrah dan tauhid serta dihukumi syirik akbar, orang-orang musyrik baik dulu maupun sekarang masih getol membela mati-matian perbuatan syiriknya. Allah berfirman.
            “ Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak  dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus: 18) “ Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah mengatakan, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

Orang-orang musyrik dahulu dan sekarang selalu mencari pembenaran bagi kemusyrikan mereka. Alasan pembenaran itu dikemas ulang oleh para alim-ulama dan penguasa untuk menjerumuskan fitrah umat Islam pada jurang syirik akbar.

Ketiga, faktor thaghut-thaghut manusia yang menindas fitrah dan merubahnya dengan kekuatan sehingga memperbudak manusia dan menggiring mereka untuk beribadah kepada thaghut-thaghut tersebut.

Thaghut-thaghut itu menghalalkan, mengharamkan, memerintahkan, melarang dan menetapkan peraturan kehidupan tanpa mendapat izin dari Allah, tanpa berlandaskan pada hukum Allah dan Rasul-Nya. Maka orang-orang yang fitrahnya tertutup menjadikan para thaghut tersebut sebagai rabb-rabb      ( tuhan-tuhan pengatur kehidupan) selain Allah.

Sejak kaum ‘Ad, Tsamud, Luth, Madyan sampai umat Muhammad saw., thaghut-thaghut manusia selalu mengingkari dakwah tauhid para nabi dan rasul yang selalu mengajarkan ‘campur tangan’ dienullah dalam kehidupan duniawi mereka.

Menurut pemikiran Jahiliyah mereka, sesungguhnya urusan ekonomi, sosial dan aspek kehidupan lainnya adalah urusan duniawi belaka, urusan manusia semata. Dalam beragam aspek kehidupan ‘duniawi’ itu, manusia berhak membuat aturan, menghalalkan atau mengharamkan, mewajibkan atau melarang sesuai kehendak mereka, tanpa ada hak sedikitpun bagi Allah dan Dien Allah utnuk ‘turut campur’.

Coba perhatikan bagaimana penentangan penduduk Madyan terhadap dakwah nabi Syu’aib: “ Dan kepada (penduduk) Madyan  (Kami utus) saudara mereka Syu’aib. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (kiamat).” (Hud: 84)

Penduduk Madyan tidak menentang dakwah nabi Syua’ib dalam persoalan aqidah semata. Lebih dari itu dengan spirit sekualrisme menentang ‘campur tangan’ Dien Allah dalam aspek-aspek kehidupan mereka.
“ Mereka berkata, “Hai Syi’aib, apakah sholatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apapun yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (Hud: 87)

Saat ini thaghut-thaghut Salibis-Zionis telah mencengkeram umat Islam dengan berbagai sistem agar kita menjauhi fitrah  tauhidnya, membenci dan memerangi Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Seperti makanan dalam sebuah hidangan, umat Islam diobok-obok dari berbagai penjuru:
“ Akan datang suatu masa, ketika berbagai kelompok (kafir) bahu membahu memerangi kalian, seperti orang-orang lapar mengerubuti wadah hidangan.” Sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kita waktu itu sedikit ?” beliau bersabda, “ Bahkan jumlah kaoian waktu itu sangatlah banyak. Tetapi saat itu kalian seperti buih di lautan, sehingga Allah mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan hati kaloian terkena penyakit wahn.”Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah penyakit wahn itu ?” Rasulullah bersabda, “Penyakit cinta dunia dan takut mati.” ( HR, Abu Daud dari Tsauban).

Suatu masa dalam hadis Rasulullah di atas bagi kaum Yahudi-Nasrani, sat ini mereka namakan: ‘Abadnya Zionis dan Amerika’. Inilah program pertama peperangan untuk merusak fitrah dan tauhid umat Islam. program kedua, dengan menggunakan senjata ‘Tiga Akar Kesyirikan’ yang mereka gali dari firman Allah:
“ Dan orang musyrik berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia. Baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa seizing-Nya.” ( An-Nahl: 35 )

            Senjata pertama, mengajak umat Islam agar tidak beriman pada keesaan Allah. Senjata kedua menujukan ibadah umat Islam kepada selain Allah. Senjata ketiga menghalalkan dan mengharamkan tanpa izin Allah.

            Tiga akar kesyirikan (masalah aqidah, ibadah dan hukum) ini telah berhasil membunuh fitrah dan tauhid umat Islam dalam waktu yang cukup panjang, puluhan bahkan ratusan tahun. Berawal dari penjajahan ‘klasik’ super power katholik  Spanyol dan Portugis pada abad ke 16 – 17. Dilanjutkan oleh penjajahan ‘modern’ super power Inggeris, Perancis, Belanda, Italia, Rusia dan Jerman. Kemudian dilanggengkan oleh pewarisnya: Amerika dan Inggris.
            Bila kita cermati ternyata benar apa yang beritakan Rasulullah dalam hadis di atas, “ Allah mencabut rasa takut dari thaghut-thaghut manusias itu,”  di saat yang sama umat Islam terjangkit penyakit ‘wahn’, cinta dunia dan takut mati. 

            Program ketiga, thaghut Salibis-Zionis menjadikan pemimpin-pemimpin Islam di seluruh dunia sebagai ‘boneka’ mereka, yang siap menerapkan bahkan membela sampai tets darah penghabisan sistem thaghut itu.

            Para boneka thaghut itu, beridentaskan muslim dengan nama, bahasa, warna kulit dan suku bangsa yang sama. Namun, secara aqidah, syariah dan pedoman hidup mereka adalah thaghut-thaghut nasional yang menjadi kaki tangan thaghut Salibis-Zionis. Allah kembali memperingatkan:
            “ Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).”  (Al-Qashash: 41-42)

            Mereka adalah pemerintahan thaghut yang menjerumuskan rakyat kepada jurang kekafiran, kesyirikan dan kemurtadan. Mereka adalah pemerintahan thaghut yang ucapannya manis, menggiurkan dan meninabobokan kaum muslimin. Mereka mengangkat slogan’surgawi’, kesejahteraan rakyat, kemerdekaan, kebebasan, HAM, keadilan dan penegakan hukum. Namun, perbuatan mereka menjerumsukan rakyat ke jurang api neraka.

            Dalam hadis Hudzaifah bin Yaman, Rasulullah memperingatkan tentang bahaya mereka yang tidak kalah dari bahaya kaum Salibis-Zionis.
            “ Para pengajak pintu neraka Jahannam. Barangsiapa memenuhi ajakan mereka, niscaya mereka akan melemparkannya ke dalam neraka Jahannam. Hudzaifah berkata, “Terangkanlah sifat mereka kepada kami wahai rasulullah !” Nabi menjawab, “Mereka berasal dari satu kulit dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.” (HR. Bukhari)

            Tragedi rusaknya fitrah dan tauhid ini disebabkan umat Islam tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai dusturul hayah  (landasan hidup) apalagi dusturud Daulah (landasan hukum bernegara). Coba buka kembali pikiran, hati dan perasaan kita terhadap firman Allah surah Al-An’am ayat 122.
            “ Apakah sama orang yang mati,  lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya (Al-Qur’an) yang ia  bawa berjalan di tengah    manusia, dengan orang yang berada dalam berbagai kegelapan di mana ia tidak bisa keluar darinya (kegelapan-kegelapan itu). Demikianlah diperlihatkan baik pada orang-orang kafir itu apa saja yang mereka lakukan.”

            Melalui kacamata Al-Qur’an kita bisa lihat bahawa orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran Al-Qur’an, atau menerima kebenarannya tetapi tidak mau mengamalkan dan menyebarkannya di tengah masyarakat sesuai profesi, mereka adalah orang-orang yang mati atau bangkai-bangkai berjalan.

            Meskipun secara lahiriyah merekan hidup, bekerja, melakukan sidang parlemen, rapat cabinet, meeting, bisnis, sekolah, berkumpul di rumah bersama istri dan anak-anak, belanja di pasar dan seterusnya. Bukan hanya sampai di situ, menurut kaca mata Al-Qur’an mereka hidup dalam berbagai  kegelapan yang berlapis-lapis, sehingga semua aktivitas dalam keadaan bingung, meraba-raba, tidak jelas arah dan tujuannya. Allah memperingatkan kita dalam surah An-Nur: 39-40.
            “ Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka laksana  fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungannya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di  atasnya ombak pula, di atasnya lagi awan, gelap gulita yang tindih bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tidaklah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”

            Sebaliknya orang-orang yang menerima kebenaran Al-Qur’an lalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, di manapun berada, apapun profesinya, Al-Qur’an lah yang menjadi petunjuk hidupnya. Mereka Adalah Orang-Orang Benar Hidup.   Bukan hanya itu, hidupnya dalam cahaya Allah    yang terang benderrang, sehingga semua aktifitas hidup yang dijalankannya bernilai tinggi dan tidak ada yang sia-sia apalagi        keliru dan tersesat.

            Hampir satu katapun tidak terlihat dan terucap himbauan kepada pemerintah dan umat Islam untuk  kembali kepada Al-Qur’an sebagai satu-satunya jalan keluar dari berbagai    krisis  yang sedang meliliot negeri ini. Apalagi melakukan Qur’anisasi  sistem dan peraturan pemerintahan. Kalaupun tidak berupa himbauan, dalam bentuk keteladanan hidup dan berpolitikpun tidak tampak sebagai orang yang meyakini dan membawa cahaya Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat.

            Siapapun yang memimpin negeri ini, tidak akan pernah ada perubahan  dan perbaikan. Karena meraka tidak menggunakan syariat Allah: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menurut Al-Qur’an, “bangkai-bangkai berjalan” mustahil mampu keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Apalagi mengeluarkan orang lain dari berbagai persoalan hidupnya. Amal perbuatan mereka bagaikan    fatamorgana, khususnya keluar meraih keridhaan, keberkahan dan rahmat Allah. Ajaibnya, mereka mengira sedang berbuat baik dan yang terbaik untuk kehidupan. Allah memperingatkan kembali dalam surah Al-Kahfi ayat 103-105:
            “ Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka itu orang-oran yang kufur terhadap ayat-ayatdan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Rabbnya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”

            Namun demikian tidak ada suatu   tragedy, krisis, musibah dan bencana, kecuali semuanya berpulang pada ulah tangan-tangan manusia. Allah menegur kita dalam surah Asy-Syu’ara: 30:
            “Dan musibah yang menimpa kamu   disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebaagian besar (kesalahan-kesalahanmu).”

             Perubahan dan perbaikan dengan demikian Perubahan dan perbaikan dengan demikian  menjadi sebuah keharusan dalam rangka menyelesaikan tragdei dan krisis ini yang sudah barang tentu harus dimulai dari diri kita. Semuanya harus bertekad dan komitmen untuk bertaubat, berubah dan memperbaiki diri. Mengubah akhlak yang korup menjadi amanah dan jujur. Mengubah sifat munafik menjadi lurus, terbuka dan patuh. Mengubah kebiasaan berbuat maksiat menjadi senantiasa berbuat baik dan taat. Mengubah perilaku zhalim, takabbur dan sombong menjadi adil ddan tawadhu.

            Kita harus sadarbahwa setiap kerusakan dan musibah yang menjadi korban bukan hanya orang-orang yang berbuat kerusakan dan kejahatan, salibis-zionis dan antek-anteknya. Tetapi merata bagi yang lainnya, apakah mereka yang tidak tahu menahu maupun    yang berbuat kejahatan itu sendiri. Allah memperingatkan kembali     dalam surah Al-Anfal: 25:
            “ Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim di antara kamu, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaannya.”

            Kita harus berupaya menghindarkan fitnah atau kerusakan  yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan fasik, salibis-zionis.kita harus menolak kemungkaran dan mengingkarinya. Lalu melakukan perbaikan terus menerus sampai kebenaran dan orang-orang yang benar dapat eksis dan tegak di atas kebathilan dan orang-orang yang bathil. Dalam ayat lain Allah mengingatkan kembali:

            “ Hai orang-orang yang beriman rukulah kamu, sujudklah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” ( Al-Hajj: 76-77)

Wallohu’alam.

Penulis : 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.