RINDU PEMIMPIN YANG ADIL




THORIQUNA.ID - Keberadaan pemimpin merupakan keharusan bagi manusia, seperti adanya air untuk kehidupan, karena tidak ada kebahagiaan bagi manusia kecuali bila ada pemimpin.
            Keadilan dan kebenaran tidak akan tampak kecuali dengan adanya kekuasaan pemimpin. Manusia akan menjadi lemah tanpa pemimpin dan jika mereka lemah maka mereka tidak akan mendapatkan kemaslahatan, hukum-hukum syariat tidak bisa ditegakkan dan hukum Islam tidak dilaksanakan,sehingga mereka tidak nyaman hidupnya, tidak mendapatkan kemuliaan dan tidak dapat mengusir yang zhalim jika mereka lemah. Sebagaimana ssabda Rasulullah saw.
            “Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) merupakan pelindung. Dia bersama pengikutnya memerangi orang Kafir dan orang zhalim serta memberi perlindungan kepada orang-orang Islam.” ( HR. Bukhari)

            Oleh karena itu, Allah menempatkan para pemimpin pada kedudukan yang tinggi dan mulia. Mereka itu wakil Allah di muka bumi dan termasuk orang-orang yang dicintai Allah di hari kiamat.
            “Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah pada hari Kiamat dan paling dekat tempat duduknya adalah seorang imam yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci Allah pada hari Kiamat dan paling jauh tempat duduknya adalah imam yang lalim. “ (HR. Tirmidzi)

            Saat ini kita merindukan pemimpin yang adil. Bahkan kerinduan itu laksana mimpi yang tak berujung, berputar dalam serial panjang di alam dunia yang sudah mendekati akhir zaman. Pergulatannyta mengerikan karena model-model kepemimpinannya nyaris menggelincirkan kita ke lembah maksiat dan murka Allah. Ada fitnah syiah dengan model kepemimpinan para imam yang ma’shum;  ada fitnah khawarij dengan ikon besarnya Abu Bakar Al-baghdadi dan ISIS-nya; ada fitnah komunis  dengan model markaenisme-nya, dan sebagainya.

            Ada banyak kriteria pemimpin yang kita rindukan: pertama,  kita rindu pemimpin yang berorientasi akhirat. Artinya segala hal-hal yang menyangkut otoritas kepemimpinan, harus benar-benar kita jalankan dengan menghitung apakah kebijakannya  akan berujung pada dosa dan murka Allah atau bisa mendekatkan diri kepada Allah. Hanya kalkulasi untung rugi di akhirat sajalah yang membuat kita tunduk secara total.    Bukan pada performa kepemimpinan itu sendiri atau mitos kewibawaan, melainkan ukuran syariat Islam.

            Kedua, kita rindu pemimpin yang menyayangi sepenuh hatinya. Sebab kita bukan komoditas, maka tidak mau diperjual belikan demi kepentingan seonggok kursi atau jabatan. Maka orang-orang yang tidak bisa menyayangi sepenuh hatinya sebaiknya tidak usah memimpin. Rasulullah saw pernah berpesan, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang yang mencintai kalian dan kalianpun mencintai mereka. Yang kalian mendoakan mereka dan merekapun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Yang melaknat kalian dan kalianpun melaknat mereka.”

            Ketiga, kita rindu pemimpin yang berani menunaikan hak orang yang dipimpinnya. Allah menegur kita dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada Kamu sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Melihat.” (An-Nisa: 58)

            Jabatan bukan hak pribadi ataupun turunan, tetapi ia hak masyarakat. Karenanya, ketika Abu Dzar Al-Ghifari meminta suatu jabatan, nabi kemudian menegurnya, “Itu adalah amanat, ia adalah nista dan penyesalan di hari kemudian, kecuali yang menerimanya dengan hak (sesuai aturan mainnya) dan menunaikan kewajibannya.”

              Ada banyak kerinduan kita untuk para pemimpin. Pemimpin Yang tidak rakus, yang tidak memakan harta rakyat dengan cara yang tidak sah. Pemimpin yang cerdas dan pandai menghadapi berbagai masalah.

            Kita rindu kepada begitu banyak tipe pemimpin yang baik, lebih dari sekedar tiga contoh di atas. Mengapa ? Sebab, pada diri seorang pemimpin ada ‘nasib’ kita. Karenanya, kepemimpinan ada di banyak tempat. Di organisasi masyarakat dan politik, di paguyuban sosial kemasyarakatan, dan sebagainya.
            Mengapa kita rindu akan  pemimpin ? Karena sejatinya “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Dan imam adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari)

            Begitu berserakannya kriteria kepemimpinan yang kita rindukan. Kita bisa mengurai detil kerinduan itu pada potret-potret manusia di sepanjang waktu. Siapa tahu di antara mereka mau berbuat adil. Meskipun sebenarnya itu tak lebih merupakan sebentuk penunaian kewajiban, seperti pepatah, “Tak perlu diterima kasihi atas sesuatu yang memang wajib dijalani.”

            Lalu, entah kepada siapa kerinduan ini kita titipkan ? Bila kerinduan ini tak juga sampai kepada pemimpin tertinggi, biarlah ia menjadi kerinduan bersama di antara kita. Dengan ayah, ibu, adik, anak, teman, sahabat, tetangga atau karib kerabat. Toh, keseharian kita lebih sederhan dari retorika kekuasaan orang-orang rakus di pentas politik yang berdebu.

            Kita percaya, bahwa setiap legenda tak pernah dusta pada dirinya sendiri. Dia akan mencatat hitam-putih  wajah pemimpin: siapa, kapan dan di manapun berada ? Dan jika kerinduan ini tidak juga terjawab. Biarlah ia menjadi pengaduan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa. Semoga Allah memudahkan kita untuk mewujudkan pencarian kita pada pemimpin yang adil.
Wallohu a’lam.

 Penulis : 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.