RAMADHAN DI AKHIR ZAMAN




“Demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 53 )

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum  sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: 11 )

Perubahan adalah hukum general yang meliputi semua jenis dan ras manusia baik mukmin atau kafir. Ditunjukkan dengan kata qoumun ( nakiroh=umum), maknanya mencakup setiap kelompok, organisasi, masyarakat atau Negara tanpa memandang agamanya. Mencakup ruang dan waktu ( masa lalu, kini dan akan dating). Mencakup jenis kelamin (laki-laki dan perempuan).

Perubahan yang berdampak dan dituntut dalam konsep Islam adalah perubahan kolektif bukan individual. Perubahan adakalnya positif dan negative. Perubahan adalah peralihan dari satu kondisi ke kondisi lain, dari satu tatanan ke tatanan lain, dari satu sifat ke sifat lain baik positif atau negatif.

Zaman Abrahah

Ketika Abrahah datang untuk menghancurkan Ka’bah, penduduk Mekah hanya pasif, bersembunyi ke lorong-lorong gunung, mengosongkan kota Mekah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Abrahah.

Setelah itu turunlah burung-burung Ababil atas perintah Allah untuk meluluh-lantahkan kekuatan Abrahah dan bala tentaranya.

Sedangkan orang-orang beriman hanya berdiam diri tidak menghunus pedang dan tidak melakukan peperangan.

Nabi Nuh mengalami hal serupa,
“Maka dia mengadu kepada Rabb-nya, “Bahwa aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)”. (QS. Al-Qomar: 10) “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.”  “Dan kami jadikan bumi memancarkan mata air- mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan,” “Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al-Qomar: 11-13)

Tidak ada pertempuran antara orang-orang beriman dengan orang-orang kafir. Namun, yang terjadi adalah badai topan besar. Dalam kejadian luar biasa ini Allah mengangkut semua orang beriman ke bahtera.

Nabi Luth pun mengalami kondisi yang sama. “(Luth berdoa), “Ya Rabb-ku, selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan. (QS. Asyu-Syu’ara: 169).

Maka datanglah perintah dari Allah: “Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.” (QS. Al-Hijr: 65)

Sama sekali tidak ada pertempuran. Kemudian Allah menerangkan peristiwa yang menimpa para penghuni negeri yang zalim itu setelah nabi Luth keluar dari sana. Allah berfirman: “Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.” (QS. Al-Hjr: 74 )

Nabi Musa dan kaumnya tidak diperintahkan untuk membunuh Fir’aun, melainkan diperintahkan untuk keluar dari negeri Mesir.“… Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS. Yunus: 88 ) “(Allah berfirman), “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari. Sesungguhnya kamu akan dikejar.” (QS. Ad-Dukhan: 23)

Sama sekali tidak ada pertumpahan darah. Tidak ada korban atau kesyahidan dan semua Bani Israil selamat. Semua persitiwa di atas merupakan sunnatullah  yang senantiasa ada dan akan berlaku dalam berinteraksi dengan musuh-musuh kebenaran.

Era Nubuwah

Peristiwa “pasukan bergajah” merupakan persitiwa terakhir dalam menolong agama Allah dengan cara yang luar biasa.

Yang berubah bersamaan dengan kelahiran Rasulullah saw., adalah cara pemusnahannya. Jika sebelumnya, kaum yang zalim dibinasakan dengan peristiwa yang luar biasa dan tidak masuk akal.

Sedangkan pada syariat Muhammad saw., kaum muslimin lebih dahulu dituntut beramal dan berbuat secara ikhlas kepada Allah semata dan sesuai sunnah Rasulullah saw. Misalnya kaum muslimin diperintahkan untuk berperang: Perang Badar, Ahzab,  khandaq, uhud, dan lainnya.

Jika kaum muslimin tidak mempersembahkan amal dan usaha keras, niscaya Allah tidak akan menurunkan bantuan berupa  “burung-burung ababil”

Yang menjadi sunnatullah pada syariat Muhammad saw adalah: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).

Dalam masa Nubuwwah ini, Allah telah memberikan aturan-aturan yang jelas dalam melakukan perubahan dan keberadaannya sesuai tahapan yang dilalui umat Islam.

Suatu masa, umat Islam cukup berdakwah, baik secara rahasia atau terang-terangan. Terkadang umat Islam perlu melakukan perjanjian damai. Namun di saat yang lain perlu meninggikan bendera jihad. Terkadang, dituntut untuk memerangi suatu kaum. Tetapi pada saat yang sama mereka tidak perlu memerang kaum yang lain. Dan saat yang lain, mereka harus memerangi seluruh orang kafir.

Rumus Kehidupan

Kehidupan tidak pernah tetap pada sebuah kondisi. “Dan masa ( kejayaan dan kehancuran ) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran ).” ( Ali-Imran: 140 )

Terkadang kita kaya, tetapi kadang miskin. Suatu saat kita mulia, namun saat lain kita hina. Adakalanya kita membahagiakan teman tetapi tidak jarang kita menyenangkan lawan.

Karenanya, menurut Ibnul Jauzi, orang terhormat adalah orang yang berpegang teguh pada suatu amalan dalam seluruh situasi yakni bertakwa pada Allah. (Ibnul Jauzi, Shaid al-Khathir, Nasihat Bijak Penyegar Iman, Yogyakarta, Darul Uswah, 2002, hal. 175)

Prinsip untuk memperteguh ketakwaan.

Pertama, jika engkau menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu.(QS.Muhammad: 7 ).

Kedua, umat Islam adalah umat yang tidak pernah mati dan tidak akan mati. (QS. Al-Isra: 15) (At-Taubah: 38-39 )( Muhammad:38)

Ketiga, umat yang zhalim dan memusuhi kaum mukminin pasti akan binasa. As-Sajdah: 26) (Ali-Imran: 196-197).

Keempat, kegagalan sangat erat kaitannya dengan perpecahan dan berbantah-bantahan. (Al-Anfal:46) (An-Nahl: 92) (Ali-Imran: 103, 105)

Kelima, kemenangan tidak diimpor dari Negara lain.

Keenam, “Kamu akan dipimpin orang yang sesuai dengan kondisimu.” (Az-Zukhruf:54)

Ketujuh, waspadai strategi usang yang diusung musuh Allah.

Kedelapan, umat Islam banyak memiliki potensi sehinga mereka mampu berbuat lebih banyak.

Kesembilan, “Aku akan memerangi mereka sendirian, hingga anggota tubuhku berserakan, aku akan memerangi mereka sendirian, hingga batang leherku terpenggal.” (ungakapan Abu Bakar Shiddieq, khalifah pertama).

 Kesepuluh, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan. ( Raghib As-Sirjani, Bukan Zaman Abrahah, Solo, Aqwam, 2006 )


Era Fitnah

Ramadhan di era fitnah memiliki arti yang ‘spesial’ bagi umat Islam. Karena amalan apapun di era fitnah pahalanya lebih besar dibandingkan dengan masa-masa sahabat dahulu.

“Sesungguhnya di belakang kalian kelak akan ada masa-masa yang menuntut kesabaran ekstra. Orang yang bersabar di atas ajaran agama (Islam) pada masa itu bagaikan orang yang menggenggam bara api. Orang yang beramal (berjuang demi Islam) pada masa itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya. Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pahala lima puluh orang di antara mereka ?” Beliau menjawab, “Bahkan pahala lima puluh orang di antara kalian.” (HR. Abu Daud )
            

Penulis :

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.