MEMILIH PEMIMPIN ADALAH IBADAH






           THORIQUNA.ID - Manusia merupakan makhluk yang memiliki fitrah beribadah. Namun, dalam mewujudkan fitrah beribadah tersebut, manusia akan mengalami beberapa keadaan: pertama, beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Kedua, beribadah kepada satu Ilah selain Allah atau Ilah-Ilah atau Tuhan-Tuhan selain Allah. Ketiga, beribadah kepada Allah di samping beribadah kepada satu Ilah alain atau Ilah-Ilahatau Tuhan-Tuhan selain-Nya.

            Tidak ada manusia yang tidak beribadah. Semua manusia beribadah. Ketika manusia mengklaim tidak percaya pada Ilah, ‘bebas merdeka’, dan tidak mau beribadah kepada siapapun termasuk kepada Ilah, sejatinya ia sebagaimana  yang difirmankan Allah:
            “Maka apakah kamu pernah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya?” (Al-Jatsiyah:23)

            Orang yang tidak mau beribadah kepada apapun, pada dasarnya sedang beribadah, yaitu beribadah kepada selain Allah, beribadah kepada hawa nafsu, dan beribadah kepada syetan yang membisikkan hawa nafsu.

            Jika demikian, persoalannya bukan terletak pada ibadah itu sendiri, karena setiap manusia adalah orang yang beribadah. Persoalannya terletak pada ibadah yang benar. Atau dengan kata lain: siapa  yang diibadahi ? Siapa Ilah yang berhak diibadahi ?  Apakah Allah yang tiada Ilah yang hak selain Dia ? Ataukah ilah-ilah atau tuhan-tuhan lainnya bersama Allah atau selain Allah yang hakikatnya tidak memiliki hak uluhiyah, sehingga tidak berhak diibadahi, ditaati dan diikuti ? Inilah persoalan manusia sepanjang sejarah dan sampai kiamat kelak. Persoalan inilah yang senantiasa dihadapi oleh manusia.

            Kehidupan Jahiliyah dahulu dan sekarang selalu berupaya mengecilkan dan mendiskreditkan persoalan ini untuk menutup-nutupi kebobrokan sistem Jahiliyah dan menjustifikasi penyimpangan-penyimpangannya. Untuk itu Al-Qur’an memberikan porsi bahasan yang sangat besar kepada persoalan ini. Karena persoalan ini sangat urgen dalam realita kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat.
            “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 64)

            Di atas landasan  persoalan ibadah kepada Allah semata inilah: sistem kehidupan manusia    di bumi digariskan,   keyakinan dan pemikirannya, akhlak dan tingkah lakunya, pandangan   hidup dan perilaku  kehidupannya, interaksi dirinya dengan Rabnya, dengan diri pribadinya dan masyarakat sekitarnya. Interaksinya dengan seluruh makhluk di sekitarnya, perang damainya, ekonomi dan politiknya, ilmu     pengetahuan dan budayanya, bahkan seluruh  persoalan  kehidupannya.

            Di atas landasan persoalan   ibadah kepada Allah semata inilah, akhir kehidupan manusia digariskan apakah akan ke surga atau neraka? Apakah akan mendapat    kenikmatan yang didekatkan ataukah siksaan yang kecil.
            Dengan demikian, adakah persoalan yang lebih penting dan menentukan dalam kehidupan manusia melebihi persoalan     ibadah kepada Allah semata yang mencakup semua unsur kehidupan manusia ini ? Jawabannya: Tiadak Ada !!!
            Namun demikian,  sistem Jahiliyah modern mengecilkan persoalan inti ini sehingga hampir-hampir wujud dan dampaknya dalam kehidupan umat manusia nyaris hilang. Di sisi lain agar sistem Jahiliyah modern bisa mengeluarkan manusia dari peribadatan pada Allah semata menuju peribadatan kepada setan, hawa nafsu dan thaghut-thgahut penindas, mengeluarkan manusia dari cahay menuju kegelapan dan kesesatan. 

            “Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian wahai anak Adam supaya kamu tidak menyembah setan ? Sesungguhnya setan itu adalah msusuh yang nyata bagi kalian. Dan wajib atas kalian menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. (Yasin: 60-61)

            “Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Adapun orang-orang yag kafir, pelindung-pelindung mereka ialah setan, yangb mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 257)

            Persoalan Kedua, memilih pemimpin, yang juga merupakan bagian dari ibadah atau bagian dari aqidah wala’ wal bara’. Wala’  maksudnya mencintai, menghormati orang-orang beriman. Wala’  hanya boleh diberikan pada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Sedangkan Bara’ maksudnya menjauhi, berlepas diri dan memutuskan hubungan dengan pihaqk yang dianggap musuh, tidak membantu mereka. Bara’  wajib ditujukan pada orang musyrik, kafir, munafik dan murtad.

            Berdasarkan aqidah al-Wala’ wal Bara’, maka manusia terbagi menjadi  tiga, dalam bahasan ini kita ambil dua saja. Pertama, orang yang berhak mendapat wala’ (loyalitas) secara mutlak, yaitu orang mukmin yang eberiman kepada Allah dan Rasul-Nya. Melaksanakan kewajiban-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

            “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk pada Allah.” “Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 55-56)

            Kedua, orang yang berhak mendapatkan Bara’ secara mutlak, yaitu orang munafik, musyrik dan kafir, baik dari golongan Yahudi, Nasrani, Majusi dan sebagainya. Allah berfirman:
            “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadfikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pelindung. Jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka pelindung, maka mereka itulah orang-orang zhalim.” ( At-Taubah:23)

            Dalam sistem hidup Jahiliyah modern, para pemimpinnya mengklaim telah membebaskan manusia dari thaghut-thaghut, maun sejatinya menjadi thaghut-thaghut baru yang memperbudak manusia dengan metode baru pula.

            Seperti yang kita saksikan saat ini, sistem itu bernama demokrasi . dalam panggung sandiwara, demokrasi selalu menampilkan episode indah, kebebasan bergama, berpendapat, berkumpul dan seterusnya. Siapakah sebenarnya pihak yang berkuasa dan memerintah masyarakat ? penguasa sebenarnya adalah thaghut pemilik modal, dan thaghut pemilik modal yang terbesar adalah kaum Yahudi dengan seluruh sifat an perilaku kethaghutannya.

            Karenanya, sebagai muslim dan mukmin hendaknya tidak tertipu dengan propaganda dan program apapun dari para thaghut-thaghut itu. Sebaliknya, jika ingin sukses, maka kita wajib mencabut  pilihan kita dari  thaghut tersebut, lalu memurnikan  seluruh bentuk peribadatan kepada Allah semata.

Wallohu “Alamu.

Penulis : 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.