KEMUNDURAN MASYARAKAT JAHILIYAH




          THORIQUNA.ID -  Masyarakat di setiap periode merupakan cerminan dari kepribadian-kepribadian sekumpulan orang-orang  yang menuntun generasi manusia di era tersebut.

            Fenomena ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, pemahaman dan akhlak yang berpengaruh besar pada pembentukan dan kejiwaan sebuah masyarakat, penanaman program ini lebih mengena daripada perintah yang ditetapkan   dan dilaksanakan dengan   kekuatan apapun nama dan bentuknya, baik kekuatan ekonomi dengan  kapitalisme dan neoliberalisme; kekuatan budaya dengan permisivismenya; kekuatan politik dengan demokrasinya; kekuatan agama dengan kesesatan atau bid’ahnya; bahkan kekuatan bersenjata.

            Kedua, keteladanan. Apabila keteladanan sudah menjadi bagian dari kehidupan, maka penanaman nilai apapun tidak akan mampu membentuk kepribadian sebuah masyarakat apalagi dengan tindakan represif atau pemaksaan.

            Oleh  karena itu, sistem, undang-undang atau aturan yang paling hebat sekalipun tidak akan mampu  berjalan dengan baik, karena para pemimpin dan masyarakatnya tidak pernah memiliki sikap ikhlas, qona’ah dan ridha. Sebaliknya mereka justru memiliki sikap bebal, suka berdalih, suka berkelit, bahkan memiliki sikap pengelakan yang luar biasa.

            Maka tidak heran Allah memerintahkan kita agar bercermin pada satu model kepribadian yang sudah pasti dan dijamin diridhai Allah,

            “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya.” (Al-Fath: 29)

            Apabila saat ini ita meyakini bahwa tidak akan pernah ada kehidupan tanpa dienul Islam dan kaum muslimin. Atau tidak akan pernah bisa menikmati karunia Allah tanpa ada iman dan kaum mukminin, maka ikatan dan standar pemahaman, akhlak dan keteladanan hanya satu   yakni Tauhid.

            “Dan ingatlah karunia Allah kepada kalian dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan  kalian, ketika kalian mengatakan: “Kami dengar dan kami taati.” Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati kalian.” (Al-Maidah:7)

            Inilah perjanjian yang telah diikat Allah dengan manusia, “Ketika kalian mengatakan: “kami dengar dan kami taati,”. Inilah perjanjian  Laa Ilaaha Ilallah, yang berkonsekuensi menerima dan menaati semua perintah dan larangan yang diturunkan Allah.

            Berbeda dengan sistem hidup jahiliyah modern yang menjadikan ikutan dan standar pemahaman, akhlak dan keteladanannya adalah kontrak sosial, hawa nafsu, dorongan seksual, materi, manfaat dan bermacam ikatan lainnya. Pada ahirnya ikatan-ikatan semua itu berguguran dan dekadensi moral menjadi karakter mereka, seperti kebobrokan sistem Jahiliyah yang mereka ibadahi.

            Bagaimana   kondisi masyarakat Indonesia  saat ini ? ketika dunia menyuguhkan berbagai pemandangan dan peristiwa besar yang muaranya menuju satu titik: Zaman Fitnah !  Atau ketika  Indonesia yang konon katanya—saat ini – sedang menuju masa terang dengan proyek revolusi mental nya, setelah sekian lama berada pada masa kegelapan. Begitupun dengan rpoyek Fiqih Kebhinekaan dan Islam Nusantara yang diluncurkan oleh para pengusung Jamaah Islam Liberal.

            Apakah masyarakat Indonesia bisa menjadi masyarakat yang maju dengan kepribadian Pancasialis ? Ataukahj masyarakat kita sedang terbawa oleh arus kemunduran yang saat ini dialami masyarakat dunia dengan sistem Jahiliyahnya ?

            Sebagai jawabannya, mari kita lihat berita dari imam Ahmad bin Hanbal dan imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Ketika imam Ahmad bin Hanbal merenungi kondisi zamannya, lalu ia melihat orang-orang  yang komitmen membela syariat Islam diabaikan, kemungkaran meningkat, ahli bid’ah diberi kekuasaan, dan semua urusan diserahkan kepada orang yang tidak laiak menerimanya. Lalu Imam Ahmad berkata kepada masyarakatnya, “Apabila kalian pada hari ini melihat sesuatu   yang lurus, maka kalian merasa heran ! “
           
Kitapun akhirnya mengerti, mengapa saat ini apa     yang dikatakan imam Ahmad menjadi kenyataan. “Heran, ulama  yang lurus  malah dipenjara.” “Heran, orang-orang yang mau berjihad dengan harta dan jiwanya malah dipenjara.” “Heran, para pedagang yang jujur malah  dibikin bangkrut.” “Heran, para politisi yang ingin menyuarakan syariat Islam malah dipenjara.” “Heran, para ekonom yang jujur malah dikebiri.” “Heran, para   hakim yang berkata  benar malah dibunuh.” “Heran, para  industrialis yang jujur malah dipasung.”  Dan berjuta keheranan lainnya.
            Mengapa imam Ahmad membisikan pada kita dengan ungkapan Heran ?  Karena, hawa nafsu telah mengalahkan kebaikan-kebaikan iman dalam membersihkan jiwa-jiwa manusia. Sehingga seseorang     disebut sangat pandai,sangat bersemangat dan sangat tegar. Padahal dalam hatinya tidak ada iman sebiji atompun. Sehingga orang-orang zhalim memangku jabatan-jabatan kementrian dan pada pusat-pusat pemerintahan, sedangkan    orang-orang bodoh menjadi pemimpin majelis-majelis Ilmu.

            Ibnul Qayyim bertutur pada kita bagaimana setan menemukan sejumlah orang yang mengikutinya. “setan membentuk satu partai dari golongan mereka yang mendukung dan loyal kepadanya untuk menentang    Tuhan mereka. Dan mereka itu adalah musuh-musuh Allah di samping musuh-musuh setan. Mereka mengajak  untuk membenci Allah, menciderai        Rububiyyah Allah, Uluhiyyah Allah dan Keesaan Allah, mengumpat Allah, mendustkan Allah, mengumpat Allah, mendustakan Allah, memfitnah para wali Allah, menganiaya para wali-wali Allah, dan mendirikan Negara untuk golongan para setan sendiri.”

            Yang   menarik dari pemaparan Ibnul Qayyim ini seolah-olah ia menggambarkan pertarungan saat ini antara  harokah Islamiyyah dan front Jahiliyah. Sama seperti   yang dialami generasi Ibnul Qayyim dan apa yang dialami oleh kelompoknya Imam Ahmad.

            Pertarungan hari ini adalah pertarungan politik partai terorganisir untuk mendirikan Negara Jahiliyah, bahkan mereka telah mendirikannya. Pertarungan mereka terus berlanjut untuk    mempertahankan kedudukan negara dengan sistem Jahiliyah, menguatkannya dan mendidik generasi-generasi baru dengan kekufuran.

            Itulah gambaran sebuah masyarakat     yang oleh imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnul Qayyim disebut sebagai Masyarakat yang Mengalami Kemunduran.

            “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” (An-Nahl: 112)

            Sehebat apapun program dan usahanya, apakah ia  bernama revolusi    mental atau fiqih kebhinekaan atau Islam  nusantara wujudnya. Apabila     tidak    diikat dengan Tauhid, maka akan melahirkan masyarakat   Jahiliyah. Sehingga sejarah mencatatnya sebagai generasi   kekufuruan baru. Artinya,  dalam      konteks Indonesia, masyarakat kita tengah mengalami kemunduran seperti yang saat ini terjadi pada masyarakat   Barat  yang  notabene kafir.

Wallohu’alam.


Penulis : 

  • Ust.Muntoha Bulqin

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.