KEMENANGAN DI ERA FITNAH


AS Gunakan Bom Fosfor Putih di Raqqa, Suriah 


THORIQUNA.ID -  Kehidupan  saat ini sudah seharusnya kita jadikan sebagai ibadah untuk mempertebal ketakwaan kepada Allah swt. Sebab dengan taqwa mata hati akan terbuka untuk melihat dan menerima kebenaran serta menjauhi dan menolak kemungkaran, sebagaimana janji Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan pembeda (antara Al-Haq dengan Al-Bathil) bagimu.” (QS. Al-Anfal: 29)

            Namun sayang, tidak semua orang yang mengaku Islam… itu beriman, sebagaimana tidak semua orang beriman… itu bertaqwa. Kata Taqwa atau “takut kepada Allah” tidak lagi menjadi rasa, melainkan sekedar bahasa. Sebagian besar umat Islam dewasa ini sudah kehilangan rasa takut kepada Allah, kepada ancaman-ancaman yang dahsyat bagi orang-orang yang maksiat, kepada kemungkinan-kemungkinan bahwa diri kita terjerembab dalam azab dunia, lebih-lebih siksa kubur dan azab akhirat.

            Sebaliknya, sebagian di antara kita lebih takut kepada orang-orang hebat, pada bujuk rayu jin dan setan yang memikat. Padahal Allah telah menegur kita: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
            Kehidupan kita saat ini tengah disuguhi oleh berbagai pemandangan dan peristiwa besar yang muaranya menuju satu titik yaitu zaman fitnah. Inilah akhir zaman yang dijanjikan oleh Rasulullah saw, bagi umat Islam. Inilah masa di mana fitnah demi fitnah dating bertubi-tubi menghantam kaum muslimin, mereka terjajah di negerinya dan terasing dari ajaran agamanya.
            “Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang-orang rakus kelaparan yang memperebutkan hidangannya.” Maka sahabat bertanya, “Apakah Karena sedikitnya kami pada hari itu?” Rasulullah menjawab, “Justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi kalian ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit wahn.” Sahabat bertanya kembali, “Apakah Wahn  itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Cinta Dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad)

            Kehidupan kita saat ini terjadi manakala di antara kita ada yang berpegang teguh dengan syariat Islam dan berupaya keras untuk menghidupkan semua sunnah Rasulullah saw, pasti akan mengalami keterasingan di tengah masyarakatnya, lantaran kebodohan yang merata di tengah masyarakat bahkan Negara kita.
            “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan kelak ia akan kembali asing sebagaimana ia dahulu ia bermula dalam keadaan asing, dan sesungguhnya Islam akan kembali ke sarangnya di antara dua mesjid (masjidil haram di Mekah dan masjid nabawi di madinah) sebagaimana seekor ular akan kembali ke lubang sarangnya.” (HR. Muslim )

            Kehidupan kita saat ini berada di tengah-tengah  jutaan  mayat saudara-saudara kita di Suriah, sebagai bayaran atas kebiadaban dan kediktatoran rezim Syiah Nushoiriyah, Basar Asad laknatullohi alaihim. Setelah itu jutaan saudara-saudara kita di Palestina yang ikhlas menggadaikan nyawanya demi mempertahankan Baitul Maqdis dari kebiadaban kaum Yahudi Israel, dari angkara murka manusia-manusia yang sesungguhnya dalam Al-Quran, telah dikutuk oleh Allah sebagai manusia yang memiliki sifat anjing, Babi dan  kera. Kemudian jutaan saudara-saudara kita di Mesir yang tulus menyerahkan harta dan nyawanya di hadapan kebiadaban kaum Sekular, Syiah dan Kristen Koptik.
            Kehidupan kita  saat ini, seperti memegang bara api, seperti yang pernah dijanjikan Rasulullah saw.
            “Sesungguhnya di belakang kalian kelak akan ada masa-masa yang menuntut kesabaran ekstra. Orang-orang yang bersabar di atas ajaran Islam pada masa itu bagaikan orang yang menggenggam bara api. Orang yang beramal ataw berjuang demi tegaknya Islam pada masa itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya kalian. Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apakah pahala lima puluh orang di antara mereka?” Rasulullah menjawab, “Bahkan pahala lima puluh orang di antara kalian.” (HR. Abu Daud)

            Kehidupan kita pun berada di mana seluruh sistem jahiliyah dan kaki tangannya saat ini sedang mengalami kehancuran yang sangat dahsyat. Semua umat manusia termasuk umat Islam menduga system jahiliyah tersebut akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa di balik semua itu ada gejala “the agony of globalization, democratization, liberalization, nazionalization, capitalization.” Azab dan sengsara karena ulah globalisasi, demokratisasi, nasionalisasi, liberalisasi, dan kapitalisasi. 

            Kehidupan kita saat ini berada di tengah mimpi buruk yang terus menghantui tidurnya musuh-musuh Islam. Mereka saat ini sedang memburu dan membantai bayi-bayi kaum muslimin di seluruh dunia di mana umat Islam berada. Mereka khawatir dari bayi-bayi itu akan tampil menjadi sang khalifah akhir zaman, yang sudah dijanjikan oleh Rasulullah dan sangat dinantikan oleh umat Islam. yakni Muhammad bin Abdullah Al-‘Alawi Al-Fathimi Al-Hasani atau Imam Mahdi.

            Nampaknya, mimpi buruk musuh-musuh Islam tentang Nubuwat Akhir Zaman, kebangkitan Islam di Abad 20, menjadi ‘biang kerok” dan pemicu munculnya berbagai huru hara dan pembantaian yang terus berlangsung di tengah umat Islam yang bisa jadi hingga kiamat nanti.

            Adakah jalan keluar untuk lari dan menyelematkan diri dari fitnah akhir zaman tersebut? Jawabnya: Tidak Ada Jalan Keluar. Tidak ada ada petunjuk penyelesaian melainkan diujungnya kesesatan yang menambah kebinasaan. Kecuali petunjuk dan jalan keluar yang ditawarkan oleh Syariat Islam dan Al-Qur’an, yakni Taqwa kepada Allah swt.
            “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberika jalan keluar dari setiap kesulitan. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap urusan.” (QS. Ath-Tholaq: 2,4)

            Mari kita perhatikan sebuah makna tentang Taqwa dari perbincangan yang dilakukan oleh dua sahabat nabi saw., Umar bin Khaththab dan Ubay bin Ka’ab ra.  Umar bin Khaththab pernah bertanya tentang Taqwa kepada Ubay bin Ka’ab, “Apakah yang engkau ketahui tentang Taqwa?”, Ubay menjawab dengan menggunakan sebuah pertanyaan, “Apakah engkau pernah melewati jalan yang berduri wahai Umar ?”. Umar menjawab, “Ya, aku berhati-hati dan berupaya menghindarinya.” Ubaypun menjawab, “Itulah Taqwa.”

            Itulah salah satu makna taqwa, sensivitas dalam hati, kepekaan dalam perasaan, responsive, selalu takut, senantiasa berhati-hati dan selalu menjaga diri dari duri-duri di jalanan. Jalan kehidupan yang penuh dengan duri-duri kesenangan dan syahwat. Duri-duri keinginan dan ambisi. Duri-duri kekhawatiran dan ketakutan. Duri-duri harapan palsu terhadap orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi harapannya. Dan berpuluh, beratus bahkan ribuan duri-duri kehidupan lainnya.

            Marilah kita jadikan keimanan  dan ketaqwaan kita sebagai perhiasan dan bekal hidup kita. Marilah kita jadikan seluruh Ibadah kita saat ini sebagai titik awal membangkitkan Ukhuwah Islamiyah. Titik awal menumbuhkan semangat memberi. Titik awal untuk mengalahkan egoisme dan kebakhilan kita. Titik awal untuk mengalahkan rasa takut kita demi semangat membela sesama saudara muslim. Titik awal untuk mengalahkan kepentingan-kepentingan pribadi demi kepentingan umat yang lebih besar. Titik awal untuk meletakkan hati nuranidi atas semua hitungan rasio dunia. Titik awal untuk menolong agama Allah dan umat Islam.

            Hanya dengan itu kita berhak mendapatkan hidayah dari Allah, hanya dengan itu kita berhak atas pertolongannya, dan hanya dengan itu kita berhak menyandang gelar orang-orang yang menang.
           
Alhamdulillahi Rabbil’alamin.




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.