KEMUNDURAN MASYARAKAT JAHILIYAH

by 21.35



          THORIQUNA.ID -  Masyarakat di setiap periode merupakan cerminan dari kepribadian-kepribadian sekumpulan orang-orang  yang menuntun generasi manusia di era tersebut.

            Fenomena ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, pemahaman dan akhlak yang berpengaruh besar pada pembentukan dan kejiwaan sebuah masyarakat, penanaman program ini lebih mengena daripada perintah yang ditetapkan   dan dilaksanakan dengan   kekuatan apapun nama dan bentuknya, baik kekuatan ekonomi dengan  kapitalisme dan neoliberalisme; kekuatan budaya dengan permisivismenya; kekuatan politik dengan demokrasinya; kekuatan agama dengan kesesatan atau bid’ahnya; bahkan kekuatan bersenjata.

            Kedua, keteladanan. Apabila keteladanan sudah menjadi bagian dari kehidupan, maka penanaman nilai apapun tidak akan mampu membentuk kepribadian sebuah masyarakat apalagi dengan tindakan represif atau pemaksaan.

            Oleh  karena itu, sistem, undang-undang atau aturan yang paling hebat sekalipun tidak akan mampu  berjalan dengan baik, karena para pemimpin dan masyarakatnya tidak pernah memiliki sikap ikhlas, qona’ah dan ridha. Sebaliknya mereka justru memiliki sikap bebal, suka berdalih, suka berkelit, bahkan memiliki sikap pengelakan yang luar biasa.

            Maka tidak heran Allah memerintahkan kita agar bercermin pada satu model kepribadian yang sudah pasti dan dijamin diridhai Allah,

            “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya.” (Al-Fath: 29)

            Apabila saat ini ita meyakini bahwa tidak akan pernah ada kehidupan tanpa dienul Islam dan kaum muslimin. Atau tidak akan pernah bisa menikmati karunia Allah tanpa ada iman dan kaum mukminin, maka ikatan dan standar pemahaman, akhlak dan keteladanan hanya satu   yakni Tauhid.

            “Dan ingatlah karunia Allah kepada kalian dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan  kalian, ketika kalian mengatakan: “Kami dengar dan kami taati.” Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati kalian.” (Al-Maidah:7)

            Inilah perjanjian yang telah diikat Allah dengan manusia, “Ketika kalian mengatakan: “kami dengar dan kami taati,”. Inilah perjanjian  Laa Ilaaha Ilallah, yang berkonsekuensi menerima dan menaati semua perintah dan larangan yang diturunkan Allah.

            Berbeda dengan sistem hidup jahiliyah modern yang menjadikan ikutan dan standar pemahaman, akhlak dan keteladanannya adalah kontrak sosial, hawa nafsu, dorongan seksual, materi, manfaat dan bermacam ikatan lainnya. Pada ahirnya ikatan-ikatan semua itu berguguran dan dekadensi moral menjadi karakter mereka, seperti kebobrokan sistem Jahiliyah yang mereka ibadahi.

            Bagaimana   kondisi masyarakat Indonesia  saat ini ? ketika dunia menyuguhkan berbagai pemandangan dan peristiwa besar yang muaranya menuju satu titik: Zaman Fitnah !  Atau ketika  Indonesia yang konon katanya—saat ini – sedang menuju masa terang dengan proyek revolusi mental nya, setelah sekian lama berada pada masa kegelapan. Begitupun dengan rpoyek Fiqih Kebhinekaan dan Islam Nusantara yang diluncurkan oleh para pengusung Jamaah Islam Liberal.

            Apakah masyarakat Indonesia bisa menjadi masyarakat yang maju dengan kepribadian Pancasialis ? Ataukahj masyarakat kita sedang terbawa oleh arus kemunduran yang saat ini dialami masyarakat dunia dengan sistem Jahiliyahnya ?

            Sebagai jawabannya, mari kita lihat berita dari imam Ahmad bin Hanbal dan imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Ketika imam Ahmad bin Hanbal merenungi kondisi zamannya, lalu ia melihat orang-orang  yang komitmen membela syariat Islam diabaikan, kemungkaran meningkat, ahli bid’ah diberi kekuasaan, dan semua urusan diserahkan kepada orang yang tidak laiak menerimanya. Lalu Imam Ahmad berkata kepada masyarakatnya, “Apabila kalian pada hari ini melihat sesuatu   yang lurus, maka kalian merasa heran ! “
           
Kitapun akhirnya mengerti, mengapa saat ini apa     yang dikatakan imam Ahmad menjadi kenyataan. “Heran, ulama  yang lurus  malah dipenjara.” “Heran, orang-orang yang mau berjihad dengan harta dan jiwanya malah dipenjara.” “Heran, para pedagang yang jujur malah  dibikin bangkrut.” “Heran, para politisi yang ingin menyuarakan syariat Islam malah dipenjara.” “Heran, para ekonom yang jujur malah dikebiri.” “Heran, para   hakim yang berkata  benar malah dibunuh.” “Heran, para  industrialis yang jujur malah dipasung.”  Dan berjuta keheranan lainnya.
            Mengapa imam Ahmad membisikan pada kita dengan ungkapan Heran ?  Karena, hawa nafsu telah mengalahkan kebaikan-kebaikan iman dalam membersihkan jiwa-jiwa manusia. Sehingga seseorang     disebut sangat pandai,sangat bersemangat dan sangat tegar. Padahal dalam hatinya tidak ada iman sebiji atompun. Sehingga orang-orang zhalim memangku jabatan-jabatan kementrian dan pada pusat-pusat pemerintahan, sedangkan    orang-orang bodoh menjadi pemimpin majelis-majelis Ilmu.

            Ibnul Qayyim bertutur pada kita bagaimana setan menemukan sejumlah orang yang mengikutinya. “setan membentuk satu partai dari golongan mereka yang mendukung dan loyal kepadanya untuk menentang    Tuhan mereka. Dan mereka itu adalah musuh-musuh Allah di samping musuh-musuh setan. Mereka mengajak  untuk membenci Allah, menciderai        Rububiyyah Allah, Uluhiyyah Allah dan Keesaan Allah, mengumpat Allah, mendustkan Allah, mengumpat Allah, mendustakan Allah, memfitnah para wali Allah, menganiaya para wali-wali Allah, dan mendirikan Negara untuk golongan para setan sendiri.”

            Yang   menarik dari pemaparan Ibnul Qayyim ini seolah-olah ia menggambarkan pertarungan saat ini antara  harokah Islamiyyah dan front Jahiliyah. Sama seperti   yang dialami generasi Ibnul Qayyim dan apa yang dialami oleh kelompoknya Imam Ahmad.

            Pertarungan hari ini adalah pertarungan politik partai terorganisir untuk mendirikan Negara Jahiliyah, bahkan mereka telah mendirikannya. Pertarungan mereka terus berlanjut untuk    mempertahankan kedudukan negara dengan sistem Jahiliyah, menguatkannya dan mendidik generasi-generasi baru dengan kekufuran.

            Itulah gambaran sebuah masyarakat     yang oleh imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnul Qayyim disebut sebagai Masyarakat yang Mengalami Kemunduran.

            “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” (An-Nahl: 112)

            Sehebat apapun program dan usahanya, apakah ia  bernama revolusi    mental atau fiqih kebhinekaan atau Islam  nusantara wujudnya. Apabila     tidak    diikat dengan Tauhid, maka akan melahirkan masyarakat   Jahiliyah. Sehingga sejarah mencatatnya sebagai generasi   kekufuruan baru. Artinya,  dalam      konteks Indonesia, masyarakat kita tengah mengalami kemunduran seperti yang saat ini terjadi pada masyarakat   Barat  yang  notabene kafir.

Wallohu’alam.


Penulis : 

  • Ust.Muntoha Bulqin

DEMOKRASI = SISTEM KAFIR

by 20.29




            THORIQUNA.ID - Saat ini kepemimpinan orang kafir di seluruh dunia baik di Barat maupun di Timur telah mendekati kehancuran. Semua manusia yang dikendalikan dengan sistem ‘made in kuffar’ sudah berada pada kurun yang menghinakan dalam peradaban manusia, yakni masa Jahiliyah.

            “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (Ath-Thin: 5)

            Jahiliyah Modern tampil dengan prinsipnya yang menentang intervensi kekuasaan Allah di muka bumi terutama dalam hal penegakan hukum yang mutlak berada di tangan Allah (Uluhiyah). Prinsip inilah yang kemudian kita kenal dengan sistem Demokrasi. Sistem Jahiliyah ini menyerahkan sistem kekuasaan pada manusia bahkan sebagian mereka menjadikan sebagian yang lain sebagai penguasa.

            Selanjutnya, Jahiliyah Modern pun tampil dengan prinsip penentangan terhadap hambanya. Bukankah kehancuran manusia secara massif  terjadi karena di sana diberlakukan aturan atau undang-undang sosialis?, Tidakkah kita lihat kesengsaraan berbagai individu dan bangsa disebabkan perbudakan Kapitalisme dan Liberalisme ?

            “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…” (Al-Baqarah: 109)

            “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian kepada kekafiran, seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kalian dari  agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)

            Meskipun beragam sumber dan muatannya, semua sistem Jahiliyah itu disatukan oleh persamaan yaitu tidak berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau Syari’at Islam. Dalam pandangan Islam, semua pedoman hidup yang tidak berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah apalagi sampai bertolak belakang atau menyelisihi Al-Qur’an danAs-Sunnah tersebut adalah Thaghut.

            Sebagai contoh dalam aspek ideologi kita bisa menyebutkan beberapa thaghut modern yang saat ini mendunia: Materialism, Naturalism, Humanism, Pluralism, Sekularisme, Atheism dan Komunisme. Dalam aspek ekonomi seperti Kapitalisme dan Sosialisme. Dalam bidang organisasi yang besar seperti Persatuan Bangsa-Bangsa.

            Sistem-sistem thaghut ini mendunia karena dianut dan dipraktekkan oleh bermilyar-milyar umat manusia di seluruh dunia. Secara nama ia layak disebut thaghut internasional. Bahayanya terhadap kemaslahatan agama, nyawa dan akal bahkan kehormatan kaum muslimin lebih besar dari thaghut-thaghut lainnya yang bertaraf lokal atau nasional.

            Para ulama membuat satu kaidah tentang sistem thaghut itu, Al Kufru Millatun Wahidah, kekafiran itu satu aliran atau satu agama. ( Abu Ammar, Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman). Artinya, walaupun beragam sumber dan muatannya namun semua aliran agama dan kepercayaan kufur atau thaghut memiliki kesamaan sehingga dianggap satu. Satu sumbernya yaitu setan, satu muatannyta yaitu beribadah kepada selain Allah, dan satu buahnya yaitu mengantarkan pemeluknya kepada murka Allah dan siksa neraka.  

            “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah  untuk menipu manusia, jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112)

            Bermacam-macam sistem thaghut internasional yang saat ini mendominasi panggung kehidupan umat manusia di seluruh dunia pasti memiliki ‘benang merah’ kepada setan dari golongan jin dan manusia.

            Jika kita perlajari sejarah kehidupan manusia maka akan kita dapati fakta bahwa setan dari golongan manusia tersebut berawal dari Eropa. Mereka adalah orang-orang Kristen yang terlepas dari agama yang hak dan orang-orang Yahudi yang ‘menunggangi’ orang-orang Kristen Eropa untuk menjajah bangsa-bangsa muslim dan non-muslim di seluruh  dunia.

            Dengan jalan Kolonialisme dan Imperialisme Salibis Eropa yang ditunggangi kepentingan-kepentingan Yahudi tersebut, datang ke negeri-negeri kaum muslimin. Ketika keimanan kaum muslimin melemah dan mereka meninggalkan sebagian besar ajaran Islam  dalam berbagai aspek kehidupan, pada saat itulah Kolonialisme dan Imperialisme berhasil membelenggu kaum muslimin hingga saat ini.

            “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir setelah beriman.” (Ali Imran: 100)

            “Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kalian menjadi sama dengan mereka.” (An-Nisa:89)

            Rasulullah memarahi sahabat yang mempelajari kitab Injil atau  Taurat setelah Allah menurunkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup manusia. Mengapa demikian ? Karena Injil dan Taurat telah mengalami perubahan baik penambahan maupun   pengurangan oleh tangan-tangan jahat kaum Yahudi dn Nasrani. Sementara Al-Qur’an adalah wahyu Allah terakhir yang kemurniannya terpelihara dengan jaminan Allah.

            “Suatu hari Rasulullah saw. marah besar karena melihat Umat bin Khaththab masih membawa –bawa dan mempelajari kitab Taurat. Kemudian Rasulullah bersabda, “Apakah kalian masih juga mendalaminya wahai putra Khat karena melihat Umat bin Khaththab ?” Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya. Sungguh aku telah membawa agama ini kepada kalian dalam keadaan murni dan sangat jelas. Janganlah kalian menanyakan sesuatupun tentang wahyu kepada Ahlul Kitab, karena boleh jadi mereka menceritakan sebuah kebenaran kepada kalian lantas kalian mendustaknnya, atau mereka menceritakan sebuah kebathilan kepada kalian lantas kalian membenarkannya. Demi Allah yang nyawaku berada dalam tangan-Nya, seandainya nabi Musa berada di tengah kalian niscaya ia tidak memiliki keleluasaan selain mengikutiku.” (HR. Bukhari)

             Jika mempelajari Taurat dan Injil untuk tujuan membandingkannya dengan Al-Qur’an atau mencari petunjuk di dalamnya adalah haram, maka bagaimana lagi hukum mempelajari, menganut dan memperjuangkan sistem demokrasi hasil karya kaum penyembah berhala ? Jika  syariat Nasrani dan Yahudi  telah dihapus dengan syariat Islam, bukankah ajaran jahiliyah penyembah berhala  yang bernama demokrasi ini lebih dihapus lagi oleh syariat Islam ?

            Tidak diragukan lagi     mereka yang mengikuti ajaran Jahiliyah ini dengan penuh kesadaran akan hakikat kekufurannya, kerelaan hati dan kebanggaannya, merupakan orang yang  paling dimurkai Allah, sebagaimana sabda Rasulullah:
            “Manusia yang paling dibenci Allah ada tiga: 1) Orang yang melakukan  kejahatan  di tanah haram 2)  orang      yang mencari pedoman hidup Jahiliyah setelah masuk Islam dan 3) orang yang menu,pahkan darah orang lain tanpa alasan yang benar demi menumpahkan darahnya.” (HR. Bukhari)

            Setelah kita mengatahui dan memahami betapa bahayanya sistem Jahiliayah, maka    kita tidak boleh lupa, ternyata ada satu sistem yang terbukti mampu menciptakan Negara yang adil, makmur dan maju selama lebih dari seribu tahun, yakni sistem khilafah Islamiyyah ‘ala Minhajin Jubuwwah.

Wallohu ‘alam.


 Penulis : 


  • Ust.Muntoha Bulqin



MEMILIH PEMIMPIN ADALAH IBADAH

by 21.01





           THORIQUNA.ID - Manusia merupakan makhluk yang memiliki fitrah beribadah. Namun, dalam mewujudkan fitrah beribadah tersebut, manusia akan mengalami beberapa keadaan: pertama, beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Kedua, beribadah kepada satu Ilah selain Allah atau Ilah-Ilah atau Tuhan-Tuhan selain Allah. Ketiga, beribadah kepada Allah di samping beribadah kepada satu Ilah alain atau Ilah-Ilahatau Tuhan-Tuhan selain-Nya.

            Tidak ada manusia yang tidak beribadah. Semua manusia beribadah. Ketika manusia mengklaim tidak percaya pada Ilah, ‘bebas merdeka’, dan tidak mau beribadah kepada siapapun termasuk kepada Ilah, sejatinya ia sebagaimana  yang difirmankan Allah:
            “Maka apakah kamu pernah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya?” (Al-Jatsiyah:23)

            Orang yang tidak mau beribadah kepada apapun, pada dasarnya sedang beribadah, yaitu beribadah kepada selain Allah, beribadah kepada hawa nafsu, dan beribadah kepada syetan yang membisikkan hawa nafsu.

            Jika demikian, persoalannya bukan terletak pada ibadah itu sendiri, karena setiap manusia adalah orang yang beribadah. Persoalannya terletak pada ibadah yang benar. Atau dengan kata lain: siapa  yang diibadahi ? Siapa Ilah yang berhak diibadahi ?  Apakah Allah yang tiada Ilah yang hak selain Dia ? Ataukah ilah-ilah atau tuhan-tuhan lainnya bersama Allah atau selain Allah yang hakikatnya tidak memiliki hak uluhiyah, sehingga tidak berhak diibadahi, ditaati dan diikuti ? Inilah persoalan manusia sepanjang sejarah dan sampai kiamat kelak. Persoalan inilah yang senantiasa dihadapi oleh manusia.

            Kehidupan Jahiliyah dahulu dan sekarang selalu berupaya mengecilkan dan mendiskreditkan persoalan ini untuk menutup-nutupi kebobrokan sistem Jahiliyah dan menjustifikasi penyimpangan-penyimpangannya. Untuk itu Al-Qur’an memberikan porsi bahasan yang sangat besar kepada persoalan ini. Karena persoalan ini sangat urgen dalam realita kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat.
            “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 64)

            Di atas landasan  persoalan ibadah kepada Allah semata inilah: sistem kehidupan manusia    di bumi digariskan,   keyakinan dan pemikirannya, akhlak dan tingkah lakunya, pandangan   hidup dan perilaku  kehidupannya, interaksi dirinya dengan Rabnya, dengan diri pribadinya dan masyarakat sekitarnya. Interaksinya dengan seluruh makhluk di sekitarnya, perang damainya, ekonomi dan politiknya, ilmu     pengetahuan dan budayanya, bahkan seluruh  persoalan  kehidupannya.

            Di atas landasan persoalan   ibadah kepada Allah semata inilah, akhir kehidupan manusia digariskan apakah akan ke surga atau neraka? Apakah akan mendapat    kenikmatan yang didekatkan ataukah siksaan yang kecil.
            Dengan demikian, adakah persoalan yang lebih penting dan menentukan dalam kehidupan manusia melebihi persoalan     ibadah kepada Allah semata yang mencakup semua unsur kehidupan manusia ini ? Jawabannya: Tiadak Ada !!!
            Namun demikian,  sistem Jahiliyah modern mengecilkan persoalan inti ini sehingga hampir-hampir wujud dan dampaknya dalam kehidupan umat manusia nyaris hilang. Di sisi lain agar sistem Jahiliyah modern bisa mengeluarkan manusia dari peribadatan pada Allah semata menuju peribadatan kepada setan, hawa nafsu dan thaghut-thgahut penindas, mengeluarkan manusia dari cahay menuju kegelapan dan kesesatan. 

            “Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian wahai anak Adam supaya kamu tidak menyembah setan ? Sesungguhnya setan itu adalah msusuh yang nyata bagi kalian. Dan wajib atas kalian menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. (Yasin: 60-61)

            “Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Adapun orang-orang yag kafir, pelindung-pelindung mereka ialah setan, yangb mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 257)

            Persoalan Kedua, memilih pemimpin, yang juga merupakan bagian dari ibadah atau bagian dari aqidah wala’ wal bara’. Wala’  maksudnya mencintai, menghormati orang-orang beriman. Wala’  hanya boleh diberikan pada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Sedangkan Bara’ maksudnya menjauhi, berlepas diri dan memutuskan hubungan dengan pihaqk yang dianggap musuh, tidak membantu mereka. Bara’  wajib ditujukan pada orang musyrik, kafir, munafik dan murtad.

            Berdasarkan aqidah al-Wala’ wal Bara’, maka manusia terbagi menjadi  tiga, dalam bahasan ini kita ambil dua saja. Pertama, orang yang berhak mendapat wala’ (loyalitas) secara mutlak, yaitu orang mukmin yang eberiman kepada Allah dan Rasul-Nya. Melaksanakan kewajiban-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

            “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk pada Allah.” “Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 55-56)

            Kedua, orang yang berhak mendapatkan Bara’ secara mutlak, yaitu orang munafik, musyrik dan kafir, baik dari golongan Yahudi, Nasrani, Majusi dan sebagainya. Allah berfirman:
            “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadfikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pelindung. Jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka pelindung, maka mereka itulah orang-orang zhalim.” ( At-Taubah:23)

            Dalam sistem hidup Jahiliyah modern, para pemimpinnya mengklaim telah membebaskan manusia dari thaghut-thaghut, maun sejatinya menjadi thaghut-thaghut baru yang memperbudak manusia dengan metode baru pula.

            Seperti yang kita saksikan saat ini, sistem itu bernama demokrasi . dalam panggung sandiwara, demokrasi selalu menampilkan episode indah, kebebasan bergama, berpendapat, berkumpul dan seterusnya. Siapakah sebenarnya pihak yang berkuasa dan memerintah masyarakat ? penguasa sebenarnya adalah thaghut pemilik modal, dan thaghut pemilik modal yang terbesar adalah kaum Yahudi dengan seluruh sifat an perilaku kethaghutannya.

            Karenanya, sebagai muslim dan mukmin hendaknya tidak tertipu dengan propaganda dan program apapun dari para thaghut-thaghut itu. Sebaliknya, jika ingin sukses, maka kita wajib mencabut  pilihan kita dari  thaghut tersebut, lalu memurnikan  seluruh bentuk peribadatan kepada Allah semata.

Wallohu “Alamu.

Penulis : 

RINDU PEMIMPIN YANG ADIL

by 04.45



THORIQUNA.ID - Keberadaan pemimpin merupakan keharusan bagi manusia, seperti adanya air untuk kehidupan, karena tidak ada kebahagiaan bagi manusia kecuali bila ada pemimpin.
            Keadilan dan kebenaran tidak akan tampak kecuali dengan adanya kekuasaan pemimpin. Manusia akan menjadi lemah tanpa pemimpin dan jika mereka lemah maka mereka tidak akan mendapatkan kemaslahatan, hukum-hukum syariat tidak bisa ditegakkan dan hukum Islam tidak dilaksanakan,sehingga mereka tidak nyaman hidupnya, tidak mendapatkan kemuliaan dan tidak dapat mengusir yang zhalim jika mereka lemah. Sebagaimana ssabda Rasulullah saw.
            “Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) merupakan pelindung. Dia bersama pengikutnya memerangi orang Kafir dan orang zhalim serta memberi perlindungan kepada orang-orang Islam.” ( HR. Bukhari)

            Oleh karena itu, Allah menempatkan para pemimpin pada kedudukan yang tinggi dan mulia. Mereka itu wakil Allah di muka bumi dan termasuk orang-orang yang dicintai Allah di hari kiamat.
            “Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah pada hari Kiamat dan paling dekat tempat duduknya adalah seorang imam yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci Allah pada hari Kiamat dan paling jauh tempat duduknya adalah imam yang lalim. “ (HR. Tirmidzi)

            Saat ini kita merindukan pemimpin yang adil. Bahkan kerinduan itu laksana mimpi yang tak berujung, berputar dalam serial panjang di alam dunia yang sudah mendekati akhir zaman. Pergulatannyta mengerikan karena model-model kepemimpinannya nyaris menggelincirkan kita ke lembah maksiat dan murka Allah. Ada fitnah syiah dengan model kepemimpinan para imam yang ma’shum;  ada fitnah khawarij dengan ikon besarnya Abu Bakar Al-baghdadi dan ISIS-nya; ada fitnah komunis  dengan model markaenisme-nya, dan sebagainya.

            Ada banyak kriteria pemimpin yang kita rindukan: pertama,  kita rindu pemimpin yang berorientasi akhirat. Artinya segala hal-hal yang menyangkut otoritas kepemimpinan, harus benar-benar kita jalankan dengan menghitung apakah kebijakannya  akan berujung pada dosa dan murka Allah atau bisa mendekatkan diri kepada Allah. Hanya kalkulasi untung rugi di akhirat sajalah yang membuat kita tunduk secara total.    Bukan pada performa kepemimpinan itu sendiri atau mitos kewibawaan, melainkan ukuran syariat Islam.

            Kedua, kita rindu pemimpin yang menyayangi sepenuh hatinya. Sebab kita bukan komoditas, maka tidak mau diperjual belikan demi kepentingan seonggok kursi atau jabatan. Maka orang-orang yang tidak bisa menyayangi sepenuh hatinya sebaiknya tidak usah memimpin. Rasulullah saw pernah berpesan, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang yang mencintai kalian dan kalianpun mencintai mereka. Yang kalian mendoakan mereka dan merekapun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Yang melaknat kalian dan kalianpun melaknat mereka.”

            Ketiga, kita rindu pemimpin yang berani menunaikan hak orang yang dipimpinnya. Allah menegur kita dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada Kamu sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Melihat.” (An-Nisa: 58)

            Jabatan bukan hak pribadi ataupun turunan, tetapi ia hak masyarakat. Karenanya, ketika Abu Dzar Al-Ghifari meminta suatu jabatan, nabi kemudian menegurnya, “Itu adalah amanat, ia adalah nista dan penyesalan di hari kemudian, kecuali yang menerimanya dengan hak (sesuai aturan mainnya) dan menunaikan kewajibannya.”

              Ada banyak kerinduan kita untuk para pemimpin. Pemimpin Yang tidak rakus, yang tidak memakan harta rakyat dengan cara yang tidak sah. Pemimpin yang cerdas dan pandai menghadapi berbagai masalah.

            Kita rindu kepada begitu banyak tipe pemimpin yang baik, lebih dari sekedar tiga contoh di atas. Mengapa ? Sebab, pada diri seorang pemimpin ada ‘nasib’ kita. Karenanya, kepemimpinan ada di banyak tempat. Di organisasi masyarakat dan politik, di paguyuban sosial kemasyarakatan, dan sebagainya.
            Mengapa kita rindu akan  pemimpin ? Karena sejatinya “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Dan imam adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari)

            Begitu berserakannya kriteria kepemimpinan yang kita rindukan. Kita bisa mengurai detil kerinduan itu pada potret-potret manusia di sepanjang waktu. Siapa tahu di antara mereka mau berbuat adil. Meskipun sebenarnya itu tak lebih merupakan sebentuk penunaian kewajiban, seperti pepatah, “Tak perlu diterima kasihi atas sesuatu yang memang wajib dijalani.”

            Lalu, entah kepada siapa kerinduan ini kita titipkan ? Bila kerinduan ini tak juga sampai kepada pemimpin tertinggi, biarlah ia menjadi kerinduan bersama di antara kita. Dengan ayah, ibu, adik, anak, teman, sahabat, tetangga atau karib kerabat. Toh, keseharian kita lebih sederhan dari retorika kekuasaan orang-orang rakus di pentas politik yang berdebu.

            Kita percaya, bahwa setiap legenda tak pernah dusta pada dirinya sendiri. Dia akan mencatat hitam-putih  wajah pemimpin: siapa, kapan dan di manapun berada ? Dan jika kerinduan ini tidak juga terjawab. Biarlah ia menjadi pengaduan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa. Semoga Allah memudahkan kita untuk mewujudkan pencarian kita pada pemimpin yang adil.
Wallohu a’lam.

 Penulis : 

KEMENANGAN DI ERA FITNAH

by 19.55

AS Gunakan Bom Fosfor Putih di Raqqa, Suriah 


THORIQUNA.ID -  Kehidupan  saat ini sudah seharusnya kita jadikan sebagai ibadah untuk mempertebal ketakwaan kepada Allah swt. Sebab dengan taqwa mata hati akan terbuka untuk melihat dan menerima kebenaran serta menjauhi dan menolak kemungkaran, sebagaimana janji Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan pembeda (antara Al-Haq dengan Al-Bathil) bagimu.” (QS. Al-Anfal: 29)

            Namun sayang, tidak semua orang yang mengaku Islam… itu beriman, sebagaimana tidak semua orang beriman… itu bertaqwa. Kata Taqwa atau “takut kepada Allah” tidak lagi menjadi rasa, melainkan sekedar bahasa. Sebagian besar umat Islam dewasa ini sudah kehilangan rasa takut kepada Allah, kepada ancaman-ancaman yang dahsyat bagi orang-orang yang maksiat, kepada kemungkinan-kemungkinan bahwa diri kita terjerembab dalam azab dunia, lebih-lebih siksa kubur dan azab akhirat.

            Sebaliknya, sebagian di antara kita lebih takut kepada orang-orang hebat, pada bujuk rayu jin dan setan yang memikat. Padahal Allah telah menegur kita: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
            Kehidupan kita saat ini tengah disuguhi oleh berbagai pemandangan dan peristiwa besar yang muaranya menuju satu titik yaitu zaman fitnah. Inilah akhir zaman yang dijanjikan oleh Rasulullah saw, bagi umat Islam. Inilah masa di mana fitnah demi fitnah dating bertubi-tubi menghantam kaum muslimin, mereka terjajah di negerinya dan terasing dari ajaran agamanya.
            “Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang-orang rakus kelaparan yang memperebutkan hidangannya.” Maka sahabat bertanya, “Apakah Karena sedikitnya kami pada hari itu?” Rasulullah menjawab, “Justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi kalian ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit wahn.” Sahabat bertanya kembali, “Apakah Wahn  itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Cinta Dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad)

            Kehidupan kita saat ini terjadi manakala di antara kita ada yang berpegang teguh dengan syariat Islam dan berupaya keras untuk menghidupkan semua sunnah Rasulullah saw, pasti akan mengalami keterasingan di tengah masyarakatnya, lantaran kebodohan yang merata di tengah masyarakat bahkan Negara kita.
            “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan kelak ia akan kembali asing sebagaimana ia dahulu ia bermula dalam keadaan asing, dan sesungguhnya Islam akan kembali ke sarangnya di antara dua mesjid (masjidil haram di Mekah dan masjid nabawi di madinah) sebagaimana seekor ular akan kembali ke lubang sarangnya.” (HR. Muslim )

            Kehidupan kita saat ini berada di tengah-tengah  jutaan  mayat saudara-saudara kita di Suriah, sebagai bayaran atas kebiadaban dan kediktatoran rezim Syiah Nushoiriyah, Basar Asad laknatullohi alaihim. Setelah itu jutaan saudara-saudara kita di Palestina yang ikhlas menggadaikan nyawanya demi mempertahankan Baitul Maqdis dari kebiadaban kaum Yahudi Israel, dari angkara murka manusia-manusia yang sesungguhnya dalam Al-Quran, telah dikutuk oleh Allah sebagai manusia yang memiliki sifat anjing, Babi dan  kera. Kemudian jutaan saudara-saudara kita di Mesir yang tulus menyerahkan harta dan nyawanya di hadapan kebiadaban kaum Sekular, Syiah dan Kristen Koptik.
            Kehidupan kita  saat ini, seperti memegang bara api, seperti yang pernah dijanjikan Rasulullah saw.
            “Sesungguhnya di belakang kalian kelak akan ada masa-masa yang menuntut kesabaran ekstra. Orang-orang yang bersabar di atas ajaran Islam pada masa itu bagaikan orang yang menggenggam bara api. Orang yang beramal ataw berjuang demi tegaknya Islam pada masa itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya kalian. Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apakah pahala lima puluh orang di antara mereka?” Rasulullah menjawab, “Bahkan pahala lima puluh orang di antara kalian.” (HR. Abu Daud)

            Kehidupan kita pun berada di mana seluruh sistem jahiliyah dan kaki tangannya saat ini sedang mengalami kehancuran yang sangat dahsyat. Semua umat manusia termasuk umat Islam menduga system jahiliyah tersebut akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa di balik semua itu ada gejala “the agony of globalization, democratization, liberalization, nazionalization, capitalization.” Azab dan sengsara karena ulah globalisasi, demokratisasi, nasionalisasi, liberalisasi, dan kapitalisasi. 

            Kehidupan kita saat ini berada di tengah mimpi buruk yang terus menghantui tidurnya musuh-musuh Islam. Mereka saat ini sedang memburu dan membantai bayi-bayi kaum muslimin di seluruh dunia di mana umat Islam berada. Mereka khawatir dari bayi-bayi itu akan tampil menjadi sang khalifah akhir zaman, yang sudah dijanjikan oleh Rasulullah dan sangat dinantikan oleh umat Islam. yakni Muhammad bin Abdullah Al-‘Alawi Al-Fathimi Al-Hasani atau Imam Mahdi.

            Nampaknya, mimpi buruk musuh-musuh Islam tentang Nubuwat Akhir Zaman, kebangkitan Islam di Abad 20, menjadi ‘biang kerok” dan pemicu munculnya berbagai huru hara dan pembantaian yang terus berlangsung di tengah umat Islam yang bisa jadi hingga kiamat nanti.

            Adakah jalan keluar untuk lari dan menyelematkan diri dari fitnah akhir zaman tersebut? Jawabnya: Tidak Ada Jalan Keluar. Tidak ada ada petunjuk penyelesaian melainkan diujungnya kesesatan yang menambah kebinasaan. Kecuali petunjuk dan jalan keluar yang ditawarkan oleh Syariat Islam dan Al-Qur’an, yakni Taqwa kepada Allah swt.
            “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberika jalan keluar dari setiap kesulitan. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap urusan.” (QS. Ath-Tholaq: 2,4)

            Mari kita perhatikan sebuah makna tentang Taqwa dari perbincangan yang dilakukan oleh dua sahabat nabi saw., Umar bin Khaththab dan Ubay bin Ka’ab ra.  Umar bin Khaththab pernah bertanya tentang Taqwa kepada Ubay bin Ka’ab, “Apakah yang engkau ketahui tentang Taqwa?”, Ubay menjawab dengan menggunakan sebuah pertanyaan, “Apakah engkau pernah melewati jalan yang berduri wahai Umar ?”. Umar menjawab, “Ya, aku berhati-hati dan berupaya menghindarinya.” Ubaypun menjawab, “Itulah Taqwa.”

            Itulah salah satu makna taqwa, sensivitas dalam hati, kepekaan dalam perasaan, responsive, selalu takut, senantiasa berhati-hati dan selalu menjaga diri dari duri-duri di jalanan. Jalan kehidupan yang penuh dengan duri-duri kesenangan dan syahwat. Duri-duri keinginan dan ambisi. Duri-duri kekhawatiran dan ketakutan. Duri-duri harapan palsu terhadap orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi harapannya. Dan berpuluh, beratus bahkan ribuan duri-duri kehidupan lainnya.

            Marilah kita jadikan keimanan  dan ketaqwaan kita sebagai perhiasan dan bekal hidup kita. Marilah kita jadikan seluruh Ibadah kita saat ini sebagai titik awal membangkitkan Ukhuwah Islamiyah. Titik awal menumbuhkan semangat memberi. Titik awal untuk mengalahkan egoisme dan kebakhilan kita. Titik awal untuk mengalahkan rasa takut kita demi semangat membela sesama saudara muslim. Titik awal untuk mengalahkan kepentingan-kepentingan pribadi demi kepentingan umat yang lebih besar. Titik awal untuk meletakkan hati nuranidi atas semua hitungan rasio dunia. Titik awal untuk menolong agama Allah dan umat Islam.

            Hanya dengan itu kita berhak mendapatkan hidayah dari Allah, hanya dengan itu kita berhak atas pertolongannya, dan hanya dengan itu kita berhak menyandang gelar orang-orang yang menang.
           
Alhamdulillahi Rabbil’alamin.




Diberdayakan oleh Blogger.