RAMADHAN: KEWASPADAAN SEORANG MUSLIM




THORIQUNA.ID - Ramadhan saat ini berada di era di mana seluruh sistem Jahiliyah ddan kaki tangannya telah mengalami kebangkrutan. Coba kita eja kembali: Di mana  Globalisme yang selama ini diidam-idamkan seluruh umat manusia ? Ke mana Demokratisme yang selalu diperjuangkan sampai titik darah penghabisan itu ? Bagaimana nasib Nasionalisme, Liberalisme dan Kapitalisme yang selama ini menjadi impian manusia ?

            Shaum yang kita perjuangkan di bulan Ramadhan ini seolah memberi jawaban bahwa Globalisme, Demokratisme, Nasionalisme, Liberalisme, Kapitalisme dan isme-isme lainnya yang melaju cepat ternyata tidak memberikan “secuil” maknapun dalam kehidupan.

            Semua umat manusia menduga sistem jahiliyah tersebut akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa di balik itu ada gejala yang dinamakan The Agony of Globalization, Demoratization, Nationalization, Liberalization and Capitalization,  Azab dan sengsara karena Globalisasi, Demokratisasi, Nasionalisasi, Libaralisasi dan Kapitalisasi.  Seperti semakin tidak terkontrolnya kriminalitas, perzinahan, perjudian, perkorupsian, penarkobaan, perprostitusian, bunuh diri, gangguan jiwa, kenakalan remaja, berbagai kekerasan lingkungan hidup dan tata nilai kehidupan.

            Adakah jalan keluar untuk lari dan menyelamatkan diri dari fitnah akhir zaman tersebut ? Tidak ada jalan keluar, tidak ada petunjuk penyelesaian melainkan diujungnya kesesatan yang menambah kebinasaan. Kecuali petunjuk dan jalan keluar yang ditawarkan oleh Dienul Islam, yaitu Taqwa  kepada Allah sebagaimana dijanjikan Allah dalam surat Ath-Tholaq: 2,4. Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dari setiap kesulitan.” “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mengadakan baginya kemudahan dalam setiap urusan.”


Taqwa = Waspada

            Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, taqwa pada dasarnya menjaga diri dari hal-hal yang dibenci, karena taqwa berasal dari kata al-Wiqoyah (penjagaan). ( Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri,ShahihTafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah:2, Jakarta, Pustaka Ibnu Katsir, I, hal 118). Sedangkan Sayyid Quthub menyatakan bahwa salah satu pengertian Taqwa adalah Hadzirun Daimun (kewaspadaan yang senantiasa ). ( Sayyid Quthub, Fi Zhilalil Qur’an, QS. Al-Baqarah:2, Jakarta, GIP, 2000,I, hal. 46.

            Sayyid Quthub pernah mengutip sebuah dialog antara Umar bin Khaththab radhiyallohu’anhu dengan Ubay bin Ka’ab ra. Umar bertanya kepada Ubay tentang taqwa. Lalu Ubay menjawab seraya bertanya kepada Umar, “Apakah engkau pernah melewati jalan yang berduri?” Umar menjawab, “Ya.” Ubay bertanya lagi, “Apa yang engkau lakukan ?” Umar menjawab, “Aku berhati-hati dan berupaya menghindarinya.” Lalu Ubay berkata, “Itulah taqwa.”

            Itulah taqwa, sensivitas dalam hati, kepekaan dalam perasaan, responsive, selalu takut, senantiasa berhati-hati dan selalu menjaga diri dari duri-duri  jalan. Jalan kehidupan yang penuh duri-duri kesenangan dan syahwat, duri-duri keinginan dan ambisi, duri-duri kekhawatiran dan ketakutan, duri-duri harapan palsu terhadap orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi harapan, duri-duri ketakutan palsu kepada orang yang tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan manfaat dan madharat, dan berpuluh-puluh macam duri lainnya.

            Taqwa adalah barometer keimanan seorang muslim. Dengan taqwa mata hati akan terbuka untuk melihat dan menerima kebenaran serta menolak dan menjauhi kemungkaran. Sebagaimana firman Allah, “ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan pembeda (antara al-Haq dengan al-bathil) bagimu.” (Al-Anfal: 29)

            Ibnu katsir  berkata pada ayat ini, “Karena barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya niscaya dia diberi taufiq (bimbingan) untuk mengetahui yang haq dari yang bathil.”

            Namun sayang, tidak semua orang yang megaku Islam … itu beriman, sebagaimana tidak semua orang beriman … itu bertaqwa. Kata taqwa atau “takut kepada Allah” tidak lagi menjadi rasa, tetapi hanya sekedar menjadi bahasa. Sebagian besar umat manusia, termasuk umat Islam dewasa ini sudah kehilangan rasa takut kepada Allah, kepada ancaman-ancaman yang dahsyat bagi orang-orang yang maksiat, kepada kemungkinan-kemungkinan bahwa diri   kita terjerembab dalam azab dunia lebih-lebih siksa kubur dan azab akhirat. Namun, justru sebaliknya sebagian di antara kita cenderung takut pada orang-orang yang dikeramatkan, jin, syetan dan lainnya.

            Perhatikan bagaimana teguran Allah dalam surah An-Nur ayat 63, “maka hendaklah orang-orang yang menyelahi rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

            Ibnu Katsir berkata pada tafsir ini, “hendaklah orang-orang yang menyalahi syariat Rasul, baik secara zhahir (nampak) maupun bathin (dengan hati) merasa takut dan khawatir. Pertama, An Tushiibahum Fitnatun, akan mendapatkan cobaan berupa fitnah yang terangsang di dalam hati yakni kekufuran, kemunafikan dan bid’ah. Kedua, Au Yushiibahum ‘Adzabun Alim,  atau ditimpa azab yang pedih yang berlaku di dunia seperti sanksi hukum mati, dihukum dengan had dan dipenjara. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir, VI, hal.457) 


Mengapa Harus Waspada

            Jika memperhatikan dialog antara Umar bin Khaththab dan Ubay bin Ka’ab, maka shaum di bulan Ramadhan ini perlu disikapi secara waspada, namun tetap wajar.

            Waspada, karena kita berada pada puncaknya masa Jahiliyah modern yang penuh duri-duri jalan. Sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw., sebagai zaman yang penuh keguncangan hati, kemurtadan dan dijadikannya Dajjal sebagai solusi dan harapan banyak manusia. Wajar, karena tidak sedikit dari umat Islam yang lemah pemahamannya justru menjadi salah dalam menyongsong datangnya bulan Ramadhan, keliru dalam melaksanakan ajaran shaum dan salah dalam mengambil hikmah Ramadhan.

            Waspada, lantaran semangat Ramadhan kita tengah “bertarung” dengan spirit Sekularisme yang menentang “campur tangan” Dien Allah dalam aspek kehidupan.

            Waspada, sebab shaum Ramadhan ini berada di era teknologi informasi dan telekomunikasi. Di mana setiap orang merasa punya hak untuk “berfatwa” melalui jejaring media sosial. Era ini telah melahirkan generasi dan anak keturunan yang semakin liar dalam berbicara urusan umat sehingga umat menjadi bingung. Sebagaimana yang pernah digambarkan Rasulullah saw., “Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun tipu daya, di mana pendusta dibenarkan, sedangkan orang jujur didustakan. Pengkhianat dipercaya sedangkan orang amanat dianggap pengkhianat, di mana itu Ruwaibidhoh berbicara.” Beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidhoh  itu?” Beliau bersabda, “Orang bodoh berbicara tentang persoalamn yang banyak.” ( HR. Ahmad )

            Waspada, karena shaum Ramadhan kita berada di saat umat Islam jauh dari ajarannya, di saat umat Islam justru menjadi pembela musuh-musuh Allah, di saat mereka menggunakan ideology dan paham-paham kufur yang bertentangan dengan syariat Islam.

            Waspada, ketika kita berada di mana Allah telah mencabut rasa takut musuh-musuh Allah. Sebagaimana Rasulullah saw., gambarkan, “ Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian seperti orang-orang makan yang memperebutkan hidangannya. Maka ada seseorang bertanya, “apakah karena sedikitnya kami pada hari itu ?” Beliau menjawab, “justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut pada kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit Wahn,” Seseorang bertanya, “  Apakah Wahn itu wahai Rasulullah saw.?” Beiau bersabda, “ Cinta dunia dan takut mati.” ( HR. Ahmad)

Mewaspadai 3 akar

            Allah berfirman dalam surah An-Nahl ayat 35, “ Dan orang-orang musyrik berkata, “ Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu ajaran apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa izin-Nya.”

            Ayat-ayat yang mulia ini menyebutkan tiga akar kesyirikan yang Islam datang untuk mencabutnya sampai tuntas sehingga seluruh ketundukan dan ketaatan manusia tertuju kepada Allah semata. (Abu Ammar, menjadi ahli tauhid di akhir zaman, solo, Granada mediatama, 2012)  Ketiga akar kesyirikan  tersebut  adalah; 1) tidak beriman kepada keesaan Allah semata, 2) menujukan ibadah kepada selain Allah, dan 3)menghalalkan serta mengharamkan tanpa izin Allah.

            Tiga akar pokok kesyirikan ini berhadapan dengan tiga akar pokok iman: keimanan yang kokoh terhadap kekuasaan Allah, menujukan seluruh bentuk ibadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan meminta putusan perkara kepada syariat Allah semata bukan kepada hukum dan undang-0undang lainnya. Dengan kata lain, perkara akidah, perkara ibadah, dan perkara hukum tau perundang-undangan. Inilah tida konsekuensi pokok Laa Ilaaha Illallah, yang pelanggaran terhadap salah satunya menyebabkan batalnya Laa Ilaaha Illallah  yaitu membatalkan keislaman.




------------- Wallhohu ‘Alam --------






Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.