Membajak Militansi Ramadhan




THORIQUNA.ID - Puasa Ramadhan bagi umat Islam membawa berkah sendiri. Gegap gempita dan suka citanya merupakan kondisi abstrak yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Harapan surga, pahala berlipat ganda, ampunan dosa, dan di selamatkan dari api neraka mengisi suasana batin.

            Namun, hanya dengan keimanan puasa Ramadhan bisa terwujud guna meraih takwa, nilai tertinggi dunia-akhirat. “Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 185)

            Rupanya kemukjizatan ayat tersebut selalu mengganggu jalan pikiran kaum kafir salibis: Yahudi-Nasrani. Padahal merekapun menjalankan ibadah puasa. Mengapa? Karena sebenarnya mereka paham bahwa puasa-puasanya tidak bernilai ibadah di sisi Allah. Setelah disyariatkannya ibadah puasa pada nabi Muhammad saw., otomatis syariat mereka tertolak. “Hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan tekah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3 )

            Bagi mereka memeluk Dienul Islam tidak mungkin kecuali yang sadar terhadap taufik dan hidayah Allah. Maka diputuskan untuk beternak ‘rasa dengki’. Lihatlah permusuhan yang dihasilkan mereka, agenda maker yang tiada henti-hentinya sampai kiamat. Termasuk merekayasa agar puasanya umat Islam menjadi ‘tidak wajib’, supaya prestise takwa menjadi penghargaan yang ‘biasa-biasa’ saja, dan hasilnya keimanan/ tauhid tercerabut dari akar kehidupan umat Islam. “Sebagian ahli kitab menginginkan mereka agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri. Setelah nyata bagi mereka kebenaran …” (Al-Baqarah: 109).

Peta Keberagamaan

            Untuk memetakan betapa suci dan mulianya bulan Ramadhan bagi umat Islam. Atau  betapa berkahnya bulan Ramadhan bagi kaum Salibis maka perlu dipetakan kembali sikap keberagamaan (psikografi keagamaan) manusia.( Jalaludin Rahmat, Meraih Cinta Ilahi, Bandung Rosda Karya, 2004, hal. 95)

            Pertama, dimensi ideologis atau apa yang harus dipercayai. Dimensi dasar yang membedakan satu agama dengan agama lain, atau satu mazhab dengan mazhab lainnya. Ada tiga kategori kepercayaan:

1.      Kepercayaan yang menjadi dasar esensial suatu agama. Contoh kepercayaan bahwa nabi Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir dalam umat Islam. ketuhahnan Kristus dalam Kristen Katholik.

2.      Kepercayaan yang berkaitan dengan tujuan Ilahi dalam penciptaan manusia. Orang Yahudi percaya bahwa mereka umat pilihan Tuhan yang punya misi untuk menciptakan dunia yang lebih baik secara moral dan spiritual. Tujuan hidup dalam agama Hindu adalah memperoleh keselamatan dengan mengikuti tiga jalan: Jalan  kerja, pengetahuan dan pengabdian.

3.      Kepercayaan yang berkaitan dengan cara terbaik untuk melaksanakan tujuan Ilahi. Seperti orang Islam percaya bahwa untuk beramal saleh, ia harus melakukan pengabdian kepada Allah dan perkhidmatan sesama manusia. Orang Budha percaya bahwa berbuat baik adalah menjalankan 8 yang benar. Shinto mengajarkan kepercayaan akan kesetiaan dan melaksanakan kewajiban untuk keluarga dan nenek moyang.

Kedua, dimensi ritualistik, yang berkaitan dengan sejumlah perilaku. Seperti perilaku khusus yang ditetapkan oleh agama misalnya tata cara ibadah, pembaptisan, pengakuan dosa, berpuasa, sholat menghadap kiblat. Semakin terorganisasi sebuah agama, semakin banyak peraturan yang dikenakan pada pengikutnya.

Ketiga, dimensi eksperensial yang berhubungan dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama. Psikologi menyebutnya dengan ‘Religious Ekesperiences’. Seperti kekhusyukan dalam sholat. Kristiani yang merasa terpanggil untuk melepaskan umat manusia dari dosa.

Keempat, dimensi intelektual, sejumlah informasi khusus yang harus diketahui oleh para pengikutnya. Seperti Fiqh dalam Islam tentang fatwa-fatwa ulama berkenaan dengan ritual keberagamaan. Sikap orang dalam menerima/ menilai ajaran agamanya berkait erat dengan pengetahuan agamanya itu.

Kelima, dimensi konsekuensial, akibat ajaran agama dalam perilaku umum. Inilah efek negative dan posiitif  ajaran agama pada tingkat personal atau sosial dalam kesehariannya.

 Secara statistic ada orang yang pengetahuan agamanya tinggi, menjalankan sholat dengan teratur, keyakinan kuat pada agamanya, dan berakhlak baik. Ada yang pengetahuannya tinggi tetapi meninggalkan sholat. Ada yang tidak menjalankan sholat tetapi senang membantu orang lain. Artinya betapapun tingginya kualitas pada dimensi ritualistik, tetapi tidak berpengaruh pada dimensi kensekuensial.

Setelah menunaikan zakat di bulan Ramadhan, sebagai orang kaya kembali dengan modalnya melakukan perilaku pemiskinan. Artinya zakat tidak memberikan efek strategis apapun, tetapi hanya membuat orang miskin senang, terhibur dan merasa tentram. Memberi sebagian kecil hartanya di bulan Ramadhan adalah perbuatan baik tetapi mengeruknya kembali secara tidak adil adalah perbuatan nista.

Bagi para pejabat Negara, zakat di bulan ramadhan sekadar dijalankan untuk menyucikan harta hasil korupsi dan praktik kemaksiatan lain. Harta hasil korupsi dianggap suci dan halal setelah dibayarkan zakatnya pada fakir miskin. Inilah agama yang dijadikan sebagai kedok untuk memperkaya diri.

Militansi Ramadhan

            Bagi umat Islam peta keberagamaan di atas seharusnya menjadikan mereka militant, fundamental, radikal, fanatis atau mencintai syariat Islam dan berjuang mempertahankan serta menegakkannya kembali. Ibadah mana dalam rukun Islam yang tidak diciptakan oleh Allah untuk menjadikan umat Islam militant.

            Begitupun dengan bulan Ramadhan di mana syahadat (iman / tauhid) sholat, zakat dan puasa berkumpul dalam satu arena ‘penggemblengan’ ruhani, yakni Puasa. Tujuannya hanya satu:  Mengharap keridhaan Allah. “Dan keridhaan Allah lebih besar, itulah keberuntungan yang besar.” (At-Taubah: 72) Inilah pandangan hidup seorang muslim.

            Thomas Merton, psikolog Amerika menyatakan, “Anda tidak bisa menyelamatkan dunia hanya dengan sebuah sistem. Kita perlu orang-orang suci, karena dunia sekarang lebih memerlukan kehadiran seorang manusia suci daripada seribu manusia nalar.” (Jalaludin, 98)

            Dalam Al-Qur’an manusia suci dinamakan manusia Taqwa (Muttaqien). “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62-63)

            Manusia takwa adalah wali-wali Allah yang semula mati kemudian dihidupkan. “Dan apakah orang-orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia…”(Al-An’am: 122)

            Cahaya terang yang dikaruniakan Allah pada manusia takwa diumpamakan sebagai misykat (pelita), yakni sebuah lubang yang tak tembus yang didalamnya ada pelita besar. “Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar…” (An-Nur: 35).  Sedangkan orang-orang kafir yang kehilangan cahaya diumpamakan sebagai fatamorgana atau seperti gelap  gulita dalam lautan. ”Dan orang-orang kafir amal-amal mereka laksana fatamorgana… atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam…” (An-Nur: 39-40)

            Menurut Sayid Quthb, salah satu arti takwa adalah Hadzirun Daimun (kewaspadaan yang senantiasa). “… orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjata dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atas kamu meletakkan senjata-senjatamu jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu  memang sakit, dan waspadalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (An-Nisa: 102)

            Al-Hadzr atau al-Hidzr  berarti hati-hati, waspada, tersembunyi dan terjaga. Karenanya dari ayat 102 surat An-nisa tersebut, manusia takwa selalu waspada terhadap kemaksiatan (Ali-Imran: 28), waspada terhadap harta, keluarga dan anak-anak (At-Taghabun: 14; Al-Anfal: 28), waspada dari mengikuti hawa nafsu (Al-Maidah: 49), dan waspada terhadap tipu daya musuh (Al-Munafiqun: 4)

            Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa, dan Ubay balik bertanya, “Tidakkah engkau pernah melewati jalan yang berduri ?”  Umar menjawab, “Ya.” Ubay bertanya lagi, “Lalu apa yang engkau kerjakan ?”  Umar menjawab, “Aku berusaha keras dan bekerja sungguh-sungguh untuk menghindarinya.” Lalu Ubay menuturkan, “Yang demikian itu adalah takwa.”

            Bagaimana melahirkan generasi takwa ? Bagaimana cara memperoleh cahaya terang yang dikaruniakan Allah ? Bagaimana menumbuhkan rasa waspada  atau kehati-hatian ? Allah memberi jawabannya dengan Puasa Ramadhan.

Membajak Ramadhan

            Bagi kaum kapitalis dosa manusia berupa ketamakan merupakan berkah. Keberkahan ini disalurkan lewat media elektronik ataupun mass. Jangkauan pemasarannya tak hanya berhenti dalam kehidupan sosial ataupun budaya melainkan agama juga menjadi lahan subur untuk meningkatkan produksi demi meraih keuntungan besar.
           
Kegiatan berpuasa Ramadhan misalnya, perusahaan kapitalis mulai mengambil alih tentang apa dan bagaimana seharusnya berpuasa secara baik dan benar. Bulan Ramadhan yang mestinya menjadi  wahana penggemblengan pertumbuhan ruhani justru dibajak oleh kapitalisme untuk memanjakan konsumerisme. Simak saja acara-acara televise swasta.

            Semua tayangan televisi dalam titik ini seakan ‘disembah’ oleh masyarakat yang mayoritas mengaku Islam bahkan mengalahkan pengajian-pengajian yang diadakan di beberapa pesantren, masjid dan mushala. Televisi menjadi ‘kiblat’ masyarakat untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran agama yang diyakini. Dengan demikian agama tidak lagi harus dikaji di berbagai pesantren, perguruan tinggi dan lembaga-lembaga kajian lainnya, namun cukup dikaji  dan dijalankan berdasarkan apa yang dikatakan oleh televisi.

            Kebenaran agama tidak lagi melalui dialog dan perenungan spiritual yang dalam, namun kebenaran agama ‘mandek’ dan terstigmatisasi dengan sendirinya oleh rutinitas melihat televisi. Sebab fenomena sekarang bisa dikatakan bahwa melihat televise sudah menjadi ‘ritualitas’ keberagamaan yang mampu mengalahkan ritualitas-praktis yang selama ini dijalankan.

            Fenomena inilah yang dikatakan oleh beberapa ulama dan intelektual muslim sebagai materialism agama. (Muhammadun, Ramadhan dan materialism agama,kompas, 2007). Agama tampil di hadapan para pemeluknya tidak lagi oleh para ulama dan cendikiawan, namun melalui para selebritis yang magang di televisi. Dengan terjebak dalam jerat televisi menjadi indikasi bahwa kita terjebak dalam materialism.

            Materialism agama itupun muncul karena beberapa hal. Pertama,  dangkalnya pemahaman atas ajaran agama.  Ibadah puasa yang dijalankan masyarakat selama ini ternyata terjebak dalam pragmatisme berupa fiqh oriented,  asalkan berpuasa dengan tidak  makan dan minum, sah puasa mereka.

            Puasa hanya sebagai bussines as usual, kadang-kadang sampai menjadi dinding yang massif menghalangi kita melihat realitas lain di luar dinding itu. Implikasinya umat Islam merasa puasanya sudah benar. Akibatnya nilai puasa Ramadhan dan ibadah lainnya semakin kabur bahkan terdistorsi. Dalam konteks ini selebritisme agama hanya ingin agama terlihat begitu massif dan tidak menjadi kekuatan. Alih-alih diharapkan menjadi syariat yang bisa dilaksanakan secara kaffah, malah sebaliknya: menolak tegaknya syariat Islam.

            Akibatnya rutinitas yang ala kadarnya, maka tidak heran umat Islam terjebak dalam psychological booring (kebosanan jiwa) yang menimbulkan stress dan depresi. Penyakit ini dalam keberagamaan akan memicu sikap acuh tak acuh, tanpa memberikan makna yang jelas terhadap konsepsi syariat Islam itu sendiri.

            Kebosanan jiwa ini biasanya mengantarkan manusia pada satu sisi bersifat materialis-biologis, di sisi lain manusia kehilangan daya nalar kritis karena selalu menganggap ‘cukup’ bahkan menjadi jumud terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam.

            Kedua, kemenangan budaya pasar. Dalam bukunya Budaya dan Masyarakat, Kuntowijoyo menjelaskan tentang dua jenis budaya: budaya masjid dan budaya pasar. Kedua budaya ini menggambarkan dua fenomena tolak belakang yang terjadi di masyarakat. Budaya masjid digunakan untuk menggambarkan budaya masyarakat yang bersih, jujur dan jauh dari aspek hedonisme. Sedangkan pasar merujuk pada budaya masyarakat yang penuh tipu daya dan selalu mementingkan kepentingan materi. (Kuntowijoyo, Budaya dan Masyarakat, Bandung, Mizan, 1991, hal. 232)

            Dalam konteks sekarang, budaya pasar telah mengalahkan budaya masjid. Beberapa tayangan televisi yang merupakan elemen budaya pasar telah mengalahkan tayangan yang didesain oleh pengurus masjid. Orang di depan televisi akan semakin banyak daripada orang yang ada dalam masjid, pesantren dan mushala.

            Materialism Agama dalam budaya pasar ini sangat jelas terlihat. Sebagian besar tayangan Ramadhan dikemas  terjebak dalam pemahaman Islam yang simbolis-verbalis semata. Dalam tayangan sinetron dan iklan pengguunaan busana muslim, pengucapan salam dan pemakaian symbol keagamaan lain seakan sudah mempresentasikan sebuah tayangan sinetron atau iklan yang Islami dan patut diteladani. Padahal di sisi lain itu bentuk kehidupan glamour serta mewah yang sama sekali tidak sesuai dengan spirit ajaran puasa Ramadhan. Bahkan secara langsung telah menambah makin tingginya kesenjangan sosial masyarakat.

            Setidaknya ada dua semangat puasa Ramadhan yang dicederai. 1) perilaku hidup bersahaja, tidak menghambur-hamburkan, tidak foya-foya meskipun itu milik sendiri. 2) perilaku toleransi terhadap kelestarian lingkungan hidup di masa depan dengan berpikir dan berperilaku atas kemungkinan kelangkaan sumber daya  alam.

Melawan Pembajakan

            Tidak mudah melawan para pembajak kebenaran syariat Islam apalagi yang jelas-jelas mengakui kekafirannya (Yahudi-Nasrani). Namun, kita tetap optimis dan harus erius seperti keseriusan dan kesungguhan para nabi, rasul dan juru dakwah dalam mengemban  kitab Allah. Mereka serius dalam memandang realita kaumnya, mendiagnosa penyakit-penyakitnya  dan memberikan terapinya secara benar sesuai tuntunan Allah.

            Konsentrasi pertama dan paling utama dakwah melawan para pembajak adalah penanaman Tauhid dan pemberantasan syirik, karena tugas utama hidup manusia adalah untuk bertauhid dan menjauhi syirik. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu.” (An-Nahl: 36)

            Konsentrasi selanjutnya adalah memperbaiki kerusakan yang menjadi ciri khas manusia, waktu  dan tempat mereka hidup.(Raghib As-Sirjani, Bukan Zaman Abrahah, Solo, Aqwam, 2011, hal.35)

1. Konsentrasi dakwah nabi Hud adalah memperbaiki penyakit boros dan foya-foya kaumnya. (Asy Syu,ara: 128-131).
2. Konsentrasi dakwah nabi Sholeh adalah mencegah perusakan di bumi (Al-‘Araf:74).
3. Konsentrasi nabi Syu’aib adalah mencegah manipulasi perdagangan dan perusakan di bumi (Al-‘Araf:85-86;Hud: 84-85).
4. Konsentrasi dakwah nabi Luth adalah mencegah homoseksual (An-Naml: 54-55).
5. Konsentrasi dakwah nabi Musa dan Harun adalah membebaskan Bani Israil dari kezaliman Fir’aun dan kaumnya ( Al-‘Araf: 104-105 ).
6. Konsentrasi dakwah nabi Muhammad saw adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas dari Abu Sufyan, “Dia Muhammad berkata, “Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukannya dengan sesuatupun!  Tinggalkanlah perkataan-perkataan (pendapat-pendapat) nenek moyang kalian.” Dia (Muhammad) menyuruh kami untuk melaksanakan sholat, berkata jujur, menjaga kehormatan, memelihara kekerabatan… “ (HR. Bukhari-Muslim)

----------------- Wallahu’alam  ----------




  • Penulis : 
  • Ust.Muntoha Bulqini


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.