RAMADHAN: GERAKAN MENJENGKELKAN ROJIM & REZIM

by 20.09




THORIQUNA.ID,

Al-Qur’an Yang Bergerak
Salah satu keutamaan bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an :“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. ( Al-Baqarah: 185).

Karena produk Allah / kalamullah, maka apapun yang dihasilkan Al-Qur’an akan selalu benar dan positif, seperti fungsi dalam ayat 185 tersebut, sebagai Hudan Linnaas (petunjuk bagi manusia), Wa Bayyinaatin Minal Hudaa ( penjelas bagi petunjuk), dan wal Furqoon ( pembeda ).

Bagaimana fungsi Al-Qur’an tersebut dalam kondisi Fitnah Di Akhir Zaman saat ini ? Siapakah yang akan menggerakkan Al-Qur’an agar 3 fungsi di atas terwujud dalam diri , keluarga, masyarakat, dan negara kita ? Siapakah yang akan menggerakan Al-Qur’an agar bisa menjadi Dusturul Hayah ( Pedoman Hidup) dan Dusturud Daulah ( Pedoman Bernegara ).

Sayid Quthub pernah menuturkan pesan untuk kita, bahwa Al-Qur’an adalah: “Al-Kitaabul Khoolid Wal ‘Athooul Mutajaddid, kitab yang abadi yang produknya tidak pernah berhenti.”

Sejak diturunkan 14 abad yang lalu, Al-Qur’an selalu bergerak menghasilkan Ahli-Ahli Zaman. Apakah dia seorang Nabi, Ulama, Fuqoha, Sholihin, bahkan Mujahidin, termasuk Sayid Quthub. Merekalah Ahli Zaman yang berhasil menggerakkan Al-Qur’an. Merekalah yang patut kita namakan Al-Qur’an Yang Bergerak.

Apa yang membuat mereka : Rasulullah, Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, Para pembela Tauhid, Para Penegak Syariat, dan para Mujahidin Fie Sabilillah bisa bertahan ? Seperti pertanyaan lain: Apa yang membuat seseorang bertahan terhadap kematian? Air bertahan terhadap kebusukan ? Dahan bertahan terhadap kelapukan?  Jawabannya: Gerak.

Sepertinya kata Gerak ini sudah tidak asing bagi kita. Bahkan kita selalu mengucapkannya dalam bahasa arab yakni Harokah. Karena Kata ini mengandung makna sebab akibat, maka kita bisa mengerti bahwa dengan bergerak kita mendapatkan kemuliaan dan bila diam kita akan jatuh.


Gerak Kehidupan & Kematian

Gerak, bisa dibagi menjadi dua, ada yang menuju pada Gerak Kehidupan, ada pula yang mengarah pada Gerak Kematian. Pertama, Mengenai Gerak Kehidupan, mari kita renungkan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan tentang hal itu.  Allah berfirman dalam QS. Ali-Imran: 169: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup seraya mendapat rizki di sisi Rabb-nya.”

Apa makna kematian di hadapan nilai mulia syahid di jalan Allah ? Artinya, ajal hanya dapat menghentikan gerak jasad yang fana tetapi bukan “hidupnya”, karena Allah  melarang untuk menyebut mereka itu mati.

Seperti juga kisah sahabat Rasulullah, Shuhaib Ar-Rumi ra., “Ia tiba di Madinah setelah menempuh perjalanan Hijrah yang penuh bahaya, nyaris tak berhasil pergi, bila pilihan cerdas tak diambilnya yakni  berangkat dengan melepaskan semua kekayaan yang dimilikinya. Shuhaib disambut dengan gembira, namun prihatin atas musibah harta tersebut. “Shuhaib bangkrut”, komentar lumrah yang lazim terdengar . Sebagai Gerak Kematian pemimpin sejati Rasulullah saw., mengambil sikap dan komentar cerdas atas keputusan cerdas tersebut; “Rabiha Shuhaib, Rabiha Shuhaib, Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung.”

Kedua contoh ini bisa disimpulkan, bahwa Gerak lah yang bisa menjadikan seseorang bisa bertahan.

Kedua, , bisa kita perhatikan dari pertanyaan berikut ini: Apa yang dihasilkan dari dana besar yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ? Jawabannya tidak lain hanya Penghancuran bukan pembangunan. Coba perhatikan satu persatu: Bukankah sekolah-sekolah yang dibangun di negeri  ini hanya menghasilkan generasi yang siap menjadi bodoh ?  Tawuran melesat degan beringasnya dari kawasan SMP menuju kampus-kampus Perguruan Tinggi (PT).  Sementara itu, perkelahian melesat dengan mudahnya antara warga masyarakat bawah di kampung-kampung dan gang-gang sempit menuju masyarakat elit  di gedung-gedung Parlemen.

Bukankah penjara-penjara besar (makro) berkembang biak di kawasan penjara-penjara kecil (mikro). Napi yang hari ini dikerjai napi senior, besok akan mengerjai napi Junior. Yang tak dapat peluang menjarah bertrilyunan kekayaan negeri ini, pasti akan membakar harta siapa saja dengan modus kerusuhan. Yang berhasil menguasai posisi kunci di pemerintahan akan mengulang kembali kerakusan pendahulunya. Yang merasa jadi mangsa di masa lalu, kini jadi predator  berdasi, berbatik, bersorban atau berkopiah.

Bukankah generasi muda harapan bangsa kini hanya slogan kosong, karena mereka telah  menjadi pelanggan setia rumah-rumah hiburan seks bebas, narkotika dan racun lainnya.
Inilah gerak kematian, yang lahir dari kematian. Gerak ulat dan belatung  yang melahirkan lalat dan nyamuk yang muncul dari tinja dan bangkai. Gerak predator  dan kanibal  yang saling memusnahkan.

Apa makna hidup yang panjang tanpa buah yang sama sekali tidak mendekati harga kehidupan, yang telah ditempuh dan dikorbankan? Apa makna kekayaan dihadapan kesengsaraan abadi di akhirat, bahkan kegundahan di dunia ini ? Benar apa yang difirmankan Allah dalam QS. Al-Kahfi: 103-105, “Katakanlah (Hai Muhammad), “Apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?,” “(Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah bebuat sebaik-baiknya.” Mereka itu adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya, Maka sia-sia amal mereka, dan kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari kiamat.” (Alkahfi: 103-105).

Siapa  yang bertanggung jawab atas merebaknya spesies baru yang sama sekali asing: bertelinga namun tetap tuli. Bermata namun tetap buta, dan bermulut namun tetap bisu. Mungkin mereka berhati dan berotak, tetapi hanya layak untuk menjadi rendang dan sambal pengisi perut-perut rakus. Ingatlah firman Allah dalam QS. Al-‘Araf: 179: “Dan sungguh akan kami isi neraka jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata, tetapi tidak digunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Demikianlah salah satu hikmah diturunkannya Al-Qur’an bagi umat manusia.


Gerakan Menjengkelkan Rojim

Perjalanan meraih taqwa dalam shaum Ramadhan diawali dari pertarungan berkesinambungan melawan Hawa Nafsu selanjutnya melawan Syetan.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyah dalam Ighotsatul Lahfan  mengatakan, “ penyebutan syetan, tipu daya dan serangannya melebihi banyaknya penyebutan Hawa Nafsu.” Seperti: “Sesungguhnya nafsu itu banyak memerintahkan kejahatan.” (Yusuf: 53). “Dan Aku bersumpahdemi nafsu Lawwamah.” (Al-Qiyamah: 2). “… Dan menahan nafsu dari keinginannya.” (An-Nazi’at: 40).  Sedangkan setan disebutkan dalam banyak ayat, bahkan ada satu surat dikhususkan untuk membahasnya (surat Jin).

Selanjutnya, dia menyatakan, “Peringatan Allah untuk mewaspadai Setan lebih banyak daripada peringatan-Nya untuk mewaspadai nafsu. Sebab, bahaya dan kerusakan nafsu timbul karena godaan Setan. Nafsu adalah kendaraan Setan, Sarang kejahatannya dan tempat di mana ia ditaati.

Untuk melihat Hawa Nafsu maka harus melihat HATI. Ibnul Qoyyim membaginya menjadi 3 bentuk: 
1. Qolbun Salim (Hati yang sehat). 
2.Qolbun Mayyit (Hati yang mati). 
3.Qolbun Maridh (Hati yang sakit). 

Hawa Nafsu menempati Hati yang Mati dan Hati yang Sakit. Bisikan setan akan menjadi bencana bagi hati yang mati dan sakit. Tetapi menjadi penguat bagi hati yang hidup dan sehat, karena ia akan menolaknya.

Untuk melihat Rojim, Allah menjabarkannya dalam beberapa ayat Al-Qur’an:  “Wahai manusia makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 168) “Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah.” ( Al-Baqarah: 169) “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 268)

“Tidakkah engkau (Muhammad) memerhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hokum kepada Taghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisa: 60) “Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan Sholat maka tidakkah kamu mau berhenti?” (Al-Maidah: 91) Sungguh setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6).

Ibnu Abi Dunya dalam kitab Makayidusy Syaithan wa Hiyalihi  berkata: Abu Bakar Tamimi menceritakan kepada kami dari Ibnu Maryam dari Yahya bin Ayub dari Ibnu Zahr dari Ali bin Yazid dan Qosim dari Abu Umamah bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Iblis setelah diturunkan ke bumi, berkata: “Rabbi, Engkau telah menurunkanku ke bumi dan menjadikanku terkutuk. Maka buatkan rumah untukku!” Allah menjawab, “Kamar mandi !” Ia meminta lagi: “Buatkan Majlis untukku !” Allah menjawab: “Majlismu  adalah pasar dan persimpangan jalan.” Ia meminta lagi: “Jadikan makanan untukku !” Allah menjawab : “Makananmu adalah setiap makanan yang tidak disebutkan nama Allah atasnya.” Ia meminta lagi: “Jadikanlah minuman buatku !” Allah menjawab: “ Minumanmu adalah setiap yang memabukkan !” Ia memohon : “Jadikanlah Muadzin buatku !” Allah menjawab: “ Seruling !” Ia memohon lagi: “Jadikanlah bacaan buatku !” Allah menjawab: “Syair.” Ia memohon lagi: “Jadikan tulisan untukku !” Allah menjawab : “Tulisanmu adalah tato.” Ia memohon lagi: Jadikanlah pembicaraan buatku !” Allah menjawab: “Kedustaan.” Ia memohon lagi: “Jadikan untukku utusan-utusan !” Allah menjawab: “Utusan-utusanmu adalah para dukun !” Dan sekali lagi ia memohon: “Jadikan buatku perangkap-perangkap !” Allah menjawab: “Perangkap-perangkap mu adalah kaum wanita.”

Iblis punya 5 anak. Pertama, Tsabr    adalah             Setan yang mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan musibah. Dia menyuruh manusia kepada Ats-Tsabur (meratap saat ditimpa musibah dengan mengatakan: “Celakalah aku”) menyobek baju, menampar pipi dan seruan-seruan jahiliyah. Kedua, A’war            merupakan      Setan yang mengurusi zina. Dia menyuruh orang melakukan zina dan menghias-hiasinya. Ketiga, Miswath yaitu          Setan pengurus kedustaan. Keempat, Dasim ialah    Setan yang menemani seorang laki-laki menemui keluarganya lalu memperlihatkan aib mereka kepada laki-laki itu sehingga dia marah. Kelima, Zaknabur  yaitu Setan yang mengurusi pasar dan memusatkan serangannya di pasar.

Nama dan Sifat Iblis antara lain : pertama, Al-Lahwu dan Lahwul Hadits  (kata yang tidak berguna ) . sebagaimana firman Allah : “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”  “Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan dikedua telinganya, maka gembirakanlah dia denganm azab yang pedih.” (Lqman: 6-7). Ulama tafsir menyatakan bahwa Lahwul Hadits adalah nyanyian, karena ia dapat melalaikan manusia dari dzikrullah.

Kedua, Az-Zur dan Al-Laghwu ( nyanyian ) seperti firman Allah: “Dan orang orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan  (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Al-Furqan: 72). Ulama mengatakan Az-Zur bisa berupa perkataan, perbuatan maupun tempat.

Ketiga, Al-Bathil ( kebatilan ) seperti dinyatakan dalam firman Allah: “Dan katakanlah, “Kebenaran telah dating dan yang bathil telah lenyap.” Sungguh yang bathil itu pasti lenyap.” (Al-Isra: 81). Al-Bathil menurut kamus adalah seuatu yang tiada, tidak memiliki wujud dan bisa pula berupa sesuatu yang ada namun tidak memiliki manfaat.

Keempat, Muka’ dan Tashdiyah, seperti firman Allah : “Dan sholat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab yang disebabkan kekafiran itu.” (Al-Anfal: 35).

Kelima, Ruqyatuz Zina ( mantera zina ), menurut  Ibnu Abi Dunya berkata: Hasan bin Abdurrahman memberitahukan kepadaku bahwa Fudhail bin Iyadh pernah berkata: “Nyanyian adalah manteranya zina.”

Keenam, Munbitun Nifaq ( Penumbuh Kemunafikan ). Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda: “Nyanyian itu dapat menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air dapat menumbuhkan sayuran.”

Ketujuh, Qur’anus Syaithan ( Bacaan Setan ). Ibnu Abi Dunya dalam kitab Makayidusy Syaithan wa Hiyalihi  berkata: Abu Bakar Tamimi menceritakan kepada kami dari Ibnu Maryam dari Yahya bin Ayub dari Ibnu Zahr dari Ali bin Yazid dan Qosim dari Abu Umamah bahwa Rasulullah bersabda:  “Sesungguhnya Iblis setelah diturunkan ke bumi, berkata: “Rabbi, Engkau telah menurunkanku ke bumi dan menjadikanku terkutuk. Maka buatkan rumah untukku!” Allah menjawab, “Kamar mandi !” Ia meminta lagi: “Buatkan Majlis untukku !” Allah menjawab: “Majlismu  adalah pasar dan persimpangan jalan.” Ia meminta lagi: “Jadikan makanan untukku !” Allah menjawab : “Makananmu adalah setiap makanan yang tidak disebutkan nama Allah atasnya.” Ia meminta lagi: “Jadikanlah minuman buatku !” Allah menjawab: “ Minumanmu adalah setiap yang memabukkan !” Ia memohon : “Jadikanlah Muadzin buatku !” Allah menjawab: “ Seruling !” Ia memohon lagi: “Jadikanlah bacaan buatku !” Allah menjawab: “Syair.” Ia memohon lagi: “Jadikan tulisan untukku !” Allah menjawab : “Tulisanmu adalah tato.” Ia memohon lagi: Jadikanlah pembicaraan buatku !” Allah menjawab: “Kedustaan.” Ia memohon lagi: “Jadikan untukku utusan-utusan !” Allah menjawab: “Utusan-utusanmu adalah para dukun !” Dan sekali lagi ia memohon: “Jadikan buatku perangkap-perangkap !” Allah menjawab: “Perangkap-perangkap mu adalah kaum wanita.”

Tipu daya Setan memiliki berbagai bentuk antara lain 1) Dalam Aqidah dan Keagamaan. 2)Terhadap Ulama dalam berbagai disiplin Ilmu. 3) Terhadap Ahli Ibadah. 4) Terhadap Orang-orang Zuhud Ahli Ibadah. 5) Terhadap Kaum Sufi. 6) Terhadap Orang Awam. 7) Terhadap Seluruh Manusia.( bias dilihat dalam kitab Ighotsatul Lahfan karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyah atau Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi).

Peprangan melawan Setan disebut peperangan Muraghamah  (menjengkelkan lawan). Rasulullah SAW., mensyariatkan dua sujud bagi orang yang sholat ketika lupa dalam sholatnya. “Jika salah seorang dari kalian ragu dalam sholatnya dan ia tidak tahu berapa rakaat sholat yang sudah dikerjakannya: tiga ataukah empat, maka hendaklah ia membuang keraguannya dan membangun di atas keyakinannya. Kemudian ia bersujud dua kali sebelum salam. Jika ia sholat lima rakaat, maka telah genaplah sholatnya, dan apabila ia sholat untuk menyempurnakan empat rakaat, maka dua sujud itu Untuk Membuat Marah Setan. (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri) (Shahih Fiqih Sunnah, jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Jakarta, Pustaka At-Tazkiya, 2006, hal. 138)

Jadi, senjata untuk melawan setan adalah Hati Yang Sehat / Qolbun Salim.

Gerakan Menjengkelkan Rezim

Peparangan melawan musuh-musuh Allah berikutnya adalah peperangan melawan orang-orang Kafir. Aksi jihadnya dinamakan Ubudiyatul Muroghomah, seperti pernyataan Ibnul Qayyim, “tidak ada yang menyadarinya kecuali orang-orang yang memiliki mata hati yang sempurna. Tidak ada yang lebih dicintai Allah daripada Muroghomah  wali-Nya terhadap musuh-Nya, dan upaya untuk menimbulkan kebencian pada musuh-Nya.” (Madarijus Salikin, jilid 2, hal. 226).

Allah menyatakan dalam firmannya, “yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, ddan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal sholeh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (At-Taubah: 120). “Dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya: tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang Kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).” (al-Fath: 29)

Sebuah Rezim mesti tidak selamanya dipimpin oleh orang-orang Kafir, bisa dilihat dari 3 unsur pendukungnya, antara lain: Pertama, Fenomena yang menyangkut tentang Masyarakat. Saat ini di belahan dunia manapun kondisi masyarakat tengah dilanda Degradasi, termasuk umat Islam. Mereka sedang mengalami penurunan semangat beribadah, merosotnya kepercayaan kepada Sang pemimpin, bahkan lembaga yang mengatasnamakan rakyat.

Dampak degradasi bagi umat Islam antara lain beribadah tanpa jiwa  sehingga terperosok ke dalam jurang Al-Maghdhuubi ‘Alaihim dan sering beramal tanpa aturan sehingga terpenjara dalam predikat Adhdhoolliin.

Degradasi itu, tengah dimanfaatkan  oleh musuh-musuh Islam dalam bentuknya yang permanen sejeka Perang Pemikiran, Perang Budaya sampai Perang Melawan Terorisme. Mereka menghancurkan Islam dan umatnya dengan filosofi membongkar sebuah rumah dengan mempreteli satu persatu. Program yang paling nyata dalam bentuk : Film, Food, Fashion, Fun, found. atau song, sex, sport, dan masih banyak istilah propaganda lainnya.

Kedua,  fenomena yang berhubungan dengan Pemimpin. Fenomena ini kita petik dari sebuah potret Isa as., dalam Al-Qur’an. Allah menyebutkan sebagai fenomena ahassa Minhum atau kepekaan. Tidak sedikit kita saksikan para pemimpin kita memiliki Kepekaan Negatif,  di mana seseorang sulit untuk dinasehati, ditegur bahkan disindirpun mudah tersinggung.

Padahal seharusnya pemimpin yang menghayati perjuangannya, dia akan sensitive dan peka terhadap isyarat dini yang akan mengancam keutuhan masyarakat dan kedaulatan bangsanya. Allah menegurnya dalam surat Ali-Imran: 52: “Maka tatkala Ia mengetahui keingkaran dari mereka (Bani Israil) berkatalah dia, “Siapakah yang akan menjadi penolongku (untuk menegakkan agama) Allah ?”  Para Sahabat-sahabat setia menjawab, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami orang-orang yang menyerahkan diri.”

Akibat kepekaan negative tersebut maka muncullah Rezim yang Mati Rasa, yang tidak pernah memikirkan rakyat yang ketika diberi uang gusuran itu akan menjadi miskin kembali dan mengontrak di bekas tanahnya sendiri.  Inilah khas orang-orang munafik, fenomena sikap khas pencuri yang merasa was-was atas perbuatannya. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh yang sebenarnya, maka waspadalah terhadap mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran. (Al-Munafiqun: 4)

Ketiga, Fenomena Yang Berhubungan Dengan Benalu Di Tubuh Masyarakat / Umat. Dalam sejarah kenabian Muhammad saw., pernah tampil sosok manusia yang bernama Abdullah bin Ubay, seorang kolaborator yahudi dan Musyrikin Quraisy.

Dia tidak pernah dikeluarkan dari status orang Islam. Di akerap lepasd dari jerat hokum, penampilannya meyakinkan, diapun selalu berkata dengan multi makna dan berdiplomasi yang sukar ditandingi.

Apa makna kehadirannya bagi kita? Bukankah dalam kehidupan berbangsa kita sering melihat mereka yang tangannya berlumuran darah umat, perut mereka penuh dengan uang hasil kemiskinan bangsa. Sedangkan otak mereka penuh jelaga korupsi, kolusi, nepotisme dan bapakisme.
Itulah Ibnu Ubay, prototype seorang yang tidak bisa memandang kebenaran kecuali bila keluar dari dirinya. Prototype seorang yang tidak bisa menerima kehormatan kecuali bila jatuh ke atas dirinya.

Dahulu, Yudas Eskariot adalah benalu dalam dakwah nabi Isa as., Dahulu sepuluh saudara nabi Yusuf as., adalah benalu dalam keluarga nabi Ya’kub as. Bukankah mereka sama baik dalam sejarah dan darahnya ?

Ada satu Musa dan satu Isa untuk satu Fir’aun, satu Samiri dan Satu Yudas.

Hari ini , ratusan Yudas, Ratusan Samiri, bahkan Ratusan Fir’aun berkeliaran menjual asset bangsa yang dilindungi konstitusi, yang bekerja sama dengan “Penadah” dan “Penjarah Asing”.

Pantas , jika Allah memerintahkan agar kita bersikap keras dan tidak kompromi, “Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan Munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalag neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. “ (At-Tahrim: 10 )

Gerakan menjengkelkan Rezim berarti hanya tinggal memilih untuk membentengi kita, keluarga, masyarakat, bahkan Negara dari tiga fenomena di atas, sesuai dengan kemampuan kita.


Wallahu’Alam.





Galery Foto Tarhib Ramadhan LPPDI Thoriquna (CFD Jakarta 20/05/2017)

by 04.57

Pembina Thoriquna: Islamophobia Adalah Makar Orang Kafir

by 19.48



JAKARTA- Pembina LPPDI Thoriquna Ustad Haris Amir Falah menyatakan dengan tegas maraknya pencitraan buruk terhadap Islam dan syariatnya adalah bagian dari makarnya orang-orang kafir.

"Kalau dilihat dari surat al Fath ayat 6 sifatnya orang munafiq dan orang-orang musyrik mereka yang selalu berburuk sangka kepada Allah, menganggap konsep Allah itu jelek, menganggap Khilafah itu seram, jihad menakutkan, dan sikap ini mereka sebarkan dan banyak juga orang yang termakan isu-isu buruk ini, sehingga munculah kelompok yang kita lihat sekarang Islamophobia itu," Terang ustad Haris, Ahad (21/5/2017)

Lebih lanjut ustad Haris menyatakan adanya kriminalisasi ulama, syariat juga dianggap kriminal sehingga harus diperkarakan, itu bagian opini buruk dari orang-orang kafir yang bertujuan membuat takut orang dengan ajaran Islam.

"Jadi Islamophobia ini harus dilawan gak boleh dibiarkan, kalau dia begitu masif dengan media kita lawan dengan media, kita lakukan perlawanan setimpal dengan apa yang mereka lakukan," Pungkasnya.

rep.Irfan yusuf

Tarhib Ramadhan LPPDI Thoriquna, Stop Demoralisasi Ulama

by 19.25

JAKARTA- Menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan, ratusan masa yang mengatas namakan LPPDI Thoriquna menggelar Tarhib Ramadhan di area Car Free Day, Ahad (21/6/2017).

Dengan mengusung tema "Stop Demoralisasi Ulama" ketua LPPDI Thoriquna berharap jangan ada lagi stigma buruk dan fitnah keji terhadap para ulama.



"Musuh-musuh Islam akhir-akhir ini selalu mendiskreditkan syariat Islam, terutama para pembawanya yaitu para ulama dan sekarang musuh-musuh Islam menggambarkan bahwa para ulama ini adalah radikal, pemecah belah, kasar, serta arogan sehingga, mereka melakukan demoralisasi terhadap ulama, baik itu ulama-ulama yang ada dinegeri ini ataupun ulama-ulama yang ada serta diakui secara Internasional," kata ustad Muntaha Bulqini ketika ditemui disela aksi.

Lebih lanjut Muntaha juga meminta kepada pemerintah menjauhi sikap islamophobia, jangan menganggap Islam itu buruk, terutama juga kepada Ulama, karena Indonesia dimerdekakan berkat perjuangan para ulama dan para santri serta para mujahid pada masa itu.

"Kita berharap pemerintah bisa menghormati para ulama, karena para ulama inilah tokoh pemersatu bangsa, ulama adalah pemersatu umat, ulama bukan tokoh pemecah belah," pungkasnya.

rep. Irfan Yusuf

SALAH PAHAM TENTANG ISLAM DAN MIMPI KAUM BERIMAN

by 02.26



Thoriquna.id - Gaung dakwah terasa semakin kuat. Aroma kebangkitan Islam terasa semakin dekat. Kaum muslimin saat ini semakin dekat kepada Al Quran dan Sunnah. Ummat saat ini semakin sadar bahwa Al Quran adalah bekal paling penting didalam keIslaman seseorang. Quran lah sebagai pedoman hidup (manhajul hayah) bukan hanya sebagai bahan bacaan biasa namun juga harus diamalkan dalam setiap sendi kehidupan. Bertaburanlah pada saat ini kajian-kajian yang membahas Quran dan Sunnah. Ribuan santri sibuk menghafalkan ayat-ayatnya.

Tetapi, pertarungan Haq dan Bathil tidak akan pernah berhenti hingga kemenangan ada pada salah satunya. Dihembuskanlah berbagai macam keraguan tentang agungnya syariat ini. Betapa tidak? Islam digambarkan sebagai agama yang intoleran, pemecah belah, kasar dan arogan. Penghinaan terhadap syariat pun dilakukan secara bertubi-tubi. Mereka menyerang sendi2 syariat dan para penyebarnya yaitu para ulama. Padahal jelas ulama adalah pewaris para nabi. Salah paham tentang Islam terus mereka sebarkan melalui media2 yang mereka miliki. Hingga muncullah orang2 munafik yang menjadi pembela musuh2 Islam.

Mereka hendak padamkan cahaya Allah, namun Allah memiliki makar lain. Allah gerakan hati2 org yg beriman utk bersatu mengguncang pongahnya kekufuran. Teruslah bersatu kaum muslimin dengan pertolongan Allah maka musuh2 kita akan Allah gentarkan hati2 mereka.

Pada hakikatnya setiap orang beriman memiliki impian bersatu dibawah panji kalimat tauhid. Iman jualah yang menyatukan dan memisahkan. Mimpi berada dalam kesatuan khilafah ala minhajin nubuwah adalah refleksi dari persatuan itu. Bahkan rasulullah mengabarkan akan kembalinya kejayaan khilafah ala minhajin nubuwah akhir zaman kelak.

Salah paham terhadap syariat dan stigma negatif terhadap Islam harus dilawan. Kriminalisasi terhadap syariat dan ulama adalah bentuk permusuhan mereka kepada Islam dan kaum muslimin. Mereka lakukan demoralisasi terhadap para ulama. Mereka tuduh ulama adalah pemecah belah dan kaum radikal. Mereka katakan mimpi kaum muslimin utk bersatu dalam keimanan sebagai makar dan kriminal. Tidak ada batas negara dan kesukuan dalam Islam semua bersatu dalam aqidah yang sama.

Lawan adalah satu kata terhadap seluruh kedzoliman ini....dakwah agar terbantah seluruh syubhat kafirin dan jihad sebagai pembelaan terhadap penghinaan kpd quran, sunnah dan para ulama

Kami LPPDI Thoriquna mengajak seluruh kaum muslimin untuk menjadikan romadhon kali ini sebagai sarana membina iman dan takwa. Jadikan romadhon sebagai bulan kembali kepada Quran dan mengambil hikmah perang badar yang juga terjadi dibulan romadhon. Romadhon adalah bulan jihad...

Allahu akbar...allahu akbar...allahu akbar


LPPDI Thoriquna

Jakarta, 20 Mei 2017


RAMADHAN: KEWASPADAAN SEORANG MUSLIM

by 05.15



THORIQUNA.ID - Ramadhan saat ini berada di era di mana seluruh sistem Jahiliyah ddan kaki tangannya telah mengalami kebangkrutan. Coba kita eja kembali: Di mana  Globalisme yang selama ini diidam-idamkan seluruh umat manusia ? Ke mana Demokratisme yang selalu diperjuangkan sampai titik darah penghabisan itu ? Bagaimana nasib Nasionalisme, Liberalisme dan Kapitalisme yang selama ini menjadi impian manusia ?

            Shaum yang kita perjuangkan di bulan Ramadhan ini seolah memberi jawaban bahwa Globalisme, Demokratisme, Nasionalisme, Liberalisme, Kapitalisme dan isme-isme lainnya yang melaju cepat ternyata tidak memberikan “secuil” maknapun dalam kehidupan.

            Semua umat manusia menduga sistem jahiliyah tersebut akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa di balik itu ada gejala yang dinamakan The Agony of Globalization, Demoratization, Nationalization, Liberalization and Capitalization,  Azab dan sengsara karena Globalisasi, Demokratisasi, Nasionalisasi, Libaralisasi dan Kapitalisasi.  Seperti semakin tidak terkontrolnya kriminalitas, perzinahan, perjudian, perkorupsian, penarkobaan, perprostitusian, bunuh diri, gangguan jiwa, kenakalan remaja, berbagai kekerasan lingkungan hidup dan tata nilai kehidupan.

            Adakah jalan keluar untuk lari dan menyelamatkan diri dari fitnah akhir zaman tersebut ? Tidak ada jalan keluar, tidak ada petunjuk penyelesaian melainkan diujungnya kesesatan yang menambah kebinasaan. Kecuali petunjuk dan jalan keluar yang ditawarkan oleh Dienul Islam, yaitu Taqwa  kepada Allah sebagaimana dijanjikan Allah dalam surat Ath-Tholaq: 2,4. Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dari setiap kesulitan.” “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mengadakan baginya kemudahan dalam setiap urusan.”


Taqwa = Waspada

            Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, taqwa pada dasarnya menjaga diri dari hal-hal yang dibenci, karena taqwa berasal dari kata al-Wiqoyah (penjagaan). ( Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri,ShahihTafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah:2, Jakarta, Pustaka Ibnu Katsir, I, hal 118). Sedangkan Sayyid Quthub menyatakan bahwa salah satu pengertian Taqwa adalah Hadzirun Daimun (kewaspadaan yang senantiasa ). ( Sayyid Quthub, Fi Zhilalil Qur’an, QS. Al-Baqarah:2, Jakarta, GIP, 2000,I, hal. 46.

            Sayyid Quthub pernah mengutip sebuah dialog antara Umar bin Khaththab radhiyallohu’anhu dengan Ubay bin Ka’ab ra. Umar bertanya kepada Ubay tentang taqwa. Lalu Ubay menjawab seraya bertanya kepada Umar, “Apakah engkau pernah melewati jalan yang berduri?” Umar menjawab, “Ya.” Ubay bertanya lagi, “Apa yang engkau lakukan ?” Umar menjawab, “Aku berhati-hati dan berupaya menghindarinya.” Lalu Ubay berkata, “Itulah taqwa.”

            Itulah taqwa, sensivitas dalam hati, kepekaan dalam perasaan, responsive, selalu takut, senantiasa berhati-hati dan selalu menjaga diri dari duri-duri  jalan. Jalan kehidupan yang penuh duri-duri kesenangan dan syahwat, duri-duri keinginan dan ambisi, duri-duri kekhawatiran dan ketakutan, duri-duri harapan palsu terhadap orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi harapan, duri-duri ketakutan palsu kepada orang yang tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan manfaat dan madharat, dan berpuluh-puluh macam duri lainnya.

            Taqwa adalah barometer keimanan seorang muslim. Dengan taqwa mata hati akan terbuka untuk melihat dan menerima kebenaran serta menolak dan menjauhi kemungkaran. Sebagaimana firman Allah, “ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan pembeda (antara al-Haq dengan al-bathil) bagimu.” (Al-Anfal: 29)

            Ibnu katsir  berkata pada ayat ini, “Karena barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya niscaya dia diberi taufiq (bimbingan) untuk mengetahui yang haq dari yang bathil.”

            Namun sayang, tidak semua orang yang megaku Islam … itu beriman, sebagaimana tidak semua orang beriman … itu bertaqwa. Kata taqwa atau “takut kepada Allah” tidak lagi menjadi rasa, tetapi hanya sekedar menjadi bahasa. Sebagian besar umat manusia, termasuk umat Islam dewasa ini sudah kehilangan rasa takut kepada Allah, kepada ancaman-ancaman yang dahsyat bagi orang-orang yang maksiat, kepada kemungkinan-kemungkinan bahwa diri   kita terjerembab dalam azab dunia lebih-lebih siksa kubur dan azab akhirat. Namun, justru sebaliknya sebagian di antara kita cenderung takut pada orang-orang yang dikeramatkan, jin, syetan dan lainnya.

            Perhatikan bagaimana teguran Allah dalam surah An-Nur ayat 63, “maka hendaklah orang-orang yang menyelahi rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

            Ibnu Katsir berkata pada tafsir ini, “hendaklah orang-orang yang menyalahi syariat Rasul, baik secara zhahir (nampak) maupun bathin (dengan hati) merasa takut dan khawatir. Pertama, An Tushiibahum Fitnatun, akan mendapatkan cobaan berupa fitnah yang terangsang di dalam hati yakni kekufuran, kemunafikan dan bid’ah. Kedua, Au Yushiibahum ‘Adzabun Alim,  atau ditimpa azab yang pedih yang berlaku di dunia seperti sanksi hukum mati, dihukum dengan had dan dipenjara. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir, VI, hal.457) 


Mengapa Harus Waspada

            Jika memperhatikan dialog antara Umar bin Khaththab dan Ubay bin Ka’ab, maka shaum di bulan Ramadhan ini perlu disikapi secara waspada, namun tetap wajar.

            Waspada, karena kita berada pada puncaknya masa Jahiliyah modern yang penuh duri-duri jalan. Sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw., sebagai zaman yang penuh keguncangan hati, kemurtadan dan dijadikannya Dajjal sebagai solusi dan harapan banyak manusia. Wajar, karena tidak sedikit dari umat Islam yang lemah pemahamannya justru menjadi salah dalam menyongsong datangnya bulan Ramadhan, keliru dalam melaksanakan ajaran shaum dan salah dalam mengambil hikmah Ramadhan.

            Waspada, lantaran semangat Ramadhan kita tengah “bertarung” dengan spirit Sekularisme yang menentang “campur tangan” Dien Allah dalam aspek kehidupan.

            Waspada, sebab shaum Ramadhan ini berada di era teknologi informasi dan telekomunikasi. Di mana setiap orang merasa punya hak untuk “berfatwa” melalui jejaring media sosial. Era ini telah melahirkan generasi dan anak keturunan yang semakin liar dalam berbicara urusan umat sehingga umat menjadi bingung. Sebagaimana yang pernah digambarkan Rasulullah saw., “Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun tipu daya, di mana pendusta dibenarkan, sedangkan orang jujur didustakan. Pengkhianat dipercaya sedangkan orang amanat dianggap pengkhianat, di mana itu Ruwaibidhoh berbicara.” Beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidhoh  itu?” Beliau bersabda, “Orang bodoh berbicara tentang persoalamn yang banyak.” ( HR. Ahmad )

            Waspada, karena shaum Ramadhan kita berada di saat umat Islam jauh dari ajarannya, di saat umat Islam justru menjadi pembela musuh-musuh Allah, di saat mereka menggunakan ideology dan paham-paham kufur yang bertentangan dengan syariat Islam.

            Waspada, ketika kita berada di mana Allah telah mencabut rasa takut musuh-musuh Allah. Sebagaimana Rasulullah saw., gambarkan, “ Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian seperti orang-orang makan yang memperebutkan hidangannya. Maka ada seseorang bertanya, “apakah karena sedikitnya kami pada hari itu ?” Beliau menjawab, “justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut pada kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit Wahn,” Seseorang bertanya, “  Apakah Wahn itu wahai Rasulullah saw.?” Beiau bersabda, “ Cinta dunia dan takut mati.” ( HR. Ahmad)

Mewaspadai 3 akar

            Allah berfirman dalam surah An-Nahl ayat 35, “ Dan orang-orang musyrik berkata, “ Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu ajaran apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa izin-Nya.”

            Ayat-ayat yang mulia ini menyebutkan tiga akar kesyirikan yang Islam datang untuk mencabutnya sampai tuntas sehingga seluruh ketundukan dan ketaatan manusia tertuju kepada Allah semata. (Abu Ammar, menjadi ahli tauhid di akhir zaman, solo, Granada mediatama, 2012)  Ketiga akar kesyirikan  tersebut  adalah; 1) tidak beriman kepada keesaan Allah semata, 2) menujukan ibadah kepada selain Allah, dan 3)menghalalkan serta mengharamkan tanpa izin Allah.

            Tiga akar pokok kesyirikan ini berhadapan dengan tiga akar pokok iman: keimanan yang kokoh terhadap kekuasaan Allah, menujukan seluruh bentuk ibadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan meminta putusan perkara kepada syariat Allah semata bukan kepada hukum dan undang-0undang lainnya. Dengan kata lain, perkara akidah, perkara ibadah, dan perkara hukum tau perundang-undangan. Inilah tida konsekuensi pokok Laa Ilaaha Illallah, yang pelanggaran terhadap salah satunya menyebabkan batalnya Laa Ilaaha Illallah  yaitu membatalkan keislaman.




------------- Wallhohu ‘Alam --------






Diberdayakan oleh Blogger.