Yerusalem, America First dan menuju seruan jihad Internasional.

by 00.20



Thoriquna.id - Yerusalem adalah kota suci tiga agama Islam, Nasrani dan Yahudi. Di era Umar bin Khattab membebaskan kota ini maka penganut Nasrani dan Yahudi diberikan kebebasan untuk beribadah dan membangun kota bersama. Begitu pula ketika dibebaskan kembali oleh Sholahuddin al Ayyubi. Kini dalam kurun 70 tahun terakhir kota ini menjadi pusat konflik Palestina dan Israel.

Siapa tidak terkejut dengan kemenangan Trump dalam pilpres melawan Hillary. Dengan kampanye rasisnya dan jargon America first membuat dukungan pemilih Yahudi beralih padanya. Apa yang dilakukan oleh Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel adalah bukti janji-janji kampanyenya kepada konstituen Yahudi. Sebenarnya ini bukan hal baru, pada 23 Oktober 1995 kongres Amerika telah meluluskan "Jerusalem Embassy Act" sebuah proposal untuk pendanaan pemindahan Kedubes ke kota Yerusalem. Hanya saja kebijakan itu selalu ditunda karena kekhawatiran respon negatif terhadap Amerika. Namun kini Trump mengambil kebijakan berbeda dari para pendahulunya. Berani atau ini awal dari arogansi babak baru Amerika kepada dunia?

Tidak mungkin melawan penjajahan dengan tulisan dan lisan (DR. Yusuf Al Qardawi). Kita sudah berulang kali melihat bagaimana Israel dengan segala macam terornya kepada bangsa palestina. Ribuan orang ditangkap dan dipenjarakan. Berulang kali pula upaya melalui perundingan selalu menemui jalan buntu bila tidak diveto oleh amerika di PBB. Tidak ada kata lain la izzata illa bil jihad, tidak ada kemuliaan kecuali dengan jihad. Pengakuan Yerusalem atau Al Quds sebagai ibukota Israel oleh Amerika adalah babak baru bagi ummat ini untuk kembali menjadikan jihad sebagai penjaga kehormatan ummat Islam.

Ingatlah dulu ketika benteng Yahudi dikalahkan dan senandungnya terdengar oleh kita sekarang "khaibar...khaibar ya yahud...jisyu muhammad saufa ya'uds".

Ingatlah wahai para Yahudi dan bala tentaranya, sungguh waktu kalian hanyalah tinggal sedikit lagi. Masa kebangkitan kami semakin dekat.

Bersiaplah wahai bala tentara Muhammad, masa kebangkitan kedua akan segera tiba yang tidak akan ada lagi masa keemasan setelahnya.

Bersiaplah ummat Muhammad, bila tanda-tanda akhir zaman telah muncul artinya al malhamah kubro akan segera kita sambut. Sungguh tidak akan terjadi kiamat sebelum Islam akan mengalahkan mereka. Bumi Syam adalah negeri akhir zaman. Tempat hancurnya peradaban Yahudi dan para pendukungnya. Bersiaplah bila masanya tiba jihad memanggil kita...



Lppdi Thoriquna


PROPAGANDA PERANG AHZAB

by 02.32





         THORIQUNA.ID -  Seorang panglima yang brilian adalah dia yang bisa menggunakan taktik atau senjata baru dalam peperangan. Khandaq / parit merupakan taktik atau senjata baru kedua yang digunakan Rasulullah saw  untuk berperang setelah taktik “barisan berlapis” dalam perang Badar. Ide penggalian parit / khandaq itu berasal dari Salman Al-Farisi, dialah penakluk Ahzab pertama sehingga Rasulullah  memberikan pujian pada Salman, “Salman adalah dari kami, golongan ahli bait,” untuk memotivasi lahirnya ide-ide yang bermanfaat, memuji mereka yang beramal bagi kemajuan umat dan mengikis fanatisme golongan.

          Penakluk Ahzab kedua yaitu Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw, yang berhasil membunuh intelijen Yahudi dengan sepotong tiang kayu. Ketika si Yahudi mengitari  rumah-rumah penampungan kaum wanita dan anak-anak. Kejadian itu membuat komunitas Yahudi berpikir bahwa Madinah memiliki penjaga-penjaga yang gagah berani dan sulit untuk ditembus. Setelah itu, umat Islam lepas dari ancaman bahaya yang hendak menimpa mereka.

          Perang Ahzab termasuk perang urat syaraf yang lebih banyak mengandalkan propaganda. Untuk masalah ini Allah telah mempersiapkan seorang penakluk Ahzab dari kabilah Ghathafan, Nu’aim bin Mas’ud. Dia menemui nabi untuk memberitahu perihal keislamannya yang tidak diketahui oleh kaumnya. Setelah mendengar pengakuan Nu’aim, Rasulullah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau hanya seorang diri, untuk itu cerai beraikan kesatuan mereka semampu kalian untuk membantu kami, karena perang adalah tipu daya.”

          Penakluk Ahzab keempat yaitu sosok intelijen muslim yang selalu dipercaya Rasulullah, Hudzaifah bin Al-Yaman. Rasulullah bersabda, “Siapa di antara kalian yang berani menjadi mata-mata untuk melaporkan musuh, niscaya ia selalu bersamaku di hari kiamat nanti?” Tidak ada seorangpun dari kami yang bersedia menyanggupi tawaran Rasulullah. Beliau kembali mengulangi sabdanya sampai tiga kali. Namun tidak ada yang sanggup melakukannya kemudian Rasulullah bersabda, “ Wahai Hudzaifah berdirilah kamu! Berangkatlah untuk memata-matai musuh.” (HR. Muslim)


Perang Dramatis

          Itulah para penakluk Ahzab yang telah dipilih Allah untuk membela Allah dan Rasul-Nya, menegakkan Dienul Islam. Mereka adalah umat pilihan yang sedang diuji keimanannya melalui serangkaian peperangan. Mahmud Syeit Khaththab dalam Rasulullah Sang Panglima, mengisahkan bahwa Rasulullah memimpin 3000  umat Islam untuk melawan 10.000 tentara Ahzab di bawah komando Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah yang terdiri dari 4000 tentara musyrikin Quraisy dan 6000 tentara aliansi dari Bani Sulaim, Asad, Fizarah, Asyja’, dan Ghathafan.

          Sebuah peperangan yang sangat dramatis, awal dan akhirnya berisi hal-hal yang sangat sulit dan dahsyat, sehingga Allah perlu memberikan catatan khusus dalam firmannya yaitu surat Al-Ahzab. “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Al-Ahzab: 10-11)

          Bagaimana tidak dramatis ? Umat Islam hanya tiga ribu dikepung oleh sepuluh ribu pasukan sekutu selama satu bulan. Ditambah dengan cuaca dingin dan badai topan yang sebenarnya Allah kirimkan untuk membantu umat Muhammad saw. Situasi  sulit itu akhirnya membelah umat dalam 2 golongan: Mukmin dan Munafiq. Mu’attib bin Qusyair  melontarkan kemunafikannya, “Muhammad telah menjanjikan bahwa kita akan menikmati gudang-gudang kekayaan Kisra dan kaisar Heraklius. Sementara (di saat sekarang ini) untuk buang air besar saja tidak ada satupun dari kita yang berani pergi melakukannya.” (Shoheh Tafsir Ibnu Katsir, Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Juz 21, 241).

          Sedangkan cobaan, kesukaran dan kesulitan, bagi orang-orang mukmin, semakin menambahkan keimanan mereka. Buktinya Allah memuji para penakluk Ahzab dengan dua hal: Mati syahid  atau menunggu datangnya syahid. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati janji apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah ( janjinya).” (Al-Ahzab: 23)


Ahzab Modern

          Pasukan Ahzab modern yang dipimpin Amerika sudah hampir satu abad mengepung umat Islam di seluruh dunia jika dihitung sejak runtuhnya kekhalifahan Turki pada 1924 sampai saat ini (1924-2015 = 91 tahun ). Dramatis ! 1 bulan berbanding 91 tahun. Sementara strategi koalisi Ahzab, dahulu dan sekarang tidak pernah berubah. Abu Mush’ab As-Suri menyebutnya dengan “koalisi dalang” Salibis-Yahudi yang terdiri dari Amerika – Israel atau dahulu Quraisy-Yahudi. Ditambah dengan “koalisi wayang” yang beranggotakan para penguasa bonek seperti Negara-negara Islam Timur Tengah, Asia, Afrika yang dahulu masa Rasulullah diduduki posisi kabilah-kabilah atau suku-suku di sekitar Madinah.

          Dalam rangka menghancurkan pasukan Ahzab, Rasulullah membuat skala prioritas musuh. Pertama, pasukan Quraisy-Yahudi seperti Bani Sulaim, Asad, Fizarah, dan Asyja’. Untuk menggempur mereka  Rasulullah membuat parit / khandaq sebagai taktik peperangan. Kedua, pasukan Yahudi bani Quraizhah yang cukup diserang dengan menggunakan peperangan opini / urat syaraf melalui sang propagandis, Nu’aim bin Mas’ud.

Sedangkan untuk menyerang pasukan Ahzab modern, mujahidin menyerukan perlawanan jihad global dengan membuat empat rangking prioritas musuh (Mush’ab As-Suri, Visi Politik Gerakan Jihad, 2010). Pertama, Yahudi, Nasrani Barat, Nasrani Timur. Kedua, Penguasa Kafir/ sekular, pembantu penguasa, ulama jahat, pasukan penjaga konstitusi Kafir. Ketiga, lembaga yang berafiliasi dengan penguasa, kelompok  cendikiawan (kaum Liberal), kelompok  fasik yang menyebarkan kekejian di masyarakat dengan berlindung di balik seni. Keempat, Ormas yang manhajnya menyimpang, Parpol nasionalis. Sebagai tambahan, prioritas Ahzab modern untuk wilayah Indonesia bisa dilihat dari dukungan setiap musuh Islam terhadap rezim kafir di negeri ini. Misalnya koalisi yang berada dalam deretan gerbang pendukung Jokowi antara lain pengusaha tertentu, kekuatan asing dan kelompok garis keras AS (hawkish), jendral-jendral, kelompok Syiah dan konglomerat hitam. (Bambang Soesatyo, Republik Komedi ½ Presiden, 2015)


Giliran Kita

          Perang Ahzab / Khandaq merupakan peperangan sengit kedua yang sangat menentukan nasib umat Islam setelah perang Badar Kubra. Andaikata koalisi Musyrikin Quraisy-Yahudi menang, niscaya lembaran sejarah Islam akan berubah. Bergabungnya pasukan Ahzab tersebut menjadi peluang emas yang tidak mungkin terulang kembali, terutama jika orang-orang Yahudi gagal memobilisasi pasukan Ahzab, apalagi gagal pula dalam memenangkan pertarungan dengan umat Islam. Artinya, di masa mendatang mereka tidak akan dapat bergabung kembali dan tidak akan mampu mengalahkan tentara Islam. Berkoalisi saja gagal mengalahkan umat Islam apalagi sendirin.

          Pelajaran penting lainnya adalah taktik Mubada’ah (memulai aksi lebih dahulu) di mana umat Islam  telah berpindah dari fase  defensive ke fase offensive.  Oleh karena itu Rasulullah mengatakan pada para sahabatnya setelah pasukan Ahzab mundur dari medan peperangan, “Sekarang , kita lah yang menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita.”  Setelah perang Khandaq inisiatif penyerangan berpindah dari kaum musyrikin kepada umat Islam. Bahkan umat Islam tidak pernah berhenti penyerang musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya hingga Islam menyebar ke seluruh Jazirah Arab. Itulah kebenaran Sang Sutradara tunggal, Allah subhanahu wata’ala. (QS. Al-Ahzab: 25 )

          Dalam masa pengepungan tentara Ahzab Modern, umat Islam telah melahirkan ash-Shahwah al-Islamiyyah  (gerakan kebangkitan Islam) dengan berbagai bentuk dan tujuan yakni mengembalikan Khilafah, pemerintahan Islam dan kebangkitan Islam. Rekam jejak gerakan itu menjadi catatan sejarah yang panjang, sejak eksperimen jihad Gerakan Pemuda Maroko 1963 sampai eksperimen jihad Al-Qaidah pada 11 September 2001 yang berhasil menghancurkan simbol ekonomi dajjal Amerika, WTC.

          Setelah tragedi WTC, para mujahidin ash-Shahwah al-Islamiyyah  seolah ingin mengatakan kepada dunia khususnya musuh-musuh Allah, “ Kini giliran kita yang mengepung pasukan Ahzab.”  Melalui strategi The Arab Springs, fir’aun Amerika sebagai komandan Ahzab Modern itu ‘bangkrut”, negaranya dibuat miskin oleh Allah. Bahkan negara-negara boneka fir’aun modern yang nota bene negara Islam pun satu demi satu hancur: Irak, Libya, Mesir, Sudan, Pakistan, Syuriah, Yaman dan tinggal menunggu Saudi Arabia.

          Kini, para Ahzab Modern tengah menghadapi mimpi buruk sebagai bentuk ketakutan mereka akan datangnya hari-hari gelap bagi mereka. Salah satu alasannya,  hampir semua negara di dunia di mana umat Islam berada sedang bergejolak untuk melawan dan menghancurkan hegemoni pasukan Ahzab.


          Wallahu ‘Alam.


  • Ust.Muntoha Bulqin

BERAWAL DARI BADAR, PERANG = SOLUSI

by 02.37



Ini adalah kafilah Quraisy yang membawa harta benda mereka, maka keluarlah menyongsongnya, semoga saja Allah menjadikannya harta rampasan bagi kalian.”  


Itulah tawaran Sang Panglima Perang, Rasulullah saw., dalam memecah “kebuntuan” ekonomi di Madinah. Meskipun jumlah umat Islam semakin bertambah, semakin kuat dan teguh aqidah Islamnya, tetapi perekonomiannya semakin lemah. Solusinya hanya satu: merebut harta benda dari kaum kafir Quraisy di Mekah.

          Ternyata kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan itu membawa harta yang melimpah milik penduduk Mekah, seribu ekor unta yang sarat dengan muatan bernilai kurang lebih 50.000 dinar emas. Ini momentum bagi tentara Islam untuk melancarkan pukulan telak terhadap perekonomian penduduk Mekah.

          Sebagai penanggung jawab kafilah Quraisy, Abu Sufyan bergerak ekstra hati-hati  dan penuh waspada sebab jalan menuju Mekah amat rawan. Apalagi terdengar kabar bahwa Muhammad saw., sudah memobilisasi pasukannya untuk mencegat kafilah dagang Quraisy. Segera dia menyewa Dhamdham bin Amir al-Ghifari untuk menyeru orang-orang Quraisy agar menyusul kafilahnya.

          Semua perangkat dan kondisi yang ada mendorong kedua pasukan ini ingin berperang walaupun keduanya enggan berperang. “… Sekiranya kamu mengadakan  persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), niscaya kamu berbeda pendapat dalam menentukan (hari pertempuran itu) tetapi Allah berkehendak melaksanakan satu urusan yang harus di laksanakan, yaitu agar orang-orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata, dan agar orang-orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata. Sungguh Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42) Di Badarlah kedua pasukan itu bertemu dan perangpun tidak terelakkan.

Aqidah Perang
          Perang Badar merupakan pertarungan sengit antara dua aqidah: Islam dan Kafir. Kekuatan tentara Islam sebanyak 313 orang laki-laki ( 82 dari kaum Muhajirin dan 170 kaum Anshar) berhadapan dengan pasukan Kafir Quraisy sekitar 1300 tentara bersamanya 100 kuda dan 600 perisai dan ratusan unta. Sebuah pertarungan yang tidak seimbang di setiap peperangan sepanjang sejarah.
          
Namun, persenjataan, organisasi ketentaraan, jumlah personal yang bagus tidaklah cukup untuk meraih kemenangan selama prajurit-prajuritnya tidak memiliki aqidah qitaliyah yang kuat dan  akhlaq juang  yang tinggi. Sebab, tentara manapun sekalipun ia Kafir, pasti memiliki aqidah qitaliyah (keyakin yang berhubungan dengan perang yang ia lakukan). Berakar dari aqidah qitaliyah  inilah tentara itu memerangi orang lain. (Syeikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz, Al-Umdah fi I’dadil ‘Uddah, Rambu-Rambu Jihad, 2009,11)

          Lihat respon ahli Badar, Al-Miqdad bin Amr, “Wahai Rasulullah, teruslah maju, kami selalu bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, “Pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” Akan tetapi, pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah. Sesungguhnya kami akan berperang bersama kamu berdua.” (Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, 2012, 302).  

Begitu kuat aqidah perang  para mujahid Badar, mereka berperang untuk mencurahkan satu tujuan yaitu menegakkan kebenaran bersama Allah dan Rasul-Nya. Mereka yakin bahwa mereka benar-benar di atas satu kebenaran, sedangkan musuh-musuhnya berada di atas kebathilan sehingga wajib untuk diperangi. Kemudian Rasulullah menegaskan kembali aqidah perang-nya, “Berjalanlah kalian dan bergembiralah. Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku (kemenangan atas ) salah satu dari dua kelompok ( kafilah dagang Abu Sufyan atau pasukan perang Abu Jahal). Demi Allah, seakan aku tengah menyaksikan kematian musuh.”

          Akibat amaliyah istisyhad para ahli Badar abad lima belas terhadap hancurnya WTC, maka pada 16 September 2001, Fir’aun Amerika George Walker Bush laknatullah ‘alaih mengumandangkan aqidah perang-nya, “This Crusade, This war on terrorism is going to take a long time.” Inilah perang Salib, perang melawan terorisme yang memakan waktu lama.  Dilanjutkan oleh Menlu Perancis, Juppe Allen pada 24 Maret 2011, “Kita akan membombardir kaum Muslimin di Arab Saudi dari Suriah sebagaimana Libya. Perang Salib di Libya harus menjadi contoh bagi Arab Saudi, Suriah dan Negara-negara Islam lain.”  Dan Libya pun pernah dibombardir oleh fir’aun Amerika Barack Obama dengan sandi operasi odyssey dawn.
          
Aqidah perang  ketiga Fir’aun tersebut, bukan tanpa kritik. Justru banyak menuai kritik tajam dari sesama kaum kafir. Paul B. Farrel pernah membuka kedok Fir’aun Amerika dalam tulisannya, America’s Outrageous War Economy, edisi 18/08/2008. “Ekonomi Amerika adalah ekonomi perang. Bukan ekonomi manufacturing, bukan ekonomi pertanian, bukan ekonomi jasa, bukan pula ekonomi konsumen. Mari kita jujur dan secara resmi menyebutnya “ekonomi perang” Amerika yang kasar. Akui saja, jauh di dalam hati kita, kita suka perang, kita menginginkan perang. Kita membutuhkan perang, menikmati dan tumbuh dari perang. Perang ada dalam benak kita. Perang merangsang benak ekonomi kita. Perang mendorong semangat kewirausahaan kita . kita memiliki masalah cinta dengan perang. Dan 54 % dari pajak orang Amerika bersedia diserahkan untuk mesin perang.” (jecahyono.wordpress.com/2011/02/08/ekonomi-perang-Amerika)

          Ada benarnya nasihat asysyahid kama nahsabuhu Syeikh Usamah bin Laden, “Sungguh musuh kita benar walaupun dia pendusta, ketika ia mengajarkan pada anak-anaknya, “Kamu berperang berarti kamu hidup.” Inilah hakikat yang diajarkan orang-orang kafir kepada anak-anak mereka dan mengirimkan kepada kita pemahaman sebaliknya. (Syeikh Usamah bin Laden, At-Taujihat Al-Manhajiyyah 3, Idha’at ala Thariqil Jihad). Sebuah keyakinan yang bersandar pada firman Allah bahwa Salibis-Zionis menyandarkan kebenaran aqidah perang  mereka pada bisikan-bisikan syetan, “Tidakkah kamu lihat bahwasanya Kami telah mengirim syetan-syetan itu kepada orang-orang kafir mengusung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh. (QS. Maryam: 83)

Perang = Solusi

          Badar pun menjadi saksi, ketika  dua pasukan harus mengawali pertempurannya dengan “duel” fisik. Ali bin Abi Thalib melawan al-Walid, Hamzah melawan Syaibah dan Ubaidah melawan Uthbah. Ali dan Hamzah memenangkan adu duelnya sedangkan Ubaidah dan uthbah mengalami luka parah. Kemudian Uthbah dibunuh oleh Ali dan Hamzah, sementara Ubaidah mengalami putus kakiknya dan menjemput syahid lima hari setelah peperangan. Sebagai bukti bahwa perang menjadi solusi bagi kedua pasukan, maka Ali bin Abi Thalib pernah bersumpah dengan nama Allah bahwa ayat berikut diturunkan berkaitan dengan pertempuran mereka, Inilah dua golongan (mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar karena Rabb mereka.” (QS.Al-Hajj: 19)
          
Sejalan dengan itu terjadi pula “duel” do’a antara dua komandan tertinggi:  Muhammad saw, dan Abu Jahal laknatullah alaih. Rasulullah saw berdo’a tatkala melihat pasukan Quraisy menyerang, “Ya Allah, ini orang-orang Quraisy telah menyongsong dengan kesombongan dan keangkuhannya, menentang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, kami hanya memohon pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, hancurkanlah mereka esok hari.” “Ya Allah, jika kelompok kecil ini sampai dibinasakan hari ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi di permukaan bumi.”
          
Abu Jahal pun mencari keputusan ( dari Allah), “Ya Allah, dialah ( Rasulullah saw) yang telah memutus rahim kami dan membawa sesuatu yang tidak kami ketahui. Karena itu, hancurkanlah dia esok hari. Ya Allah, siapa di antara kami (berdua) yang lebih Engkau cintai dan ridhai di sisi-Mu, maka berikanlah kemenangan baginya hari ini.”
          
Allah lebih memilih  aqidah yang benar dan pantas untuk tetap eksis di bumi ibtila’  ini, “Jika kamu (orang-orang Musyrik) mencari keputusan, maka telah datang kepadamu, dan jika kamu berhenti maka itulah yang lebih baik bagimu; niscaya Kami kembali pula. Dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak  dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal: 19)
         
 Akhirnya, munajat Rasulullah saw dijawab oleh Allah “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir .” Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 12,9)

Badar Modern
          
Bagaimana strategi menghadapi musuh Badar Modern yang tergabung dalam koalisi Yahudi-Salibis dunia yang diwakili oleh Amerika, Yahudi, Inggris dan negara-negara Kristen Barat? Abu Mush’ab As-Suri menilai strategi Al-Qaidah  tergolong brilian dan terbukti unggul. Umat Islam berbaris di belakangnya. Belum pernah ada jama’ah yang meraih prestasi gemilang sepanjang dinamika perjuangan menegakkan Islam di alam modern. (Visi Politik Gerakan Jihad, 45)
          
Itulah yang pernah dicontohkan Rasulullah saw dalam perang Badar. Beliau menjadi panglima tertinggi pasukan muslimin. Sedangkan pasukan musyrikin tidak mempunyai panglima tertinggi, sebagia besar mereka menonjolkan egoisme pribadi seperti Uthbah bin Rabi’ah dan Abu Jahal. Meskipun satu barisan dalam memerangi Islam tetapi keduanya justru berseberangan dalam  berpendapat dan tujuan.
          
Begitu pula koalisi musyrikin modern pasca “bangkrutnya” Amerika, mereka kehilangan kendali yang ada hanya ketakutan demi ketakutan seperti yang dilansir National Intelligence Council (NIC) Amerika dengan judul “Mapping The Global Future ( Memetakan Masa Depan Global )” dengan memasukkan  analisis badan-badan intelijen dari 15 negara. Laporan tersebut menjelaskan ada 4 skenario dunia pada 2020: pertama, naiknya Cina dan India ke pentas dunia. Kedua, Amerika tetap berperan dalam membentuk dan mengorganisasikan perubahan global. Ketiga, kembalinya kekhilafahan Islam. Keempat,  munculnya lingkaran ketakutan terhadap ancaman teroris. ( Kompas, 16 Februari 2005)

          Rasulullah saw menggunakan strategi baru yang belum pernah digunakan oleh kelompok manapun dalam sejarah peperangan di dunia Arab, yakni formasi barisan berlapis. Sementara pasukan Quraisy berperang dengan taktik menyerbu dan berlari  layaknya orang-orang tawuran. Ini salah satu faktor penting di antara faktor kemenangan lainnya. Syeit Khaththab menganalisa bahwa rahasia kemenangan panglima-panglima besar seperti Iskandar (Alexander The Great), Hanibal, Napoleon, Moltke Rommel dan Rundstedt, karena mereka menerapkan taktik perang atau menggunakan persenjataan baru yang belum pernah dikenal di dunia peperangan. (Ar-Rasuul Al-Qooid, 101)

          Sedangkan para Mujahidin Badar modern, khususnya pada dekade 1990-2000 pasca Perang Salib jilid III dan berdirinya Tatanan Dunia Baru (New Word Order), menurut Abu Mush’ab As-Suri ( Perjalanan Gerakan Jihad, 2009,31) mulai menerapkan  Jihad Individu. Fenomena ini terinspirasi oleh amaliyah istisyhad nya Sulaiman Al-Halabi yang berhasil membunuh jendral Kleber panglima Perancis yang memimpin penjajahan Al-Jazair saat berada di Mesir. Berbagai kalangan sipil, militer dan lembaga milik atau yang mendukung kaum Salibis terkena gerakan aksi serangan jihad individu.  Benih-benih perlawanan seperti ini menjadi poros terpenting bagi perlawanan di arena Badar Modern.


          Wallahu’Alam.



Penulis : 


  • Ust.Muntoha Bulqin

KABILAH “BONEKA” VS UMAT ISLAM

by 00.06



TRORIQUNA.ID,
 Siapa yang akan mencopot kekuasaanku, saya akan menghadapinya.” (Harits bin Abi Syamr al-Ghassani)

Itulah respon penguasa Damaskus, Harits bin Abi Syamr al-Ghassani ketika Rasulullah saw. melayangkan surat dakwahnya, “… Sesungguhnya aku menyerumu untuk beriman kepada Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Maka kekuasaanmu akan tetap bagimu.” (Ar-Rahiq Al-Makhtum, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung, Muhammad, Syeikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, 2012,533) Siapa rezim boneka Ghassan ini ?

          Pada era di mana bangsa Arab meninggalkan kabilah-kabilahnya, ada satu marga dari suku Qadha’ah pergi ke daerah ujung Syam dan tinggal di sana (selanjutnya dikenal sebagai marga Dhaja’imah). Bangsa Rum (Romawi) sengaja memperlakukan mereka dengan baik agar orang daratan Arab tidak bersikap main-main, dan mau menjadi cadangan kekuatan untuk melawan Persi (Persia). Akhirnya bangsa Rum mengangkat salah seorang dari mereka sebagai raja dan tahta ini diwarisi secara turun temurun hingga beberapa tahun, sejak awal abad kedua masehi hingga penghujungnya. Kekuasaan mereka berakhir setelah kedatangan suku Ghassan yang mengalahkan dan menguasai marga Dhaja’imah. Lagi-lagi bangsa Rum mengangkat pendatang baru ini sebagai raja di kota Bashra. Suku Ghassan terus memegang tampuk kekuasaan di Syam dengan statusnya sebagai boneka raja-raja Romawi, sebelum akhirnya pecah perang Yarmuk tahun 13 H. Raja terakhir mereka, Jabalah bin al-Ahyam memeluk Islam pada masa khalifah Umar bin Khaththab.

          Begitu penting mengungkap gerakan “Boneka” jahiliyah, sehingga Jabir Qamihah menyebutnya dalam barisan musuh klasik Islam  yang direkrut oleh para laskar Kristus. Apalagi wilayah Syam yang dikenal sangat berdekatan dengan Imperium Romawi sehingga mudah bagi para missionaris Nasrani mendakwahi suku Ghassan, Kalb, Qadha’ah, Jadzam dan Amilah untuk memeluk agama Nasrani bahkan menjadi kekuatan perang yang diandalkan bangsa Romawi. ( Jabir Qamihah, Musuh-Musuh Islam, 2004, 69)


Model “Boneka”

          Para Salibis-Zionis sadar, mereka tidak akan selamanya bisa bertahan di negeri jajahan. Oleh karena itu mereka menyiapkan penguasa boneka yang akan menjamin kepentingannya. Itulah yang diterapkan Romawi pada suku Ghassan, begitupula rezim Ghassan gaya baru: penguasa Arab hari ini, sebelum atau sesudah tragedi Arab Springs.

          Berbagai cara dilakukan untuk memelihara penguasa boneka, pertama, model Perancis,  penguasa boneka hanya pajangan. Mereka menyiapkan penguasa boneka dan menanam orang di belakang layar untuk mengendalikannya. Contoh penguasa boneka di Maroko. Kedua, model Inggris, mereka mengendalikan boneka dengan hukum dan konstitusi yang sudah disiapkan sebelumnya sehingga sesuai dengan visi penjajah. Jika penguasa melawan penjajah, ia akan membentur tembok konstitusi sehingga tumbang sendiri. Ketiga, model Inggris dan Amerika. Model Inggris, kendali dilakukan dari dalam istana dan konstitusional. Sedangkan model Amerika, jika ada penguasa yang tidak loyal kepadanya, dikirim pasukan untuk mengkudeta secara kasar. Contoh gaya cowboy Amerika di Amerika Latin dan Negara Islam Timur Tengah. (Mush’ab As-Suri, Visi Politik Gerakan Jihad, 2010)

          Masa kepemimpinan Rasulullah, rekutrmen, mata-mata, agen dan informan dari individu atau suku-suku tetap menjadi rangkaian proyek prioritas dari kerajaan Persia dan Romawi. Pada perang Tabuk, Ka’ab bin Malik merupakan salah satu dari tiga orang terkenal yang mengundurkan diri dari peperangan tersebut. Saat menjalani hukuman pengucilannya, rezim Ghassan, Jabalah bin al-Ahyam “merayu” agar Ka’ab murtad dari Islam dan menjadi penyair untuk melawan umat Islam.

          Abu Amir lebih keji lagi permusuhannya dengan Islam. Nama aslinya Abdu Amir bin Shaifi, pemimpin suku Aus yang dijuluki rahib setelah masuk Nasrani. Setelah semua rencananya gagal untuk membunuh Rasulullah dan menghancurkan umat Islam, ia meminta suaka pada Heraklius, rezim thoghut Romawi untuk menyusun siasat keji dengan orang-orang Munafik dengan cara mendirikan mesjid Dhirar, meskipun akhirnya dibakar atas perintah Rasulullah.

          Berikutnya, Sajah binti Harits dari Bani Yarbu, anggota Bani Tamim tetangga imperium Persia. Dialah perempuan pertama yang mengaku nabi setelah wafatnya Rasulullah. Siapa yang tidak kenal dengan Abu Lu’lu’ah ? Seorang Nasrani dan hamba saya Persia yang ditawan pada peperangan Nahawan. Khalifah Umar bin Khaththab menemui ajalnya di tangan orang ini. Melalui tangan-tangan mereka musuh-musuh Islam telah berhasil memunculkan gerakan murtad dan meningkatkan sentimen  kekabilahan. Orang-orang semacam Sajah dan Abu Lu’lu’ah di sepanjang sejarah selalu menjadi alat spionase dan propaganda seperti yang dilakukan imperium Persia.

          Prinsip yang diterapkan oleh musuh Allah untuk model penguasa boneka hanya satu: terjaganya kekuasaan,  bukan yang lain. Ubudiyah berubah menjadi milik penguasa bukan milik Allah. Sehingga penguasa menjelma menjadi berhala yang disembah selain Allah seperti yang terjadi di negeri Haramain, Saudi Arabia. (Syeikh Usamah bin Laden, At-Taujihat al-Manhajiyyah, 3 Idha’at ala Thariqil Jihad, Dari Usamah kepada para Aktivis, 2008)




Hancurnya Puzzle Boneka     

          Penguasa boneka yang berwala’ pada thaghut Romawi dan Persia dapat dihancurkan oleh Rasulullah dan sahabatnya pada perang Tabuk dan perang Yarmuk. Setelah itu menjelang kehancuran kekhalifahan Usmaniyah pada tahun 1924, para thaghut Salibis-Zionis mulai membagi-bagi wilayah Islam seperti kepingan puzzle, di antaranya dengan cara perjanjian Sykes-Picot dan Deklarasi Balfour serta perjanjian lainnya pasca Perang Dunia I-II sebagai strategi keji untuk menghancurkan Islam.

          Perjanjian Sykes-Picot yang ditanda tangani pada 16 Mei 1916 merupakan perjanjian rahasia antara thaghut Britania Raya (Inggris) , Perancis dan Rusia. Ketiga Negara itu berhasil membelah negara-negara Arab di bawah ketiak mereka. Deklarasi Balfour yang dikeluarkan pada 2 November 1917 oleh thaghut Inggris berhasil mendirikan Negara Israel di bumi Palestina yang diproklamasikan pada 1948.

          Sejak Desember 2010 sampai Agustus 2011 pengausa-penguasa boneka mulai dilanda gelombang revolusi oleh umat Islam untuk memprotes kebijakan mereka. Sehingga pada Januari 2011 thaghut  Zine al-Abidine Ben Ali  penguasa boneka Tunisia dilengserkan oleh umat Islam di negeranya. Thaghut Husni Mubarak penguasa boneka Mesir dilengserkan pada Februari 2011. Thaghut Muammar Gaddafi penguasa Libya tewas digantung umat Islam pada tahun 2013 menyusul thaghut Saddam Husein yang juga bernasib sama pada tahun 2013. Sedangkan thaghut Syiah Bashar Asad kekuasaannya sampai saat ini masih  diserang oleh umat Islam Sunni untuk membalas dendam atas kematian umat Islam Suriah. Thaghut Ali Abdullah Saleh dilengserkan pada tahun 2014. Masih banyak thaghut-thaghut boneka yang sedang dalam proses dibumi hanguskan oleh umat Islam.

          Peperangan melawan rezim boneka yang hingga saat ini masih berlangsung di berbagai kabilah-kabilah boneka yang berlindung di bawah ketiak Fir’aun Amerika mengisyaratkan pada kita bahwa perjanjian yang dulu dirancang untuk membelah negara-negara Islam di seluruh dunia semacam Sykes-Picot dan Balfour atau lainnya, kini sudah mulai hancur.

          Wallahu’alam.


 Penulis : 


  • Ust.Muntoha Bulqin




BENALU UMAT : Mentalitas Penjual Bangsa

by 01.23



THORIQUNA.ID - Siapakah yang tidak mengenal Abrahah Al-Asyram tokoh legendaris asal Yaman yang terkenal dengan pasukan gajahnya. Masa kejayaannya ditandai satu hal: Bagaimana caranya memindahkan ibadah Haji bangsa Arab dari Ka’bah di Mekah menuju Al-Qalis, gereja megah di Shan’a, Yaman. Kesombongannya membuat marah para pemuka Quraisy yang tidak terima bila rumah Tuhan mereka (Baitullah) diserupakan dengan Al-Qalis. Akibatnya, Al-Qalis pun dibakar dan diratakan dengan tanah oleh kaum Quraisy. Dari sanalah Abrahah diabadikan sebagai Asbabun Nuzul,  surat Al-Fiil.

            Muqatil bin Sulaiman meriwayatkan dalam tafsir Ibnu Katsir, “Kemudian Abrahah menyiapkan diri dan pergi dengan membawa pasukan yang cukup banyak dan kuat dengan seekor gajah yang sangat besar, yang diberi nama Mahmud. Dan Najasyi, raja Habasyah juga mengirimkan pasukan untuk hal yang sama.” Kedua rezim itu berencana membalas dendam atas hancurnya Al-Qalis, dengan meluluhlantahkan Baitullah (Ka’bah) di Mekah.



Mentalitas Abdul Muthalib

            Sebelum memasuki Mekah, Abarahah berhasil merampas 200 ekor ternak unta milik seorang rezim Quraisy Mekah, Abdul Muthalib. Maka terjadilah perundingan antara Abdul Muthalib dan Abrahah. Abrahah bertanya kepada Abdul Muthalib, “Ada perlu apa wahai Abdul Muthalib?” Abdul Muthalib menjawab, “ Permintaanku adalah agar dikembalikannya 200 ekor  unta yang telah engkau rampas.” Padahal Abrahah mengira Abdul Muthalib akan menanyakan perhal Baitullah yang ingin ia hancurkan. Abrahah menjawab, “Ketika aku melihatmu, aku merasa takjub dan segan terhadapmu. Namun, setelah mendengar permintaanmu tadi, semua anggapanku tentangmu menjadi sirna. Engkau sekarang tidak lagi berharga di mataku.” 

            Abrahah sangat meremehkan Abdul Muthalib dan menganggapnya hina. Sebab ia hanya membicarakan perihal 200 untanya yang dirampas dan tidak menyinggung perihal Baitullah sedikitpun. Abrahah berkata, “Apakah engkau hanya sibuk memikirkan 200 ekor untamu yang dirampas ? Sementara terhadap Baitullah yang menjadi simbol agamamu dan agama nenek moyangmu tidak engkau pedulikan. Sesungguhnya tujuanku ke sini adalah ingin menghancurkan dan meluluhlantahkannya.” Abdul Muthalib menanggapinya, “Sesungguhnya aku hanya pemilik unta-unta itu, sedangkan Baitullah (Ka’bah) itu mempunyai pemilik sendiri (Allah) yang akan selalu mempertahankannya.”

            Kemudian Abdul Muthalib kembali kepada kaum Quraisy dan memerintahkan mereka supaya keluar dari Mekah dan berlindung di puncak-puncak gunung karena khawatir akan terkena amukan bala tentara Abrahah.

            Respon Abdul Muthalib terhadap Abrahah merupakan sikap pasif  dan tidak wajar, yang menggambarkan seorang yang hidupnya karena sesuap nasi. Hanya karena menyambung hidup, anak-anak, unta dan kesenangannya. Dia tidak memedulikan agama Allah dengan asumsi bahwa Allahlah yang akan menjaganya.

            Tidak sedikit orang yang bermental seperti Abdul Muthalib dan masyarakatnya yang hidup di zaman ini. Mereka cemas dan tersiksa melihat musuh-musuh Allah menindas umat Islam. Lalu, hanya pasrah dan menyaksikan peristiwa itu dari kejauhan. Padahal sunnah (ketentuan) yang ada sudah jelas, “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Mentalitas Abu Jahal

            Tatkala perang Badar usai Rasulullah bersabda, “Siapa yang melihat apa yang terjadi dengan Abu Jahal ?” Orang-orang pun berpencar untuk mencarinya lalu dia ditemukan oleh Abdullah bin Mas’ud dalam keadaan sedang menanti detik-detik akhir  ajalnya. Lantas Abdullah bin Mas’ud menginjak lehernya  dan menarik jenggotnya agar dapat memenggal kepalanya. (Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad, Jakarta, Darul Haq, 2013,324)

            Dalam sakaratul maut, Abu Jahal bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud, “Untuk siapakah kemenangan hari ini ?” Abdullah bin Mas’ud menjawab, “ untuk Allah dan Rasul-Nya, Allah sungguh telah menghinakanmu .”  Namun orang yang kejam dan keras kepala itu berkata, “ Sampaikan salam kepada Muhammad bahwa aku tidak menyesali permusuhanku kepadanya, juga saat sekarang. (Abu Mush’ab As-Suri, Perjalanan Gerakan Jihad 1930-2002: Sejarah, Eksperimen dan Evaluasi, Solo, Jazeera, 2009, hal. 207-208)

            Setelah percakapan di antara keduanya selesai, Ibnu Mas’ud memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya ke hadapan Rasulullah saw., “Wahai Rasululllah saw., inilah kepala musuh Allah, Abu Jahal.” Beliau bersabda, “Benarkah, demi Allah yang tiada tuhan yang haq selain-Nya.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali, kemudian bersabda, “Inilah Fir’aun umat ini.”

            Bagaimana Abu Jahal, orang kafir yang telah kalah, jiwanya terancam, menderita kerugian, dan sudah pasti menuju ke neraka, tetap menunjukkan kesombongan, keteguhan, kebanggaan dan dedikasi terhadap apa yang diyakininya, meskipun dia sesat.

            Mental seperti Abu Jahal ini masih mendominasi di kalangan elit masyarakat kita, dari pemimpin tertinggi sang Presiden sampai terendah sang RT. Sudah tahu sesat masih dipertahankan bahkan dengan harga mati sekalipun.

Mentalitas Abullah bin Ubay

            Ibnu Ishaq mengatakan, Rasulullah datang ke Madinah yang penduduknya dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul al-Aufi. Tidak seorangpun dari suku Aus dan Khazraj yang berselisih tentang kemuliaannya. Suatu  peristiwa yang tidak pernah terjadi sebelum dan sesudahnya, sampai kedatangan Islam. Pengikut Abdullah bin Ubay bin Salul telah menyiapkan mahkota baginya dan akan mengangkatnya sebagai pemimpin mereka. Namun Allah mengutus Rasul-Nya dan mereka tertarik dengan ajaran baru tersebut. Karena itu, Abdullah bin Ubay bin Salul dengki dan berpendapat bahwa Rasulullah saw telah merampas kekuasaan darinya. Tetapi ia sendiri tidak sanggup menahan kaumnya berbondong-bondong memeluk Islam. Ia pun memeluk Islam dengan terpaksa dan terus menyimpan bara kedengkian dan kemunafikan dalam dirinya. (Shirah Ibnu Hisyam I/ 584-585, Dr. Jabir Qamihah, Musuh-Musuh Islam, Jakarta, Qisthi Press, 2004, hal.31)

            Dia adalah api dalam sekam. Ia tidak mungkin memerangi Rasulullah saw atau memusuhinya secara terang-terangan, karena mayoritas penduduk Madinah bergabung di bawah panji Islam. Ia juga tidak mungkin tetap dalam kekafiran karena akan mengucilkan dirinya sendiri dalam masyarakat bahkan anaknya sendiri, Abdullah. Namun, ia bisa melakukan tipu daya merencanakan pengkhianatan dan melakukan serangan mematikan pada kesempatan yang tepat. Hingga api dendam dan dengki yang memenuhi rongga dadanya dapat terpadamkan. Agar bisa melakukan itu semua, ia harus menjadi seorang “muslim”. Kedok Islam ini memungkinkannya untuk melakukan serangan sebanyak mungkin pada waktu yang tepat.

            Mental seorang Abdullah bin Ubay lebih berbahaya daripada seorang kafir, karena kemunafikan hakikatnya adalah kekafiran. Kemunafikan dilindungi oleh sebuah “benteng” yaitu Islam, meskipun hanya kulit luar belaka. Mental seperti Abdullah bin Ubay paling mendominasi dalam tubuh umat. Kolaborator Yahudi dan Musyrikin, namun tidak pernah dikeluarkan dari status orang Islam. Dia kerap lepas dari jerat hukum Islam, penampilannya meyakinkan, selalu berkata dengan multi makna dan berdiplomasi yang sukar ditandingi.

            Apa makna kehadiran mentalitas dari ketiga tokoh di atas? Dalam beragama dan bermasyarakat kita sering melihat mereka yang tangannya berlumuran darah umat, perut mereka penuh dengan uang hasil kemiskinan umat. Sedangkan otak mereka penuh korupsi, kolusi, nepotisme, “sajadah” dan “haram jadah”. Prinsip ketiga mentalitas itu, “tidak bisa memandang kebenaran kecuali bila keluar dari dirinya.”

            Dahulu Yudas Eskariot adalah benalu dalam dakwah nabi Isa as. Dahulu sepuluh saudara nabi Yusuf adalah benalu dalam keluarga nabi Ya’kub as, mereka sama baik dalam sejarah dan darahnya. Ada satu Musa dan satu Isa untuk satu Fir’aun, satu Samiri dan satu Yudas. Hari ini, ratusan Yudas, ratusan Samiri bahkan ratusan Fir’aun berkeliaran menjual aset bangsa dan membantai umat Islam. Mereka senantiasa dilindungi konstitusi dalam rangka kerja sama dengan “penadah” dan “penjarah asing.”


------------ Wallohu’alam -------------


Penulis : 


  • Ust.Muntoha Bulqin

KEMUNDURAN MASYARAKAT JAHILIYAH

by 21.35



          THORIQUNA.ID -  Masyarakat di setiap periode merupakan cerminan dari kepribadian-kepribadian sekumpulan orang-orang  yang menuntun generasi manusia di era tersebut.

            Fenomena ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, pemahaman dan akhlak yang berpengaruh besar pada pembentukan dan kejiwaan sebuah masyarakat, penanaman program ini lebih mengena daripada perintah yang ditetapkan   dan dilaksanakan dengan   kekuatan apapun nama dan bentuknya, baik kekuatan ekonomi dengan  kapitalisme dan neoliberalisme; kekuatan budaya dengan permisivismenya; kekuatan politik dengan demokrasinya; kekuatan agama dengan kesesatan atau bid’ahnya; bahkan kekuatan bersenjata.

            Kedua, keteladanan. Apabila keteladanan sudah menjadi bagian dari kehidupan, maka penanaman nilai apapun tidak akan mampu membentuk kepribadian sebuah masyarakat apalagi dengan tindakan represif atau pemaksaan.

            Oleh  karena itu, sistem, undang-undang atau aturan yang paling hebat sekalipun tidak akan mampu  berjalan dengan baik, karena para pemimpin dan masyarakatnya tidak pernah memiliki sikap ikhlas, qona’ah dan ridha. Sebaliknya mereka justru memiliki sikap bebal, suka berdalih, suka berkelit, bahkan memiliki sikap pengelakan yang luar biasa.

            Maka tidak heran Allah memerintahkan kita agar bercermin pada satu model kepribadian yang sudah pasti dan dijamin diridhai Allah,

            “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya.” (Al-Fath: 29)

            Apabila saat ini ita meyakini bahwa tidak akan pernah ada kehidupan tanpa dienul Islam dan kaum muslimin. Atau tidak akan pernah bisa menikmati karunia Allah tanpa ada iman dan kaum mukminin, maka ikatan dan standar pemahaman, akhlak dan keteladanan hanya satu   yakni Tauhid.

            “Dan ingatlah karunia Allah kepada kalian dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan  kalian, ketika kalian mengatakan: “Kami dengar dan kami taati.” Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati kalian.” (Al-Maidah:7)

            Inilah perjanjian yang telah diikat Allah dengan manusia, “Ketika kalian mengatakan: “kami dengar dan kami taati,”. Inilah perjanjian  Laa Ilaaha Ilallah, yang berkonsekuensi menerima dan menaati semua perintah dan larangan yang diturunkan Allah.

            Berbeda dengan sistem hidup jahiliyah modern yang menjadikan ikutan dan standar pemahaman, akhlak dan keteladanannya adalah kontrak sosial, hawa nafsu, dorongan seksual, materi, manfaat dan bermacam ikatan lainnya. Pada ahirnya ikatan-ikatan semua itu berguguran dan dekadensi moral menjadi karakter mereka, seperti kebobrokan sistem Jahiliyah yang mereka ibadahi.

            Bagaimana   kondisi masyarakat Indonesia  saat ini ? ketika dunia menyuguhkan berbagai pemandangan dan peristiwa besar yang muaranya menuju satu titik: Zaman Fitnah !  Atau ketika  Indonesia yang konon katanya—saat ini – sedang menuju masa terang dengan proyek revolusi mental nya, setelah sekian lama berada pada masa kegelapan. Begitupun dengan rpoyek Fiqih Kebhinekaan dan Islam Nusantara yang diluncurkan oleh para pengusung Jamaah Islam Liberal.

            Apakah masyarakat Indonesia bisa menjadi masyarakat yang maju dengan kepribadian Pancasialis ? Ataukahj masyarakat kita sedang terbawa oleh arus kemunduran yang saat ini dialami masyarakat dunia dengan sistem Jahiliyahnya ?

            Sebagai jawabannya, mari kita lihat berita dari imam Ahmad bin Hanbal dan imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Ketika imam Ahmad bin Hanbal merenungi kondisi zamannya, lalu ia melihat orang-orang  yang komitmen membela syariat Islam diabaikan, kemungkaran meningkat, ahli bid’ah diberi kekuasaan, dan semua urusan diserahkan kepada orang yang tidak laiak menerimanya. Lalu Imam Ahmad berkata kepada masyarakatnya, “Apabila kalian pada hari ini melihat sesuatu   yang lurus, maka kalian merasa heran ! “
           
Kitapun akhirnya mengerti, mengapa saat ini apa     yang dikatakan imam Ahmad menjadi kenyataan. “Heran, ulama  yang lurus  malah dipenjara.” “Heran, orang-orang yang mau berjihad dengan harta dan jiwanya malah dipenjara.” “Heran, para pedagang yang jujur malah  dibikin bangkrut.” “Heran, para politisi yang ingin menyuarakan syariat Islam malah dipenjara.” “Heran, para ekonom yang jujur malah dikebiri.” “Heran, para   hakim yang berkata  benar malah dibunuh.” “Heran, para  industrialis yang jujur malah dipasung.”  Dan berjuta keheranan lainnya.
            Mengapa imam Ahmad membisikan pada kita dengan ungkapan Heran ?  Karena, hawa nafsu telah mengalahkan kebaikan-kebaikan iman dalam membersihkan jiwa-jiwa manusia. Sehingga seseorang     disebut sangat pandai,sangat bersemangat dan sangat tegar. Padahal dalam hatinya tidak ada iman sebiji atompun. Sehingga orang-orang zhalim memangku jabatan-jabatan kementrian dan pada pusat-pusat pemerintahan, sedangkan    orang-orang bodoh menjadi pemimpin majelis-majelis Ilmu.

            Ibnul Qayyim bertutur pada kita bagaimana setan menemukan sejumlah orang yang mengikutinya. “setan membentuk satu partai dari golongan mereka yang mendukung dan loyal kepadanya untuk menentang    Tuhan mereka. Dan mereka itu adalah musuh-musuh Allah di samping musuh-musuh setan. Mereka mengajak  untuk membenci Allah, menciderai        Rububiyyah Allah, Uluhiyyah Allah dan Keesaan Allah, mengumpat Allah, mendustkan Allah, mengumpat Allah, mendustakan Allah, memfitnah para wali Allah, menganiaya para wali-wali Allah, dan mendirikan Negara untuk golongan para setan sendiri.”

            Yang   menarik dari pemaparan Ibnul Qayyim ini seolah-olah ia menggambarkan pertarungan saat ini antara  harokah Islamiyyah dan front Jahiliyah. Sama seperti   yang dialami generasi Ibnul Qayyim dan apa yang dialami oleh kelompoknya Imam Ahmad.

            Pertarungan hari ini adalah pertarungan politik partai terorganisir untuk mendirikan Negara Jahiliyah, bahkan mereka telah mendirikannya. Pertarungan mereka terus berlanjut untuk    mempertahankan kedudukan negara dengan sistem Jahiliyah, menguatkannya dan mendidik generasi-generasi baru dengan kekufuran.

            Itulah gambaran sebuah masyarakat     yang oleh imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnul Qayyim disebut sebagai Masyarakat yang Mengalami Kemunduran.

            “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” (An-Nahl: 112)

            Sehebat apapun program dan usahanya, apakah ia  bernama revolusi    mental atau fiqih kebhinekaan atau Islam  nusantara wujudnya. Apabila     tidak    diikat dengan Tauhid, maka akan melahirkan masyarakat   Jahiliyah. Sehingga sejarah mencatatnya sebagai generasi   kekufuruan baru. Artinya,  dalam      konteks Indonesia, masyarakat kita tengah mengalami kemunduran seperti yang saat ini terjadi pada masyarakat   Barat  yang  notabene kafir.

Wallohu’alam.


Penulis : 

  • Ust.Muntoha Bulqin
Diberdayakan oleh Blogger.