Featured

TUJUAN DI TURUNKANNYA SYARIAT ISLAM

by 20.05

Thoriquna.id - Ada lima tujuan Allah SWT menurunkan syariatNya yang kemudian kita kenal dengan MAQASHIDU SYARIAT, Tujuan di wahyukanya syariat oleh Allah SWT,  yaitu :

1. Dalam rangka hifzudin, Menjaga agama islam
Agama islam akan terpelihara dengan baik, bahkan juga agama-agama yang lain akan di hormati dengan cara yang benar. Di dalam syariat islam agama akan terjaga.

2. Menjaga jiwa manusia, Hifzhun nafsi
Jiwa manusia akan terjaga dengan syariat Allah SWT, agar seluruh jiwa manusia ini terjaga dengan baik, tidak mungkin ada pertumpahan darah, tidak mungkin ada jiwa manusia yang melayang dengan harga yang murah, jika syariat Allah SWT itu tegak. Dia pasti pasti terjaga. Baik muslim atau non muslim, baik orang yang beriman atau orang kafir.

Saudaraku yang in syaa Allah di muliakan oleh Allah SWT, Itulah mengapa salah satu fungsi di dalam ajaran islam di katakan al imamu junah, Pemimpin adalah tameng bagi warga negaranya. Pemimpin akan menjaga seluruh warganya, akan melindungi seluruh warganya, setiap kali ada warga negaranya mendapat ancaman akan menjadi tamengnya.
Pemimpin itulah yang akan melindunginya, dan islam mengatur itu semua, pemimpin memiliki fungsi bagaimana menjaga warga negaranya.

Saudaraku yang in syaa Allah di muliakan oleh Allah SWT, kalau kita lihat dari poin tentang Maqashidu syariat, yaitu yang berkenaan dengan terjaganya jiwa, Kemudian pemimpin menjadi tameng warga negaranya, Saya rasa tidak mungkin ada peristiwa yang menyedihkan seperti di wamena misalnya. Begitu banyak orang-orang yang tak berdosa, begitu banyak kaum muslimin yang tertumpah darahnya, dan ternyata negara tidak hadir di sana. Ini sebagai salah satu koreksi di mana syariat islam tidak di jalankan sebagai mana mestinya, bahkan menolak syariat Allah SWT.

3. Menjaga keturunan
Tidak boleh ada manusia yang lahir tanpa jelas keturunannya. Itulah salah satu syariat Allah di turunkan, maka syariat Allah SWT mengharamkan perzinahan. Tidak ada lagi manusia yang lahir di luar pernikahan yang tidak jelas nasabnya. Di turunkannya syariat Allah SWT untuk memelihara nasab manusia, terpelihara nasabnya sampai orang tuanya dan seterusnya.

4. Menjaga harta
5. Dan menjaga akal manusia
Dalam menegakan syariat islam, Tidak ada lagi jiwa-jiwa yang melayang dengan harga yang murah tanpa sebab yang benar.


Semoga kita di beri kemampuan oleh Allah SWT untuk menegakan syariat islam, sehingga tidak ada lagi jiwa-jiwa yang melayang dengan harga yang murah tanpa kesalahan apapun.

Maka dengan tegaknya syariat islam AGAMA TERJAGA, JIWA TERJAGA, KETURUNAN TERJAGA, HARTA TERJAGA dan AKAL TERJAGA DENGAN BAIK.

Barakallahi wa lakum.


oleh : Ust. HAF Al Batawy

TAAT BERAGAMA BUKAN RADIKAL

by 19.26

Thoriquna.id - Sebenarnya, apa arti radikalisme? Menurut para ahli, Pengertian Radikalisme adalah suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ ekstrim.
Inti dari tindakan radikalisme adalah sikap dan tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Kelompok radikal umumnya menginginkan perubahan tersebut dalam tempo singkat dan secara drastis serta bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku.

Radikalisme sering dikaitkan dengan terorisme karena kelompok radikal dapat melakukan cara apapun agar keinginannya tercapai, termasuk meneror pihak yang tidak sepaham dengan mereka. Walaupun banyak yang mengaitkan radikalisme dengan Agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah politik dan bukan ajaran Agama.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menyaksikan  atau mendengar seseorang diberi label tertentu karena cara berpakaiannya yang berbeda dengan orang kebanyakan.  Misalnya,  perempuan yang memakai cadar yang menutup seluruh wajahnya,  atau pria yang memakai celana cingkrang dan memanjangkan jenggotnya langsung di tudih sebagai Radikal

Isue radikal sedang menjadi tranding topic belakangan ini,  karena banyaknya aksi - aksi kekerasan yang terjadi yang mengatas namakan agama yang berakar dari paham radikal. Dan karena mayoritas di negeri ini penduduknya beragama Islam maka yang terpapar radikal adalah orang Islam walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa paham radikal juga bisa terpapar terhadap penganut agama diluar Islam.  Jika ukuran radikalisme adalah mencapai tujuan dengan jalan kekerasan dan sangat intoleran terhadap komunitasnya maka peristiwa di Wamena juga dilakukan oleh kelompok Radikal.

Radikalisme menurut hemat saya pasti bukan dari Islam. Maka dengan rasa keadilan yang penuh siapapun termasuk pihak pemerintah tidak boleh sama sekali mengkaitkan hal ini dengan ajaran Islam.  Di dalam sebuah agama apapun agamanya orang pasti ingin menjadi orang yang taat dalam agamanya. Jika orang yang taat beragama serta merta dibilang radikal,  maka berapa banyak orang yang radikal di muka bumi ini?

Taat dalam beragama dan radikal sangat berbeda.  Radikal hampir selalu berkonotasi negatif,  sering disamakan dengan teroris. Sedang orang yang taat dalam beragama adalah orang yang tunduk terhadap aturan agamanya.  Bagi orang islam tunduk terhadap aturan Allah yaitu agama Islam yang bersifat pertengahan (tawassuth), penuh dengan keadilan dan rahmatan lil alamiin dan sangat toleran dengan berbagai perbedaan.

Memerangi paham radikal tidak boleh dengan cara yang radikal. Jika pemerintah menginginkan sikap toleransi bagi seluruh penganut agama resmi di negeri ini dengan menghormati masing-masing keyakinannya, maka seluruh aparat di negeri ini harus menjadi contoh praktek toleransi yang benar.  Mari sama-sama kita hormati keyakinan dan praktek beragama yang beragam di negeri ini. Orang-orang islam yang menjalankan syari’atnya dengan benar dan tidak memaksakan kehendaknya terhadap orang lain harus dilindungi dan jangan diusik.  Jika kita adil dalam memberantas radikalisme maka cepat atau lambat radikalisme akan semakin berkurang di negeri ini.  Tapi jika kita memberantas radikalisme dengan cara radikal dan tidak dengan keadilan saya khawatir akan membuat semakin subur berkembangnya paham radikal di negeri ini.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِا لْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 8)

Walhamdulillahi Rabbil alamin.

oleh : Ust. HAF Al Batawy

SIKAP ORANG BERIMAN DALAM MENGHADAPI MASALAH

by 21.35


مَاۤ اَصَا بَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

(QS. At-Taghabun 64: Ayat 11)

Seorang yang beriman ketika menghadapi suatu musibah tidak akan mengeluh dan berputus asa, karena segala musibah apapun yang menimpa dirinya sudah merupakan ketetapan Allah SWT, dan dia merasa yakin kalau Allah SWT akan memberinya petunjuk yang terbaik bagi dirinya. dengan demikian maka hatinya akan selalu sabar dalam menghadapi musibah yang datang kepadanya.

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:

“Seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”

Seperti itulah seharusnya sikap dari seorang yang beriman yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya. bahwa yang namanya musibah itu akan menimpa pada siapa saja baik orang yang beriman maupun orang kafir, hanya saja dalam mensikapinya yang berbeda, orang yang beriman akan sabar dan tabah dalam menghadapinya, dengan demikian maka dapat meringankan beban yang sedang di hadapinya.

Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut."

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا فِى ابْتِغَآءِ الْقَوْمِ ۗ اِنْ تَكُوْنُوْا تَأْلَمُوْنَ فَاِ نَّهُمْ يَأْلَمُوْنَ كَمَا تَأْلَمُوْنَ ۚ وَتَرْجُوْنَ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا يَرْجُوْنَ ۗ وَ كَا نَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

"Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."

(QS. An-Nisa' 4: Ayat 104)

Semoga kita di berikan sikap ridha dan ihtisab dalam menghadapi segala bentuk cobaan.Aamiin Ya Rabbal alamin

Allahu alam.

oleh : Ust. HAF Al Batawy

PENYAKIT MENULAR IBLIS

by 21.09

Thoriquna.id - Kita sudah tahu bagaimana bahaya dari sebuah kesombongan, Al Kibru, yaitu dimana sebuah penyakit yang awalnya dari iblis Laknatullah alaihi kemudian bisa menular pada manusia, di mana iblis ketika di perintah oleh Allah SWT untuk tunduk menghormati Adam alaihi salam tetapi iblis menunjukan kesombonganya.


Bahkan iblis mengatakan :

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ...

"...Saya lebih terhormat dari Adam, Saya di ciptakan dari api sementara Adam dari tanah."
(Al-A’raf-12)

Ini adalah awal dari sebuah kesombongan, Jika menular pada manusia maka manusia akan menjadi orang yang sombong.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu."
(HR. Muslim)

Allah SWT berfirman:


سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ وَاِ نْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَا ۚ وَاِ نْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۚ وَّاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَا نُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ

"Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya."

(QS. Al-A'raf 7: Ayat 146)


Jadi jelas bahwa orang yang sombong itu tidak akan mendapat hidayah dari Alllah SWT
- Mereka akan di palingkan dari ayat Allah
- Mereka tidak Akan mengerti tentang ayat Allah
- Mereka tidak akan mau mengimani ayat Allah


Inilah orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi, kemudian di ayat itu di katakan

وَاِ نْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْ

Diperlihatkan, Dibacakan, Di jelaskan, tentang ayat Allah SWT tapi orang yang ada sombong dihatinya mengatakan "La yuminu biha",  Mereka tidak akan pernah mengimani ayat-ayat Allah itu.

Jadi orang yang sombong itu akan di jauhkan dari kebenaran, karena orang yang sombong itu "Batarul haq", Menolak sebuah kebenaran.


Kemudian dalam ayat ini juga dikatakan

وَاِ نْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا

Jika di tunjukan Jalan yang haq mereka tidak mau mengikuti Jalan itu.


Saudara-saudaraku, betapa banyak orang yang ketika di tunjuki jalan islam mereka tolak, Tapi ketika di tunjuki jalan kekufuran mereka mengambilnya. Dan ini adalah akibat dari sebuah kesombongan. Sehingga mereka tidak mau mengambil jalan yang benar. Tapi justru mengambil jalan yang salah.

Kemudian di lanjutkan dalam ayat ini

 وَّاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ

Jika ditunjuki jalan kesesatan

يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا

Dan mereka cepat-cepat mengambil jalan itu


Inilah orang-orang yang memiliki sifat sombong, Orang-orang yang tertular penyakit dari iblis, Sehingga di jauhi dari ayat-ayat Allah, mereka tidak akan beriman dengan ayat-ayat Allah, mereka tidak akan mengambil islam sebagai pegangan hidupnya, Tapi mereka sangat ridlo dan rela mengambil selain dari pada jalan islam.

Semoga kita di jauhi dari sifat sombong dan kita menjadi orang yang sangat peka terhadap jalan kebenaran.Kita ikuti jalan kebenaran dan kita jauhi jalan-jalan kesesatan.


Barakallahi wa lakum..



oleh : Ust. HAF Al Batawy

DUA KONDISI ORANG YANG BERIMAN

by 04.49

THORIQUNA.ID - Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallaahu 'alaihi wa salam, kepada keluarganya, Sahabatnya dan kepada kita semua yang selalu senantiasa mengikuti ajarannya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu :

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”(HR Muslim)

Dalam hadits tersebut dikatakan bahwasanya seorang mukmin itu, di liputi oleh dua keadaan

1. Jika dia mendapat kenikmatan atau kesenangan dia bersyukur

2. Jika di timpa keburukan atau kesusahan dia bersabar

Allah SWT berfirman dalam surat luqman ayat 31

اَلَمْ تَرَ اَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللّٰهِ لِيُرِيَكُمْ مِّنْ اٰيٰتِهٖ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّـكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur."
(QS. Luqman 31: Ayat 31)

Pada hakikatnya bersyukur itu untuk diri kita sendiri.Dan begitu juga apabila tidak bersyukur atau kufur itu juga untuk diri kita sendiri Sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam surat luqman ayat 12

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗ وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِ نَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِ نَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

"Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji."
(QS. Luqman 31: Ayat 12)

Adapun bersabar bukan sekedar bersabar saja, tapi juga harus diperkuat kesabarannya.

Allah SWT berfirman

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَا بِرُوْا وَرَا بِطُوْا ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 200)

Demikianlah,semoga kita semua di jadikan oleh Allah SWT.Menjadi hamba yang pandai bersyukur dan bersabar....

Allahu alam.


oleh : Ust. HAF Al Batawy

Penyebab hilangnya kenyamanan suatu Negri

by 01.04

THORIQUNA.ID - Masih ingat dengan lagunya Koes Plus yang dimana menyanjung tentang negri ini.??
Dalam syair lagunya Koes Plus mengatakan  " Bukan lautan tapi kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman",  Begitu sangat besar dan indahnya melihat negri ini, Bahkan kita tau ada semboyan yang menyebut negri ini dengan kalimat " GEMAH RIPAH LOH JINAWI TENTREM KERTO RAHARJO".

Negri ini adalah negri yang begitu indah, damai, tentrem.. LUAR BIASA..  Itulah lukisan tentang Negri Republik Indonesia. Akan tetapi kalau kita lihat kenyataanya hari ini, di mana seakan-akan keamanan itu telah tiada lagi. Banyak orang yang ketakutan tinggal di negri ini.

Kemudian juga pohon-pohon banyak yang menjadi mati. bahkan tongkat dan kayu bukan lagi menjadi tanaman, tapi tanaman yang menjadi kayu, kebakaran hutan dan sebagainya. Kenapa kemudian terjadi perubahan yang sangat besar sekali, kalau mau kita katakan dan kita bandingkan Indonesia di masa lalu dengan sekarang, apa penyebabnya..??

Apakah sekarang Indonesia dihuni oleh orang-orang yang bodoh?? orang-orang yang tidak mengerti mengelola negri ini.?? Tentunya tidak.. kita lihat orang-orang pintar semakin bertambah, negri ini di kelola oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup, kalau begitu apa penyebabnya.??

Kita bisa membaca dalam satu firman Allah SWT dalam surat an nahl ayat 112
Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَا نَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَا نٍ فَكَفَرَتْ بِاَ نْعُمِ اللّٰهِ فَاَ ذَا قَهَا اللّٰهُ لِبَا سَ الْجُـوْعِ وَا لْخَـوْفِ بِمَا كَا نُوْا يَصْنَعُوْنَ

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 112)

Allah membuat satu perumpamaan, Perumpamaan apa..??

Perumpamaan sebuah قَرْيَةً,  Perumpamaan sebuah negri, di mana negri ini dahulunya merupakan Negri yang sangat indah, yang rizkinya datang dari berbagai tempat, yang warganya hidup tentram dan aman.

Akan tetapi Allah SWT mengatakan

" Mereka kufur dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat".


Saudaraku yang insyaa Allah di muliakan oleh Allah SWT, kita temukan jawaban dalam Al Qur'an, dimana saja, termasuk di negri kita, dimana terdapat perubahan yang drastis, yang dahulu aman kemudian jadi tidak aman, yang dahulunya sejahtera kemudian tidak menjadi sejahtera, yang dahulunya warganya terjaga keamananya jadi tidak terjaga keamanannya.

Ada satu penyebabnya, sebabnya karena penduduk negri ini banyak yang kufur kepada nikmat Allah, mereka tidak lagi mensyukuri nikmat Allah, baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk nilai yaitu nikmat IMAN DAN ISLAM.

Banyak orang yang sudah melupakan nikmat ini. Semoga kita di jadikan ABDAN SYAKURO, Hamba yang pandai bersyukur.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin.


oleh : Ust. HAF Al Batawy

AMANAH IBADAH

by 04.38

THORIQUNA.ID - Saudaraku yang Insyaa Allah di muliakan  Allah SWT. Berdasarkan surat Al Ahzab ayat 72 ada tiga amanah yang Allah tawarkan kepada manusia, yang sebelumnya di tawarkan kepada langit, bumi dan juga kepada gunung, mereka semua menolak amanah itu.

Yang pertama adalah amanah beribadah pada Allah SWT, sebagaimana yang Allah jelaskan pada surat Az-Zariyat ayat 56 :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)


Inilah amanah yang pertama dan yang utama. Menjadi hamba Allah, beribadah kepada Allah SWT, disetiap saat di setiap detik kehidupan. Apapun yang di lakukan harus bernilai ibadah disisi Allah SWT, agar dia tergolong orang-orang yang menjalankan amanah itu.

Apa yang harus di lakukan atau syarat apa yang harus di penuhi agar hidup dan kehidupan manusia bernilai ibadah, dan kemudian dia termasuk orang yang menjalankan amanah Allah SWT.??
Ada tiga syarat yang harus di penuhi.

Pertama Menata motivasi kehidupannya. MOTIVASI  yang benar adalah Motivasi karena Allah SWT terhadap apapun yang di lakukanya. Sebagaimana yang di jelaskan dalam Al Quran

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ 

"Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,"
(QS. Al-An'am 6: Ayat 162)


Jadi, syarat pertama yang harus di penuhi seorang mukmin agar dia termasuk orang yang menjalankan amanah Allah SWT adalah MOTIVASI.

Dengan melakukan motivasi yang benar karna Allah SWT, baik ibadah maghdah, termasuk shalat, Puasa atau yang lainya, aktivitas dalam bekerja, dan dalam melaksakan aktivitas yang lain harus karna Allah, tidak karena yang lain. Itu adalah syarat yang pertama.


Kemudian syarat yang kedua adalah APLIKASI

Aplikasi pelaksanaanya harus benar, yaitu pelaksanaanya yang sesuai dengan apa yang di contohkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam. Sebagaima yang Allah sebutkan dalam surat Al Ahzab ayat 21

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ 

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)


Jadi disamping motivasi yang benar karna Allah SWT dalam menata hidup dan kehidupanya, yang kedua adalah pelaksanaan dalam hidup kehidupanya, apapun yang di lakukanya bersungguh-sungguh untuk mencontoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam.


Dan yang ketiga adalah ORIENTASI

Orientasi yang tidak lain dan tidak bukan adalah mencari kebahagian negri akhirat. Sebagaimana Allah tegaskan dalam surat Al Qashas : 77


وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)


Barakallahi wa lakum..



oleh : Ust. HAF Al Batawy
Diberdayakan oleh Blogger.